Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Wijen Kering: Kue Legendaris Kudus Kulon yang Menggoda Kenangan

waktu baca 5 menit
Jumat, 6 Mar 2026 10:48 15 Catra

Di salah satu sudut kawasan Kudus Kulon, aroma kue tradisional pernah sangat familiar di kehidupan masyarakat. Aromanya berasal dari dapur sederhana yang menghasilkan satu jajanan khas: kue wijen. Kue berbentuk lingkaran yang ditaburi wijen ini terkenal dengan bunyinya yang khas saat digigit, renyah yang langsung pecah di mulut, disusul rasa manis gurih dari campuran kelapa dan gulanya.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Bagi generasi tua, kue ini bukan sekadar camilan. Itu adalah kenangan.

Begitu digigit, teksturnya renyah namun tetap terasa seperti adonan kue. Rasa manisnya tidak tajam, berpadu dengan gurihnya kelapa dan aroma wijen sangrai. Sensasi sederhana inilah yang justru menjadi ciri khas yang membedakannya dengan kue modern.

Gorengan wijen terbuat dari bahan-bahan yang sangat familiar di dapur tradisional: tepung terigu, tapioka, kelapa, dan gula pasir yang direbus menjadi adonan. Tanpa pewarna, tanpa bahan tambahan.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Semua rasa berasal dari bahan-bahan alami.

Proses pembuatannya juga tidak mudah. Hingga saat ini sebagian besar produsen masih menggunakan peralatan tradisional. Adonan diaduk secara manual, dibentuk satu per satu, lalu dipanggang hingga kering dan renyah.

Dahulu kue ini dipanggang menggunakan oven berbahan bakar arang. Saat ini beberapa produsen mulai beralih ke gas LPG untuk menjaga kestabilan panas. Meski teknologinya sedikit berubah, namun bentuk dan karakter kuenya tetap dipertahankan.

Bentuk bulatan seperti roda dan waru masih menjadi bentuk utama biji wijen. Penciptanya meyakini bentuknya tidak hanya estetis, tapi juga memiliki makna simbolis yang diwarisi generasi sebelumnya.

Sempat Hilang dari Pasar

Ada suatu masa ketika kekeringan wijen hampir tidak pernah terjadi.

Selama lebih dari satu dekade, kue ini perlahan menghilang dari pasaran. Bahkan banyak orang yang mulai lupa pernah menikmati jajanan ini.

Sementara itu, pasar jajanan dipenuhi dengan berbagai biskuit pabrikan dengan kemasan modern dan harga lebih murah. Kue-kue yang diproduksi secara industri dapat dijual lebih terjangkau karena diproduksi secara massal dengan menggunakan mesin.

Sedangkan pengeringan wijen dilakukan di rumah dalam skala kecil. Harga satu bungkusnya yang berkisar tiga puluh ribu rupiah seringkali dianggap lebih mahal dibandingkan biskuit pabrik.

Padahal harga tersebut mencerminkan proses panjang yang tetap dilakukan dengan cara tradisional.

Pernah menjadi hadiah ibadah haji

Pada tahun 1980an hingga 1990an, biji wijen mempunyai kedudukan tersendiri di masyarakat Kudus.

Saat musim haji tiba, kue ini sering dijadikan oleh-oleh saat masyarakat menunaikan ibadah haji – tradisi menjenguk atau menjenguk keluarga yang akan berangkat ke tanah suci.

Jajanan ini merupakan simbol kebersamaan dan doa. Dihadirkan dalam kemasan sederhana, namun sarat makna.

Banyak orang yang masih mengingat cita rasa kue itu saat berkumpul bersama keluarga, minum kopi, dan ngobrol panjang lebar di ruang tamu.

Salah satu cara terbaik menikmati biji wijen adalah dengan secangkir kopi panas.

Beberapa orang bahkan punya kebiasaan mencelupkan kue ini ke dalam kopi sebelum menyantapnya. Teksturnya yang renyah berubah menjadi sedikit empuk, sedangkan rasa kelapa dan wijennya semakin keluar.

Perpaduan sederhana ini memberikan pengalaman rasa yang hangat dan akrab.

Jejak pengeringan wijen masih bertahan melalui keluarga besar pembuatnya di Desa Langgardalem kawasan Kudus Kulon.

Ahli waris pembuat kue ini berasal dari keluarga Mbah Masmichah yang telah lama dikenal sebagai pionir produksi jajanan wijen di daerah tersebut.

Dulu, dapur produksi mereka sangat sibuk. Kue diproduksi hampir setiap hari dengan bantuan pekerja. Aktivitasnya menyerupai pabrik rumahan yang ramai.

Kini produksinya tidak lagi sebesar dulu. Tantangan bahan baku menjadi salah satu penyebabnya.

Kelapa merupakan bahan penting dalam adonan wijen kering. Tanpa kelapa, rasa kue ini tidak akan sama.

Sayangnya, belakangan ini harga kelapa kerap melonjak. Pasokan yang tidak stabil membuat produsen kesulitan mempertahankan biaya produksi.

Jika harga kue dinaikkan terlalu tinggi, pembeli bisa saja beralih ke jajanan lain. Namun, jika harga ditetapkan, keuntungan akan sangat kecil.

Kondisi ini menyebabkan produksi wijen kering seringkali menunggu harga kelapa kembali stabil.

Pasar makanan ringan saat ini sangat kompetitif. Generasi milenial dan gen Z lebih akrab dengan jajanan kekinian yang penuh varian rasa dan tampilan menarik.

Di sisi lain, kekeringan wijen hadir dengan kesederhanaan. Tanpa pewarna, tanpa tambahan penyedap rasa.

Tapi justru di situlah letak keistimewaannya.

Kue ini memiliki keaslian yang jarang ditemukan pada jajanan masa kini. Setiap gigitannya membawa cerita tentang dapur tradisional, tentang resep keluarga, dan tentang perjalanan panjang kuliner lokal.

Banyak daerah di Jawa Tengah yang mempunyai kue khas yang banyak dikenal, seperti Jenang Kudus, Wingko Babat, dan Gethuk Magelang.

Biji wijen sebenarnya mempunyai potensi yang sama.

Sebagai kue yang sudah ada sejak sebelum kemerdekaan, menyimpan nilai sejarah sekaligus kekayaan budaya kuliner.

Kue ini sangat layak untuk menjadi bagian dari etalase toko oleh-oleh. Bukan hanya karena rasanya yang khas, tapi juga karena panjang cerita yang menyertainya.

Keluarga pewaris resep tersebut tetap berusaha mempertahankan tradisi tersebut. Mereka berharap wijen penjemur dapat dikenal kembali secara luas tanpa kehilangan jati dirinya.

Harapan ini juga ditujukan sebagai dukungan pemerintah daerah agar kue-kue legendaris tersebut diinventarisasi dan diperkenalkan kembali sebagai kekuatan UMKM lokal.

Jika tradisi kuliner ini terus dipertahankan, jajanan wijen tak hanya bertahan lama sebagai camilan.

Ia bisa kembali menjadi kuliner kebanggaan Kudus.

Dan bagi siapa pun yang pernah mencicipinya, satu gigitan saja sudah cukup untuk membawa pulang kenangan lama—dengan rasa yang hangat, sederhana, dan renyah yang sulit dilupakan. (Syahirul Alem, Penulis Literasi)

Simak berita dan artikel lainnya di Google Berita



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *






Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg