BEIJING/TEHERAN–Fusilatnews — Pemerintah China mengecam keras serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Serangan tersebut, yang diluncurkan pada 28 Februari 2026, telah memicu gelombang kecaman internasional dan kekhawatiran akan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Kementerian Luar Negeri China menyebut tindakan militer itu sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan keamanan Iran dan pelanggaran hukum internasional serta prinsip dasar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Beijing menilai serangan yang berujung pada kematian Khamenei tidak dapat diterima dan menegaskan bahwa konflik semacam ini justru memperburuk situasi di kawasan, bukan menyelesaikannya.
“Serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi sebuah negara berdaulat adalah pelanggaran terhadap hukum internasional dan tidak bisa dibenarkan,” demikian pernyataan dari jurubicara Kementerian Luar Negeri China. China mendesak penghentian segera aksi militer dan menyerukan kepada semua pihak untuk kembali ke jalur dialog dan negosiasi guna mencegah meluasnya konflik regional.
Sebagai pembeli minyak terbesar Iran, China juga ikut menyuarakan kekhawatiran atas dampak konflik terhadap stabilitas energi global. Ketegangan yang meningkat membuat kekhawatiran pasar energi dunia melonjak, terutama setelah Iran sempat mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak strategis dunia yang dilintasi sekitar sepertiga pasokan energi global setiap harinya.
Ayatollah Ali Khamenei, yang berusia 86 tahun dan menjadi Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989, dikonfirmasi tewas pada Sabtu malam lalu setelah sebuah serangan udara oleh pasukan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan kompleks kepemimpinannya di Teheran. Kematian Khamenei merupakan kejutan besar dalam geopolitik global dan menandai babak baru ketegangan di kawasan.
Reaksi internasional terhadap peristiwa ini sangat beragam:
Di satu sisi negara-negara Barat, termasuk Inggris, Perancis, dan Jerman, menyatakan dukungan terhadap langkah militer AS–Israel dengan alasan pertahanan dan perlindungan kepentingan mereka di Timur Tengah.
Sementara Rusia juga mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan menyampaikan belasungkawa kepada pemerintah Iran.
Banyak negara Muslim serta kelompok masyarakat sipil, termasuk di Pakistan, Irak, dan Turki, turun ke jalan untuk memprotes serangan tersebut atau menunjukkan dukungan terhadap Iran.
Di dalam negeri Iran, pemerintah mengumumkan periode berkabung nasional selama 40 hari untuk menghormati Khamenei, sekaligus memperingatkan bahwa serangan balasan akan terus berjalan jika ancaman terhadap keamanan nasional masih ada.
Kematian Khamenei memicu respons militer balasan dari Iran, termasuk serangan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat dan wilayah yang dianggap sekutu Israel di kawasan Teluk Persia, termasuk negara-negara tuan rumah militer AS. Situasi ini membuat seluruh kawasan berada dalam status siaga tinggi.
Para analis mengatakan bahwa konflik ini berpotensi mengancam stabilitas pasokan energi global, karena apabila Iran menutup Selat Hormuz, harga minyak dunia diperkirakan akan melonjak tajam dan mengganggu ekonomi global.
Tidak ada komentar