Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Tanya Pemimpin Amerika, Israel dan Iran – Lha Lok Ke UEA?

waktu baca 3 menit
Rabu, 8 Apr 2026 20:15 11 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Oleh: Ali Syarief

Ada satu momen yang terasa janggal sekaligus membuka tabir cara berpikir para elite kita. Ketika Joko Widodo mengaku menelepon pemimpin Timur Tengah dan bertanya: “Yang mulia, kapan perang selesai?”—jawabannya sederhana, jujur, sekaligus menampar: tidak tahu.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi soal perang. Tapi soal cara berpikir.


Apakah Perang Itu Jadwal Rapat?

Perang bukan seminar nasional yang bisa ditentukan tanggal pembuka dan penutupnya. Ia bukan proyek infrastruktur yang bisa dikejar target peresmian. Perang adalah akumulasi kebencian, kepentingan, sejarah panjang, dan ego kekuasaan.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Ketika konflik melibatkan tiga poros besar—Amerika Serikat, Israel, dan Iran—yang bermain, bukan lagi logika sederhana. Yang bergerak adalah:

  • doktrin militer
  • strategi geopolitik
  • kepentingan energi global
  • bahkan pertaruhan dominasi peradaban

Dalam konteks seperti itu, bertanya “kapan selesai?” terdengar seperti bertanya kepada badai: kapan kau berhenti?


Yang Seharusnya Ditanyakan, Bukan Itu

Kalau benar ingin memahami perang, pertanyaan yang tepat justru jauh lebih dalam dan tidak nyaman:

  • Apa tujuan sebenarnya dari perang ini?
    Bukan alasan resmi, tapi motif yang tersembunyi di balik layar.
  • Siapa yang paling diuntungkan?
    Karena sejarah menunjukkan: perang selalu punya investor.
  • Berapa harga yang harus dibayar rakyat sipil?
    Dan mengapa mereka selalu menjadi korban pertama.
  • Apakah ini perang yang akan meluas atau justru dipelihara agar tidak pernah selesai?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak populer. Tapi justru di situlah letak kejujuran.


Ketika Pemimpin Berpikir Terlalu Sederhana

Jawaban “tidak tahu” dari pihak yang berada “di dalam lingkaran perang” sebenarnya bukan kelemahan. Itu justru realitas.

Yang menjadi masalah adalah ketika seorang pemimpin—atau mantan pemimpin—mengajukan pertanyaan yang terlalu menyederhanakan kompleksitas dunia.

Karena publik kemudian melihat:
apakah ini ketidaktahuan?
atau sekadar retorika?
atau memang cara berpikir yang dangkal terhadap persoalan global?

Dan di sinilah kritik menjadi relevan.


Dunia Tidak Butuh Peramal

Menyindir bahwa “yang mulia disangka dukun” memang terasa keras, tapi ada pesan penting di baliknya:

Tidak ada seorang pun—bahkan pemimpin negara adidaya—yang bisa memastikan kapan perang selesai.

Karena perang bukan soal waktu.
Ia soal keputusan politik.
Dan keputusan politik sering kali justru dibuat untuk memperpanjang konflik, bukan mengakhirinya.


Penutup: Pertanyaan yang Salah, Arah yang Salah

Dalam dunia yang sedang bergejolak, kualitas kepemimpinan diuji bukan dari seberapa sering bertanya—tetapi dari apa yang ditanyakan.

Salah bertanya, maka salah memahami.
Salah memahami, maka salah mengambil posisi.

Dan ketika itu terjadi, sebuah bangsa tidak hanya kehilangan arah—
tapi juga kehilangan kedalaman berpikir di tengah dunia yang semakin brutal.

Perang mungkin memang tidak punya tanggal selesai.
Tapi cara kita memahaminya—itulah yang menentukan apakah kita sekadar penonton…
atau bangsa yang benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi.



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *






Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg