Oleh: Damai Hari LubisTulisan ini merupakan catatan historis dan reflektif atas dinamika internal Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA), khususnya pasca menguatnya isu dugaan ijazah palsu Presiden Joko Widodo dan berujung pada pembekuan sementara TPUA.
Catatan ini penting agar publik memperoleh gambaran utuh, bukan potongan narasi yang disederhanakan atau dipelintir demi kepentingan tertentu.
Pada 15 April 2025, Ahmad Khoizinudin (AK) menyampaikan secara langsung kepada Penulis bahwa dirinya tidak lagi ingin terlibat dalam perkara dugaan ijazah Jokowi, dan memilih fokus pada isu lain, yakni PIK 2.
Pernyataan ini disampaikan bersamaan saat AK menyerahkan berkas perkara Gus Nur dan BTM untuk kepentingan pemeriksaan Eggi Sudjana di Bareskrim Polri.
Sikap tersebut secara faktual menunjukkan bahwa AK telah mengambil jarak dari isu utama yang sedang diperjuangkan TPUA saat itu.
Namun, pasca kepulangan TPUA dari agenda resmi ke UGM Yogyakarta dan Solo (15–16 April 2025), terjadi peristiwa yang menimbulkan tanda tanya serius.
Pada 2 Mei 2025, AK justru menginisiasi pertemuan di Gedung Joang bersama Kurnia, Azam, dan pihak lain—padahal:
Penulis hadir dalam pertemuan tersebut tanpa undangan resmi, hanya mengetahui acara dari media sosial. Dalam forum itu:
Padahal Rizal Fadillah sebelumnya diangkat sebagai Wakil Ketua TPUA oleh Eggi Sudjana dan Penulis, dengan mandat khusus: menyusun buku perjuangan TPUA.
Dalam perkembangan berikutnya, muncul persoalan serius terkait pemberian kuasa hukum:
Praktik semacam ini:
AK secara formal berada pada fungsi non-litigasi, namun dalam praktik justru:
Penulis menyatakan secara terbuka:
AK memiliki pemahaman syariah yang baik secara teoritis, namun lemah dalam penerapan praktis, termasuk dalam etika profesi dan konsistensi advokasi.
Jika ditarik ke belakang secara objektif:
Sementara:
Ketika TPUA akhirnya dibekukan sementara, pertanyaan logisnya sederhana:
Siapa yang paling diuntungkan?
Fakta menunjukkan:
Pembekuan TPUA bukanlah akhir perjuangan.
Jika Ketua Dewan Pembina TPUA, DR. ILC HRS, MA, Ph.D, berkenan mengaktifkan kembali TPUA dengan struktur yang lebih segar dan bertanggung jawab, maka:
Sejarah akan mencatat:
siapa yang konsisten berjuang,
dan siapa yang sekadar ikut-ikutan, menumpang panggung, lalu berteriak paling terluka.
Salam cerdas.
Tidak ada komentar