Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Pernyataan Bahlil tentang RDMP Balikpapan yang beroperasi dengan penghematan Rp. 60 triliun dan menghentikan impor bahan bakar solar pada tahun 2026 dan bensin pada tahun 2027 adalah hal yang menyesatkan

waktu baca 3 menit
Senin, 19 Jan 2026 06:25 17 Catra

Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahwa dengan beroperasinya Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina Balikpapan 360 MB dapat menghemat Rp 60 triliun dan akan mulai menghentikan impor solar pada pertengahan tahun 2026 dan menghentikan impor bensin pada paruh kedua tahun 2027 merupakan pernyataan yang sangat menyesatkan masyarakat.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Pernyataan itu disampaikan Bahlil di hadapan Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan pengoperasian RDMP Pertamina RU V Balikpapan, Senin (12/1/2026).

Hal tersebut diungkapkan Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman, Senin (19/1/2026) di Jakarta.

Menurut Yusri, pernyataan Bahlil seolah hanya memberi kesan surga bagi presiden dan menyesatkan masyarakat.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Pasalnya, sejak mandat biosolar B30 diterapkan pada 2018, Pertamina sudah tidak lagi mengimpor solar, kata Yusri.

Padahal, lanjut Yusri, dengan adanya wajib B40 dan jika seluruh kilang Pertamina sehat, maka produksi solar sudah berlebihan.

Apalagi jika mandatori B50 diterapkan, tentu kilang-kilang Pertamina akan kelebihan solar yang cukup banyak, lanjut Yusri.

Bahkan, jelas Yusri, Pertamina terpaksa mengimpor solar pada tahun 2023 karena Kilang Balikpapan hampir 10 bulan berhenti beroperasi akibat proses integrasi RDMP yang tertunda dan diperparah dengan terjadinya kebakaran CDU IV pada saat start up yang menyebabkan kolom fraksionator sedikit miring saat itu.

Dikatakan Yusri, jika kolom miring tersebut diganti maka proyek RDMP harus mengeluarkan tambahan biaya sekitar Rp 7 triliun sehingga harus dilakukan perbaikan dan tentunya penambahan kapasitas 100 ribu barel per hari diragukan bisa maksimal.

Jadi akibat fatalitas CDU IV pada 25 Mei 2024, akan berdampak besar pada keandalan kilang RDMP Balikpapan. Apakah bisa beroperasi pada kapasitas penuh? Itu pertanyaan besar yang harus bisa dijawab oleh manajemen Pertamina, jelas Yusri.

Selain itu, “Pertamina harus menjelaskan kenapa PT Kilang Pertamina International bisa merugi sekitar USD 2,3 miliar pada tahun 2024 dan kerugian sekitar USD 1,7 miliar pada tahun 2025,” tanya Yusri.

Lebih lanjut Yusri mengungkapkan, pernyataan Bahlil bahwa dengan beroperasinya RDMP Pertamina Balikpapan bisa menghemat Rp60 triliun karena ada tambahan produksi 100.000 barel per hari berupa Pertalite Ron 90, Pertamax Ron 92 dan solar, patut dipertanyakan kebenarannya dan apa dasar perhitungannya.

“Karena permasalahan mendasar kita saat ini adalah defisit hulu akibat lift minyak hanya berkisar 600.000 barel per hari untuk bahan baku kilang, sedangkan konsumsi BBM saat ini dikatakan mencapai 1,6 juta barel per hari, tentu defisit tersebut menyebabkan angka impor kita tetap di angka 1 juta barel per hari dalam bentuk minyak mentah dan BBM,” jelas Yusri.

Jadi, kata Yusri, dengan beroperasinya RDMP Balikpapan maka impor BBM Indonesia akan berkurang, namun impor minyak mentah masih meningkat dibandingkan sebelumnya.

Sementara itu, seperti dilansir berbagai media, Senin (12/1/2026), Bahlil menyatakan salah satu alasan dijalankannya RDMP adalah potensi penghematan devisa negara lebih dari Rp 60 triliun per tahun.

Bahlil mengatakan penghematan tersebut ditopang perbaikan kilang melalui fasilitas Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC), sehingga kapasitas kilang Pertamina Balikpapan meningkat dari sebelumnya 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari.

Lebih lanjut Bahlil mengatakan, kapasitas produksi solar dan bensin sudah meningkat sehingga ia berharap pada pertengahan tahun 2026 Indonesia tidak perlu melakukan impor.

Bahlil juga menyatakan, melalui optimalisasi RDMP Balikpapan, produksi bensin dengan nilai oktan di atas RON 90 dapat ditingkatkan sebesar 28,9 kilo liter per tahun, RON 92, RON 95, dan RON 98 dapat ditekan hingga sekitar 3,6 juta kilo liter per tahun.

Sedangkan menurut Bahlil, kebutuhan nasional mencapai 38,5 juta kilo liter per tahun, kebutuhan tersebut terdiri dari bensin RON 90 sebanyak 28,9 juta kilo liter per tahun, RON 92 sebanyak 8,7 juta kilo liter per tahun, serta RON 95 dan RON 98 sekitar 650 ribu kilo liter per tahun.

“Ke depan melalui penerapan E (Etahnol) 10 kita dapat menghemat impor hingga 3,9 juta kilo liter per tahun dan melalui pengembangan kilang lebih lanjut kita dapat menghentikan impor bensin RON 92, RON 95 dan RON 98 serta mengurangi impor RON 90,” pungkas Bahlil.

Simak berita dan artikel lainnya di Google Berita



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *






Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg