Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Rakyat Melawan! – Fusilat News

waktu baca 2 menit
Sabtu, 13 Jun 2026 15:58 3 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Demonstran 1998 Kampus UNS

Jakarta – Maka hanya ada satu kata: lawan! (Widji Thukul, 1963-1998).

Demikianlah mahasiswa, kaum intelektual yang lahir dari rahim rakyat. Mereka menyuarakan aspirasi rakyat, melawan kezaliman penguasa, dalam aksi demonstrasi yang berlangsung di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo dan sebagainya, Jumat (12/6/2026).

Ketika penguasa menaikkan harga Pertamax hampir 4 ribu rupiah per liter, rakyat melawan. Sebab, yang terdampak bukan hanya rakyat kelas menengah, melainkan juga rakyat kecil. Kenaikan harga Pertamax menimbulkan multiplier effect yang luar biasa.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Ketika harga barang-barang kebutuhan pokok melambung tinggi, rakyat melawan. Penguasa harus menurunkan harga barang-barang kebutuhan pokok yang sudah terlanjur meroket itu.

Ketika anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) dikorupsi, rakyat melawan. Sebab, anggaran MBG berasal dari APBN yang 80 persennya berasal dari pajak rakyat.

Baca : https://fusilatnews.com/gelombang-mahasiswa-melawan-prabowo-ketika-kesabaran-publik-mulai-habis/

Anggaran MBG juga memotong anggaran pendidikan. Ketika anggaran MBG dikorupsi, artinya anggaran pendidikan dikorupsi juga.

Apalagi, kemudian terungkap bahwa terjadi pemborosan MBG 1 triliun rupiah per bulan. Uang rakyat buat bancakan. MBG wajib hukumnya dihentikan.

Uang rakyat juga dihamburkan. Setiap dapur MBG atau Stasiun Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mendapatkan insentif 6 juta rupiah per hari. Bayangkan ada berapa ribu SPPG.

Ketika Presiden Prabowo Subianto tak mempersoalkan penurunan nilai rupiah terhadap dolar AS karena orang desa tidak memakai dolar, rakyat melawan. Kedelai, bahan baku tahu tempe yang dikonsumsi orang desa, diimpor dengan dolar.

Ketika suara-suara kritis dibungkam dan aktivis-aktivis diteror dan ditertibkan, rakyat melawan. Sebab kekuasaan tanpa kontrol akan barbar. Kebebasan berpendapat dijamin konstitusi.

“Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely,” kata Lord Acton (1834-1902).

Ketika hukum, Polri dan TNI dijadikan alat penguasa, rakyat melawan. Sebab keadilan di atas segala-galanya. Supremasi sipil adalah keniscayaan di negara demokrasi.

Aksi demonstrasi Jumat kemarin baru sekadar pemanasan saja. Bola salju akan tercipta jika penguasa tak mau berubah bersama oligarkinya. Mahasiswa dan rakyat akan terus bersuara.



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg