Oleh: Entang SastraatmadjaKata generasi berasal dari bahasa Latin generatio yang berarti kelahiran atau proses melahirkan kehidupan baru. Dalam pengertian modern, generasi merujuk pada kelompok manusia yang lahir dan tumbuh dalam rentang waktu yang relatif sama, sehingga memiliki pengalaman, karakter, dan nilai yang mirip. Kita mengenal Baby Boomer, Generasi X, Milenial, Generasi Z, hingga kini Generasi Alpha.
Lalu, apa makna mencintai pertanian?
Mencintai pertanian bukan sekadar memilih profesi sebagai petani. Ia adalah rasa hormat kepada tanah, air, benih, dan proses panjang yang menghadirkan pangan ke meja makan kita. Ia adalah kesadaran bahwa kehidupan manusia bertumpu pada kerja sunyi para pengolah bumi. Ia juga berarti kepedulian pada keberlanjutan lingkungan, penghargaan atas kerja keras petani, serta kecintaan pada siklus alam yang memberi kehidupan.
Dengan kata lain: mencintai pertanian adalah mencintai kehidupan itu sendiri.
Sepanjang sejarah, beberapa generasi dikenal dekat dengan dunia pertanian. Baby Boomer tumbuh di masa pertanian tradisional masih menjadi tulang punggung desa. Generasi X banyak yang masih mewarisi kultur agraris keluarga. Milenial mulai mengenal pertanian modern, urban farming, dan konsep organik. Generasi Z bahkan mulai akrab dengan pertanian digital, sensor tanah, drone, dan precision farming.
Namun cinta pada pertanian tidak otomatis diwariskan oleh waktu. Ia harus ditumbuhkan oleh kesadaran. Pertanyaannya kini menjadi krusial:
Apakah generasi masa depan masih mau mencintai sawah, atau hanya mencintai layar gawai?
Generasi Alpha yang lahir di tengah revolusi digital memiliki peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, teknologi dapat membuat pertanian lebih modern, efisien, dan menarik. Di sisi lain, jika pertanian terus dipersepsikan sebagai pekerjaan berat, kotor, dan tidak menjanjikan, maka sawah akan makin sepi, sementara negeri tetap lapar.
Faktanya, ada beberapa alasan mengapa banyak anak muda menjauh dari pertanian:
Pertama, citra pertanian yang dianggap tidak bergengsi.
Kedua, kerja keras dengan penghasilan yang tidak pasti, tergantung cuaca dan fluktuasi harga.
Ketiga, akses terbatas pada modal dan teknologi modern.
Keempat, daya tarik pekerjaan kota yang dianggap lebih stabil dan prestisius.
Namun di balik itu, mulai tumbuh kesadaran baru. Ketahanan pangan, krisis iklim, dan pandemi telah membuka mata banyak anak muda bahwa pangan adalah urusan strategis bangsa. Pertanian bukan sektor sisa — ia adalah sektor penentu masa depan.
Karena itu, negara tidak boleh tinggal diam. Pemerintah perlu membuka jalan agar generasi muda mau kembali menjejak tanah. Beberapa langkah strategis dapat dilakukan:
Jika langkah-langkah ini dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka pertanian tidak lagi dipandang sebagai masa lalu, melainkan sebagai masa depan yang menjanjikan.
Sebab pada akhirnya, pertanyaan besar yang harus kita jawab bersama adalah:
Jika anak muda tidak lagi mau bertani, siapa yang akan memberi makan republik ini?
Ke arah sanalah seharusnya kita melangkah.
(Penulis adalah Anggota Dewan Pakar DPN HKTI)
Tidak ada komentar