Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Saatnya Alumni UMY Berada di Kabinet Prabowo-Gibran

waktu baca 4 menit
Minggu, 14 Jun 2026 05:27 4 Catra

Oleh : Iwan Setiawan, Alumni Hubungan Internasional UMY, Aktivis Mapala

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Kabinet Merah Putih di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menghadapi tantangan yang sangat besar. Mulai dari penguatan perekonomian nasional, transformasi pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, hilirisasi industri, penguatan diplomasi internasional, hingga upaya menjaga persatuan bangsa di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, pemerintah membutuhkan sumber daya manusia terbaik dari berbagai latar belakang, termasuk dari perguruan tinggi yang terbukti banyak melahirkan pemimpin, birokrat, akademisi, profesional, wirausaha, diplomat, dan tokoh masyarakat.

Di lingkungan Universitas Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA), beberapa alumninya mendapat kepercayaan untuk bergabung dengan pemerintahan nasional. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa kualitas kader dan alumni Muhammadiyah mempunyai kapasitas yang diakui dalam mengelola negara.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Salah satu contohnya adalah Prof Fauzan yang saat ini menjabat Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi – alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Rekam jejak akademisnya yang kuat menjadi modal penting dalam mendorong kemajuan pendidikan tinggi Indonesia.

Di sisi lain, Fajar Riza Ul Haq, alumnus Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dipercaya menjadi Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah mendampingi Menteri Abdul Mu’ti dalam penguatan sektor pendidikan nasional.

Kehadiran alumni UMM dan UMS di Kabinet Merah Putih tentu menjadi kebanggaan bagi keluarga besar Muhammadiyah. Namun di saat yang sama, muncul pertanyaan wajar: kapan alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mendapat kesempatan yang sama untuk berkontribusi langsung di tingkat kabinet?

Pertanyaan ini lahir bukan dari semangat kompetisi antar kampus Muhammadiyah. Sebaliknya, hal ini merupakan cerminan dari besarnya potensi yang dimiliki UMY sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka Muhammadiyah yang telah melahirkan ribuan alumni berkualitas di berbagai bidang.

Selama bertahun-tahun, UMY dikenal sebagai kampus yang konsisten membangun tradisi akademik, kepemimpinan, pengabdian kepada masyarakat, dan berwawasan global. Kampus ini tidak hanya menghasilkan sarjana yang unggul secara intelektual, namun juga membentuk karakter kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai Islam progresif.

Dari kampus di Yogyakarta banyak lahir tokoh-tokoh yang berkiprah di berbagai sektor strategis. Ada yang menjadi akademisi, birokrat, diplomat, anggota legislatif, kepala daerah, wirausaha, aktivis sosial, praktisi kesehatan, dan pimpinan organisasi masyarakat.

Faktanya, alumni UMY tersebar di berbagai negara dan institusi internasional. Mereka mengharumkan nama Indonesia dan menunjukkan lulusan perguruan tinggi muhammadiyah mampu bersaing di tingkat global.

Oleh karena itu, jika pemerintah membuka ruang yang lebih luas bagi para profesional dan akademisi untuk masuk ke pemerintahan, maka alumni UMY akan mempunyai modal yang sangat kuat untuk mengisi posisi-posisi strategis.

Terlebih lagi, tantangan pemerintahan saat ini memerlukan kombinasi keterampilan teknokratis, pengalaman lapangan, integritas, dan kemampuan membangun komunikasi dengan masyarakat. Banyak alumni UMY yang telah membuktikan kapasitas tersebut melalui perjalanan karir masing-masing.

Yang tak kalah penting adalah karakter kader Muhammadiyah yang selama ini dikenal moderat, solutif, dan mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok. Karakter seperti ini sangat diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan modern.

Pemerintahan Prabowo-Gibran mempunyai visi besar untuk menjadikan Indonesia negara maju. Visi tersebut memerlukan kolaborasi nasional yang melibatkan seluruh elemen terbaik bangsa. Dalam konteks itu, kampus Muhammadiyah merupakan sumber daya strategis yang patut mendapat perhatian.

UMY sebagai salah satu perguruan tinggi muhammadiyah terbaik di indonesia mempunyai bekal kepemimpinan yang cukup banyak. Potensi tersebut dapat memberikan energi tambahan bagi pemerintah dalam mempercepat berbagai program prioritas nasional.

Tentu saja memasukkan alumni UMY ke dalam kabinet bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah bagaimana alumni UMY bisa memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara. Namun, ketika peluang pengabdian hadir dalam bentuk posisi strategis di pemerintahan, maka hal tersebut menjadi momentum yang baik untuk menghadirkan perspektif baru, ide-ide segar, dan semangat perubahan.

Pada akhirnya pembahasan mengenai peluang alumni UMY masuk kabinet tidak hanya sekedar keterwakilan institusi. Ini tentang bagaimana negara memanfaatkan talenta-talenta terbaik yang dimiliki bangsa. Indonesia membutuhkan orang-orang yang bekerja dengan kompetensi, integritas dan dedikasi.

Jika alumni UMM dan UMS sudah menunjukkan kapasitasnya di Kabinet Merah Putih, maka masyarakat tentu berharap suatu saat alumni UMY juga mendapat kesempatan yang sama untuk mengabdi di jajaran tertinggi pemerintahan.

Sebab UMY telah lama membuktikan diri sebagai kawah Candradimuka yang menghasilkan SDM unggul. Dan ketika bangsa membutuhkan pemimpin yang mampu menjawab tantangan zaman, alumni UMY mempunyai bekal yang cukup untuk berdiri di garda depan, bersama pemerintah, membangun Indonesia yang lebih maju, berdaulat, dan berkeadilan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google Berita



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg