Fusilatnews – Saya, Anda, dan dia—berbeda agama, berbeda suku, bahkan berbeda bangsa—lahir ke dunia tanpa pernah memilih garis awal. Kita tidak memilih rahim siapa yang melahirkan kita, bahasa apa yang pertama kali kita dengar, kitab apa yang mula-mula diperkenalkan sebagai kebenaran. Namun satu hal yang nyaris selalu kita sepakati: kita semua diciptakan. Dan jika diciptakan, maka mustahil tanpa Pencipta.
Di titik inilah logika sederhana tapi sering dihindari muncul: jika manusia satu bumi ini diciptakan oleh Tuhan, mungkinkah Tuhan itu berbeda-beda hanya karena manusia memberi-Nya nama yang berlainan? Ataukah perbedaan itu justru lahir dari keterbatasan manusia dalam memahami Yang Maha Tak Terbatas?
Tuhan, jika benar Maha Esa, tentu tidak terkurung oleh identitas suku, bahasa, atau bangsa. Ia tidak bisa menjadi “milik eksklusif” satu kelompok, sebab eksklusivitas adalah sifat manusia, bukan sifat ketuhanan. Manusialah yang membangun pagar-pagar keyakinan, lalu mengklaim: di dalam pagar ini Tuhan benar, di luar pagar itu sesat.
Masalahnya bukan pada iman, tetapi pada ketidakmauan memaklumi. Ketika seseorang menolak mengakui bahwa orang lain—yang berbeda keyakinan—juga sedang mencari Tuhan dengan caranya sendiri, di situlah iman berubah menjadi arogansi. Bukan lagi soal keyakinan, melainkan soal penolakan terhadap kemanusiaan orang lain.
Lalu muncul paradoks logika yang jarang disadari: jika “kafir” didefinisikan sebagai orang yang menolak kebenaran Tuhan, bukankah orang yang menolak kemungkinan bahwa Tuhan juga menciptakan “yang berbeda” sedang menolak keluasan kehendak Tuhan itu sendiri? Bukankah itu berarti ia menutup Tuhan dalam tafsir sempitnya sendiri?
Dengan kata lain, ketika seseorang menolak mengakui atau memaklumi keyakinan orang lain hanya karena berbeda dengannya, ia sesungguhnya sedang berkata: Tuhan hanya boleh bekerja sesuai dengan versiku. Dan bukankah itu bentuk pengingkaran yang paling halus—bahkan mungkin paling berbahaya?
Iman sejati tidak lahir dari ketakutan terhadap perbedaan, tetapi dari kerendahan hati untuk mengakui bahwa pengetahuan manusia tentang Tuhan selalu terbatas. Keyakinan tidak perlu menjadi senjata untuk meniadakan orang lain. Ia seharusnya menjadi cahaya untuk memperluas empati.
Maka barangkali pertanyaan terpenting bukanlah: siapa yang kafir?
Melainkan: siapa yang berani mengurung Tuhan dalam kepalanya sendiri?
Dan di hadapan Tuhan yang sama—apa pun nama yang kita ucapkan untuk-Nya—barangkali yang paling dekat pada kesesatan bukan mereka yang berbeda jalan, tetapi mereka yang merasa jalannya satu-satunya milik Tuhan.
Tidak ada komentar