Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

PERJUANGAN TANPA PODIUM: JEJAK PENGORBANAN IBU MARIKE JITMAU, WANITA DI BALIK LAHIRNYA KABUPATEN MAYBRAT YANG TAK PERNAH DIANGGAP

waktu baca 4 menit
Senin, 18 Mei 2026 19:44 74 Ardo Setiawan

PERJUANGAN TANPA PODIUM: JEJAK PENGORBANAN IBU MARIKE JITMAU, WANITA DI BALIK LAHIRNYA KABUPATEN MAYBRAT YANG TAK PERNAH DIANGGAP

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Maybrat, 18 Mei 2026 – Di tengah dinamika politik dan pergantian kepemimpinan yang terus berlangsung di Kabupaten Maybrat, tersimpan satu kisah sunyi tentang pengabdian yang tak terbalas. Kisah itu menyangkut sosok Ibu Marike Jitmau, S.Pd, seorang wanita sederhana namun memiliki ketegaran luar biasa, istri dari almarhum Bapak Apolos Sewa, SH – salah satu tokoh sentral yang berjuang hingga darah terakhir agar Kabupaten Maybrat bisa lahir dan berdiri tegak.

Melalui suara hati yang disampaikan adik kandung sekaligus Intelektual Muda Maybrat, Paulus Amdos Jitmau, ST, kisah ini akhirnya terungkap ke publik sebagai catatan sejarah yang tak boleh hilang.

“Hari ini kami ingin menyampaikan sebuah suara hati, tentang seorang perempuan sederhana namun kuat, Ibu Marike Jitmau, S.Pd, istri dari almarhum Bapak Apolos Sewa, SH, salah satu tokoh penting perjuangan pemekaran Kabupaten Maybrat,” ungkap Paulus membuka perbincangan penuh haru.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Sejak daerah ini resmi menjadi kabupaten otonom, roda pemerintahan terus berputar dari satu tangan ke tangan lainnya. Namun, nasib Ibu Marike seolah terpinggirkan dari ingatan para pemimpin. Meski bahu suaminya adalah salah satu tiang penyangga berdirinya daerah ini, pengabdian keluarga itu sama sekali tak mendapat tempat.

“Sejak lahirnya Kabupaten Maybrat, dari satu kepemimpinan ke kepemimpinan berikutnya, beliau tidak pernah sekalipun diberikan ruang penghargaan dalam bentuk jabatan ataupun kepercayaan, sampai beliau memasuki masa pensiun,” tegas Paulus, menyayangkan nasib yang menimpa kakaknya.

Ketiadaan apresiasi itu terasa makin dalam saat kesempatan demi kesempatan terbuka lebar bagi banyak pihak, namun tertutup rapat bagi sosok yang seharusnya dihormati ini. Paulus menceritakan bagaimana kakaknya pernah berusaha mengabdi lewat jalur kelembagaan adat, namun kembali berujung kekecewaan.

“Bahkan ketika mengikuti proses seleksi MRP Papua Barat Daya perwakilan Maybrat, kesempatan itu pun belum berpihak. Hingga pada momentum pemilihan Wakil Ketua III jalur pengangkatan Otsus, nama dan pengabdian beliau kembali belum dianggap,” paparnya dengan nada kritis.

Meski begitu, keluarga besar Jitmau tidak memilih jalan dendam atau amarah. Di tengah rasa kecewa yang mendalam, mereka justru memilih untuk tetap bersyukur dan memegang teguh nilai luhur perjuangan yang diajarkan oleh orang tua mereka. Bagi mereka, ukuran jasa seseorang tidak tergantung pada apa yang diterima dari manusia, melainkan pada ketulusan hati saat berjuang.

“Namun sebagai keluarga, kami memilih untuk tetap bersyukur. Sebab kami percaya bahwa nilai pengabdian tidak selalu diukur dari jabatan dan penghargaan. Ibu Marike telah menjadi saksi perjalanan panjang perjuangan bersama almarhum Bapak Apolos Sewa, SH, melewati kerasnya kehidupan, jatuh bangun perjuangan, serta pengorbanan demi hadirnya daerah yang hari ini bernama Kabupaten Maybrat,” ujar Paulus, menegaskan prinsip hidup keluarga mereka.

Sebagai bagian dari anak adat yang lahir dan besar di Tanah Kumurkek, Paulus memahami betul makna sejati dari sebuah pengorbanan. Baginya, tanah ini adalah saksi bisu, dan Tuhan adalah hakim tertinggi atas setiap tetes keringat yang diteteskan demi Maybrat.

“Sebagai anak adat, kami memahami bahwa perjuangan orang tua kami mungkin tidak selalu dikenang manusia, tetapi tidak pernah hilang di hadapan Tuhan dan tanah leluhur. Kami percaya, setiap tetes air mata, setiap keringat, setiap langkah perjuangan yang pernah mereka tabur di tanah Maybrat, suatu saat akan menjadi cahaya bagi anak-anak dan cucu-cucu mereka di tanah Kumurkek dan seluruh negeri Maybrat tercinta,” ungkapnya penuh keyakinan.

Di akhir pernyataannya, Paulus juga menyampaikan sikap terbuka dan kedewasaan politik keluarga besar Jitmau. Meski merasa jasa keluarga diabaikan, mereka tetap mendoakan dan mendukung para pemimpin yang baru saja dilantik, berharap sejarah kelam pengabaian ini tidak terulang lagi kepada generasi penerus.

“Karena itu, dengan hati yang tulus, kami menyampaikan selamat dan sukses kepada pimpinan DPRK jalur Otsus Kabupaten Maybrat yang baru terpilih. Semoga amanah yang telah dipercayakan dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab, pengabdian, dan ketulusan hati demi kepentingan serta kesejahteraan seluruh masyarakat Maybrat,” pesannya.

Melalui kisah Ibu Marike Jitmau, Paulus ingin menyadarkan seluruh elemen masyarakat dan pemimpin daerah tentang satu kebenaran mendasar yang sering kali terlupakan. Bahwa di balik kemegahan daerah dan kekuasaan, ada banyak orang hebat yang berjuang dalam diam, namun merekalah yang sesungguhnya menjaga negeri ini tetap berdiri kokoh.

“Perjuangan sejati tidak selalu berdiri di podium kekuasaan. Kadang ia hidup dalam kesabaran, ketulusan, dan pengorbanan yang diam-diam menjaga negeri ini tetap berdiri,” tutup Paulus Amdos Jitmau, mengakhiri pernyataan hatinya yang menyentuh dan penuh makna sejarah.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg