Sejarah pergerakan Indonesia tidak lahir dari garis lurus. Ia tumbuh dari persilangan ide, pertarungan gagasan, dan pencarian bentuk keadilan. Salah satu episode paling menentukan adalah kemunculan SI Merah — faksi komunis dalam tubuh Syarikat Islam. Fenomena ini bukan sekadar penyimpangan ideologis, melainkan cermin dari kegelisahan zaman, kelenturan organisasi, dan dahaga rakyat terhadap keadilan sosial. Dari rahim yang sama, lahir tiga arus besar: Islam politik, nasionalisme, dan komunisme.
Syarikat Islam bermula bukan sebagai partai politik, melainkan asosiasi pedagang Muslim. Didirikan oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada 1911, organisasi ini bertujuan melindungi pedagang pribumi dari dominasi jaringan dagang perantara Tionghoa yang kala itu dekat dengan struktur kolonial.
Ketika kepemimpinan beralih ke H.O.S. Tjokroaminoto, SI menjelma menjadi sesuatu yang lebih besar:
bukan sekadar koperasi dagang, melainkan gerakan rakyat berbasis Islam.
Untuk pertama kalinya, rakyat pribumi mengenal organisasi modern dengan disiplin, kongres, keanggotaan, dan struktur nasional.
SI pun meledak. Dalam beberapa tahun, anggotanya mencapai ratusan ribu. Ia menjadi organisasi massa pertama dalam sejarah Indonesia modern. Islam memberi daya ikat moral, sementara penderitaan kolonial memberi bahan bakar emosi kolektif.
Pada saat yang sama, arus lain memasuki Hindia Belanda: sosialisme revolusioner.
Tokohnya adalah Henk Sneevliet, seorang aktivis kiri Belanda yang mendirikan ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging) pada 1914.
Sneevliet memahami satu hal penting:
revolusi tidak mungkin lahir tanpa basis massa pribumi.
Dan di Hindia Belanda, tak ada wadah massa yang lebih besar dari SI. Maka dimulailah strategi yang halus: mendidik kader muda SI dengan literatur sosialisme, kelas-kelas diskusi, dan propaganda buruh.
Beberapa kader muda SI yang cerdas dan radikal tertarik:
Mereka tetap mengaku Muslim, tetap aktif di SI, tetapi mulai menafsirkan Islam sebagai agama perjuangan kaum tertindas. Dari sinilah benih SI Merah mulai tumbuh.
Menariknya, SI Merah tidak serta-merta menolak Islam.
Mereka justru memadukan dua narasi:
Bagi kaum muda SI, komunisme tampak sebagai alat perjuangan yang lebih ilmiah, sementara Islam menjadi roh pembakar semangat.
Perpaduan ini menjadikan SI Merah sangat efektif menarik:
Kota Semarang menjadi basis utamanya. Di sana, SI Merah tampil lebih militan, lebih terorganisir, dan lebih berani menantang kolonial.
Perbedaan orientasi ini akhirnya melahirkan istilah populer:
Pertentangan bukan hanya soal ideologi, tetapi juga soal arah perjuangan:
Kolonial Belanda mengamati dengan cemas. SI Merah dianggap lebih berbahaya karena menyasar basis produksi ekonomi kolonial.
Ketegangan internal memuncak pada Kongres SI 1921–1923.
Tjokroaminoto mengeluarkan keputusan tegas:
Anggota SI dilarang merangkap keanggotaan dalam organisasi komunis.
Ini ultimatum politik.
SI Merah menolak.
Mereka memilih keluar.
Tahun 1920–1924, SI Merah bertransformasi penuh menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).
Sejak itu, SI melanjutkan jalan sebagai Partai Sarekat Islam, sedangkan SI Merah menjelma menjadi kekuatan kiri paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia.
Perpecahan ini mengakhiri satu fase, tetapi melahirkan babak baru perjuangan ideologis bangsa.
Ada satu ironi sejarah yang selalu dikutip:
di rumah kos Tjokroaminoto di Surabaya, pernah tinggal tiga murid dengan jalan berbeda:
Tiga jalan besar politik Indonesia lahir dari satu atap yang sama.
Ini menunjukkan bahwa SI bukan sekadar organisasi, tetapi laboratorium ideologi bangsa.
Fenomena SI Merah mengajarkan satu pelajaran penting:
Ketika rakyat tertindas mencari keadilan, mereka akan merangkul ide apa pun yang menawarkan harapan.
Islam memberi identitas, komunisme memberi struktur perlawanan.
Penyatuan keduanya mungkin hanya sesaat, tetapi dampaknya membentuk sejarah panjang Indonesia: dari pemberontakan buruh, pergerakan kiri, hingga tragedi politik 1965.
SI Merah bukan anomali.
Ia adalah gejala zaman — lahir dari kolonialisme, kemiskinan, dan pencarian bentuk perjuangan yang paling efektif.
Syarikat Islam pernah menjadi rahim tempat berbagai ide besar tumbuh.
Nasionalisme, Islam politik, dan komunisme — tiga arus yang kelak saling bertarung — pernah duduk semeja, belajar dalam satu rumah, dan berjuang dalam satu organisasi.
Sejarah SI Merah mengingatkan kita bahwa ideologi tidak lahir di ruang steril.
Ia tumbuh di ladang penderitaan rakyat.
Dan selama keadilan sosial masih menjadi janji yang tertunda, sejarah semacam itu akan selalu mungkin terulang — dengan nama dan baju yang berbeda.
Tidak ada komentar