Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Nasib Presiden RI – Korban Dari System Yg Buruk

waktu baca 3 menit
Kamis, 7 Mei 2026 08:37 1 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Ada satu pola yang terus berulang dalam sejarah politik Indonesia: pemimpin datang silih berganti, tetapi sistem yang melingkupinya tetap menghasilkan krisis yang sama. Seolah republik ini tidak pernah benar-benar berhasil membangun tata politik yang sehat, melainkan hanya mengganti wajah di pucuk kekuasaan.

Bung Karno pernah mengingatkan, “Dalam sistem yang buruk, pemimpin yang baik adalah korban sistem.” Kalimat itu bukan sekadar refleksi pribadi, melainkan semacam diagnosis terhadap watak politik Indonesia yang hingga hari ini terasa relevan.

Soekarno membangun republik ini dengan fondasi ideologis yang kuat. Ia mempersatukan bangsa yang tercerai-berai oleh kolonialisme dan menjadikan Indonesia memiliki martabat di panggung dunia. Tetapi pada akhirnya ia digulingkan oleh pertarungan kekuasaan yang brutal, konflik ideologi, dan permainan elite negara. Sang proklamator justru tersingkir dari republik yang ia dirikan.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Lalu muncul Soeharto dengan janji stabilitas. Pada awalnya ia dipandang berhasil memulihkan ekonomi dan menghadirkan ketertiban. Namun kekuasaan yang terlalu lama tanpa kontrol melahirkan otoritarianisme. Negara berubah menjadi instrumen kekuasaan pribadi dan keluarga. Ketika krisis datang, sistem yang dibangun dengan sentralisasi ekstrem itu runtuh bersama figur yang menopangnya.

Era reformasi melahirkan B. J. Habibie, sosok transisional yang membuka kebebasan pers dan demokrasi. Tetapi ia justru ditolak oleh kekuatan politik yang sebelumnya menopang kekuasaan Orde Baru. Reformasi ternyata tidak otomatis melahirkan kedewasaan politik.

Kemudian lahirlah ironi berikutnya: Abdurrahman Wahid dipilih dari partai dengan suara relatif kecil. Ia menjadi presiden lebih karena kompromi politik elite dibanding dominasi elektoral. Gus Dur diangkat oleh koalisi yang menginginkan keseimbangan kekuasaan pasca-reformasi. Namun tak lama kemudian, ia pula dijatuhkan oleh kekuatan yang dulu memilihnya. Demokrasi saat itu memperlihatkan wajah transaksionalnya secara telanjang: dukungan politik bisa berubah menjadi pisau kapan saja.

Megawati Soekarnoputri kemudian naik menggantikan Gus Dur melalui konfigurasi politik parlemen. Di era itu, legitimasi kekuasaan masih sangat ditentukan oleh kompromi elite, bukan semata kehendak rakyat.

Lalu hadir Susilo Bambang Yudhoyono sebagai simbol demokrasi elektoral modern. Ia dipilih langsung oleh rakyat dan berhasil menjaga stabilitas relatif panjang. Namun pemerintahannya memperlihatkan sisi lain demokrasi Indonesia: kebebasan politik sering berubah menjadi delegitimasi tanpa henti. Presiden dipilih langsung, tetapi juga terus-menerus dihantam oleh polarisasi politik dan serangan opini.

Kemudian datang Joko Widodo dengan citra pemimpin sederhana dari luar lingkar elite lama. Pada awalnya ia dipandang sebagai antitesis politik oligarki. Namun menjelang akhir kekuasaannya, kritik justru membesar: pelemahan institusi demokrasi, perubahan aturan yang dianggap melayani kepentingan kekuasaan, hingga menguatnya politik keluarga dan dinasti.

Kini tongkat estafet berada di tangan Prabowo Subianto. Tetapi banyak yang melihat pemerintahannya sebagai kelanjutan dari era Jokowi, bukan koreksi terhadapnya. Bahkan muncul kekhawatiran baru: menguatnya nuansa militeristik dalam tata kelola negara. Penempatan figur berlatar belakang militer di berbagai sektor strategis, pendekatan keamanan yang semakin dominan, hingga menguatnya kultur komando dalam politik menjadi sinyal yang memunculkan kecemasan sebagian kalangan.

Kekhawatiran itu tentu belum menjadi kesimpulan final. Namun sejarah Indonesia membuat publik sulit mengabaikan trauma masa lalu. Bangsa ini pernah mengalami bagaimana militer bukan hanya menjadi alat pertahanan negara, tetapi juga pemain utama politik dan ekonomi.

Persoalannya sesungguhnya bukan sekadar siapa presidennya. Republik ini tampak belum berhasil membangun sistem yang mampu membatasi kekuasaan secara sehat. Akibatnya, setiap pemimpin berpotensi terseret oleh arus sistem: yang idealis bisa dijatuhkan, yang populer bisa tergoda memperpanjang pengaruh, dan yang kuat bisa berubah semakin otoriter.

Indonesia akhirnya seperti terjebak dalam siklus tanpa akhir: mengganti orang, tetapi gagal memperbaiki struktur. Demokrasi berjalan, pemilu tetap digelar, tetapi oligarki, kompromi elite, dan pragmatisme kekuasaan terus menjadi fondasi utama politik nasional.

Dan mungkin di situlah letak tragedi terbesar republik ini: bukan karena kekurangan pemimpin, melainkan karena sistemnya terlalu sering mengubah pemimpin menjadi bagian dari masalah yang sama.



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *






Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg