By Paman BEDDi lingkungan yang tidak sehat, kejujuran bukan hilang—ia menjadi mahal. Bayangkan sebuah meja makan. Tudung saji terlupa. Dalam hitungan menit, lalat datang. Tak lama, seekor kucing meloncat dan membawa pergi ikan goreng yang masih hangat. Tidak ada yang aneh. Yang aneh justru jika tidak ada yang datang. Lingkungan yang tidak sehat bukan sekadar soal udara, tetapi soal akhlak—cara berpikir yang pelan-pelan terbiasa mencari celah.
Pada titik tertentu, opportunity bukan lagi kemungkinan, tetapi refleks. Dan ketika sistem tidak melindungi, spekulan tidak perlu diundang—mereka sudah siap. Al-Qur’an pernah mengingatkan dengan nada yang tenang tetapi tegas: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum 30:41). Kerusakan itu tumbuh dari kebiasaan kecil yang dibiarkan, dari celah yang tidak ditutup, dan dari sistem yang terlalu percaya bahwa semua akan baik-baik saja.
Kegagalan Sistem dan Retaknya Kepercayaan
Kasus di Kementerian Keuangan—ketika pejabat terkait restitusi PPN dicopot—seringkali hanya dipandang sebagai tindakan administratif. Namun, jika berhenti di sana, kita hanya melihat permukaan. Ini bukan sekadar soal siapa yang salah, melainkan tentang bagaimana sistem memberi ruang untuk kesalahan menjadi besar.
Dalam fraud diamond, kapabilitas tidak berdiri sendiri; ia tumbuh dari sistem yang mengizinkan. Ketika kebijakan membuka ruang terlalu lebar, kontrol hanya formalitas, dan data kehilangan daya koreksinya, maka fraud menjadi kondisi yang berulang. Bukan karena semua orang berniat jahat, tetapi karena sistem terlalu mudah untuk “dimainkan”.
Tone at the Top: Bukan Sekadar Mencopot, Tapi Mengakui
Di sinilah peran Tone at the Top diuji. Kepemimpinan yang kuat tidak hanya ditunjukkan dengan keberanian mencopot bawahan yang melanggar, tetapi yang lebih fundamental: keberanian untuk mengakui bahwa ada yang salah dengan desain sistem di bawah kepemimpinannya.
Mencopot orang tanpa memperbaiki sistem ibarat menutup jendela sementara pintu tetap terbuka. Pemimpin harus memiliki integritas untuk berkata: “Orang ini salah, namun sistem saya pun memiliki celah yang memungkinkan kesalahan itu terjadi.” Tanpa pengakuan ini, organisasi hanya akan terjebak dalam siklus “pecat dan ulangi” tanpa pernah menyentuh akar masalah. Nabi Muhammad ﷺ mengingatkan: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari & Muslim).
Tanggung jawab ini mencakup tanggung jawab atas tegaknya sistem yang adil dan tangguh.
Hulu ke Hilir: Tantangan Restitusi dan Supply Chain
Dalam skema PPN ekspor 0%, masalah muncul ketika verifikasi bergerak lebih lambat daripada pergerakan uang. Kebijakan yang sah secara hukum mulai kehilangan legitimasi ketika tidak lagi mencerminkan aktivitas ekonomi riil. Di sinilah pengawasan seharusnya bekerja—bukan sekadar memeriksa dokumen, tetapi memastikan substansi.
Integrasi perbaikan sistem harus bersifat terpadu. Integritas tidak boleh berhenti di meja kantor aparatur, tetapi harus merembes hingga ke lingkungan supply chain circle-nya. Vendor, mitra logistik, hingga produsen harus menjadi bagian dari ekosistem integritas yang sama.
Integritas Bela Negara Berbasis Agama
Langkah pamungkas dalam menutup fraud diamond adalah penguatan benteng internal melalui sosialisasi integritas bela negara berbasis agama. Ini bukan sekadar ceramah moral, melainkan penanaman kesadaran bahwa menjaga harta negara adalah bentuk ibadah dan wujud nyata nasionalisme.
Aparatur negara harus memandang tugasnya sebagai amanah suci. Jika seorang aparatur dan ekosistem di sekelilingnya (termasuk mitra swasta) memahami bahwa pengkhianatan terhadap sistem ekonomi negara adalah pengkhianatan terhadap bangsa dan agama, maka pengawasan internal akan tumbuh secara organik. Ini adalah governance yang paling tangguh karena pengawasnya bukan lagi manusia atau audit, melainkan hati nurani.
Kesimpulan dan Saran Strategis
Untuk memutus rantai ini, diperlukan langkah konkret:
* Penguatan Desain Restitusi: Verifikasi berbasis aktivitas ekonomi riil dengan integrasi data lintas sektor (pajak, bea cukai, logistik).
* End-to-End Visibility: Membangun transparansi dari hulu transaksi hingga hilir klaim. Jika satu mata rantai gelap, seluruh sistem menjadi rentan.
* Audit Supply Chain & Data Analytics: Pengawasan yang tidak hanya mengecek kepatuhan prosedur, tetapi menguji kewajaran ekonomi secara real-time.
* Koreksi Budaya Kepemimpinan: Pemimpin wajib melakukan audit mandiri terhadap kebijakan yang dibuatnya dan berani melakukan perbaikan fundamental jika ditemukan celah sistemik.
* Ekosistem Integritas Terpadu: Implementasi program bela negara berbasis nilai agama yang melibatkan aparatur dan seluruh mitra dalam supply chain circle untuk memastikan nasionalisme yang berintegritas.
Karena pada akhirnya, angka tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu membawa cerita. Pertanyaannya: apakah kita masih membaca ceritanya, atau hanya menghitung jumlahnya?
Referensi Utama:
* QS. Ar-Rum 30:41; QS. Al-Baqarah 2:188.
* HR. Bukhari & Muslim tentang Kepemimpinan.
* Cressey (1953) & Wolfe-Hermanson (2004) mengenai Fraud Diamond.
* Laporan Publik Media Massa terkait Kebijakan Fiskal 2026.
Tidak ada komentar