Suasana Ngabuburit hari keenam Ramadhan terasa berbeda di lingkungan PCNU Lamongan. Dalam kegiatan buka puasa (bukber) yang dilaksanakan pada Selasa, 24 Februari 2026, forum tersebut menghadirkan diskusi dengan tema “Metode Pengelolaan Dakwah Digital”, tema yang dinilai relevan dengan tantangan dakwah di era transformasi teknologi.
Kegiatan ini menghadirkan Drs. KH M. Faqih Arifin, M.Ag., selaku Wakil Rais NU, dan Ustadz muda Saunan Alfaruq sebagai pembicara utama pada sesi pengelolaan dakwah berbasis teknologi informasi.
Dalam sambutannya, KH M. Faqih Arifin menekankan pentingnya kaderisasi di lingkungan NU untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan informasi, termasuk penggunaan Artificial Intelligence (AI).
“Di era digitalisasi ini, teknologi tidak bisa dihindari. Mau tidak mau harus dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai media berdakwah,” tegasnya.
Beliau juga menyinggung pentingnya penguasaan konsep dan materi IT di era globalisasi. Menurutnya, perkembangan teknologi selalu mempunyai sisi plus dan minus. Oleh karena itu, generasi muda NU harus bijak dalam memanfaatkannya, menjadikan teknologi sebagai alat perjuangan dakwah, jangan sampai tergerus arus digital yang tidak terkendali.
Memasuki sesi utama, Ustadz Saunan Alfaruq mengupas tuntas mengenai strategi dakwah digital yang efektif. Dikatakannya, forum dakwah digital harus memahami enam dasar literasi, yaitu:
1. Literasi membaca dan menulis
2. Berhitung
3. Sains
4. Keuangan
5. Budaya
6.Digital
Menurutnya, enam literasi tersebut menjadi landasan penting sebelum memasuki dunia dakwah berbasis media sosial.
Beliau juga menekankan empat poin utama dalam membangun manajemen dakwah digital:
1. Pola Pikir, Nilai, Strategi, dan Moral
Dakwah digital tidak hanya sekedar konten, namun juga mengenai pola pikir, nilai yang dibawa, strategi penyampaian, dan moral dalam berinteraksi di ruang publik digital.
2. Menentukan Target Audiens
Anak-anak dan remaja cenderung menyukai konten motivasi dalam format fast scrolling.
Siswa dan pelajar lebih menyukai konten pembelajaran dengan visual yang tajam dan sistematis.
3. Pemilihan Platform Media
Untuk video pendek bisa menggunakan Instagram dan TikTok.
Video panjang berfungsi lebih baik di YouTube.
Komunitas dapat dibangun melalui saluran atau grup Telegram dan WhatsApp.
Sedangkan Facebook bisa mencakup berbagai segmen sekaligus.
4. Siklus Manajemen (Rencana – Lakukan – Periksa – Bertindak)
Rencana: Menggunakan metode PAS (Problem, Agitate, Solution).
Lakukan: Segera pindah karena tren dan algoritma bergerak dengan cepat.
Periksa: Evaluasi konsistensi, kualitas suara, dan penyampaian.
Bertindak: Berbuat benar lebih baik daripada hanya mengatakan kebenaran.
Dalam sesi diskusi, peserta menyoroti persoalan klasik dakwah digital: algoritma media sosial dan minimnya pengikut akun lembaga NU.
Bagaimana caranya keluar dari zona tersebut dan bisa mengontrol akun media sosial lembaga tersebut?
Menjawab hal tersebut, Ustadz Saunan Alfaruq menjelaskan secara sederhana: “Pertahanan terbaik adalah menyerang.” Artinya institusi harus menjadi kreator yang aktif, bukan sekedar penonton. Dunia dakwah digital bergerak relatif cepat dan cepat mengikuti tren. Kalau tidak adaptif maka akan tertinggal.
Menurutnya, mengubah pola pikir dari sekedar pengguna menjadi kreator adalah kunci agar akun institusi bisa berkembang dan berpengaruh.
Mendekati waktu berbuka puasa, KH M. Faqih Arifin menutup kegiatan dengan doa, memohon agar dakwah NU semakin kuat di era digital dan mampu menjawab tantangan zaman.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama dalam suasana hangat dan kekeluargaan.
Momentum Ngabuburit hari keenam ini merupakan cerminan bahwa dakwah di era modern tidak hanya sekedar mimbar dan majelis, namun juga bagaimana masyarakat mampu mengelola ruang digital dengan strategi, literasi dan akhlak yang kuat. Wartawan: Hadi Hoy
Tidak ada komentar