Sosok Eggi Sudjana kembali mendapat sorotan tajam. Aktivis Demokrasi dan Eksponen Angkatan 1998, Andrianto Andri, terang-terangan membeberkan apa yang disebutnya sebagai kontradiksi akut antara ucapan dan tindakan Eggi Sudjana – sebuah pola lama yang menurutnya berulang kali merusak semangat gerakan aktivisme.
Kepada KBA News, Minggu (18/1/2026), Andri mengatakan Eggi dikenal di kalangan aktivis bukan sebagai sosok panutan, melainkan sosok yang memiliki rekam jejak transaksional.
“Dia sering menggunakan pola yang sama: menghajar, lalu diakhiri dengan transaksi. Kata-katanya keras, tapi tindakannya berbalik arah,” kata Andri, mantan Sekjen Pro Demokrasi (ProDem).
Andri menyinggung sikap Eggi dalam polemik dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Awalnya, Eggi berada di garda depan menyerang Jokowi, membela Bambang Tri dan Gus Nur, hingga lantang di media yang menyebut ijazah Jokowi palsu.
Namun sikap tersebut berubah drastis setelah Eggi ditetapkan sebagai tersangka pencemaran nama baik.
“Akhirnya ada perdamaian di luar pengadilan melalui Restorative Justice. Dari musuh besar tiba-tiba menjadi teman,” tegas Andri.
Ia menilai kejadian tersebut menjadi bukti kuat pengaruh Jokowi yang masih sangat besar di kepolisian, meski era kekuasaannya telah berakhir.
“Ini berbahaya bagi demokrasi. Polisi kembali menjadi alat barter dan tekanan politik,” ujarnya.
Menurut Andri, kelakuan Eggi bukanlah hal baru. Ia mengungkit peristiwa tahun 1998 ketika gerakan prodemokrasi menuntut penyelidikan skandal BLBI. Saat itu, Eggi ikut berunjuk rasa, namun hanya fokus menyerang satu nama: Syamsul Nursalim.
Anehnya, lalu dia berhenti sendiri. Teman-teman aktivisnya tahu persis apa yang terjadi. Ada transaksi. Nilainya miliaran. Saksinya banyak, kata Andri.
Pola serupa, kata dia, juga terlihat pada kasus Hary Tanoesoedibjo pada 2005, kemudian terulang pada kasus Ahok pada 2017. Awalnya alot, lalu tiba-tiba melunak.
Andri bahkan menyebut Eggi sebagai istilah yang banyak dikenal di kalangan pergerakan.
“Dia contoh klasik aktivis Bodrex. Pukul sasaran, buat sasaran takut, lalu ajak perdamaian dengan kompensasi uang,” ujarnya lugas.
Karena itu, Andri menilai wajar jika Eggi tidak pernah menduduki jabatan strategis di kantor publik.
Bandingkan dengan orang-orang seangkatan: Yusril, Kaban, Ahmad Yani, Bursa Zarnubi. Mereka punya jenjang karier yang jelas. Eggi selalu mentok, ujarnya.
Andri pun menyoroti pengakuan Eggi bahwa dirinya mengidap kanker usus besar stadium 4. Ia mempertanyakan validitas narasi tersebut setelah Eggi terlihat mengendarai mobil di Kuala Lumpur.
“Mungkin ini juga strategi mencari simpati. Berdamai dengan Jokowi, dapat SP3, bahkan mungkin dapat ‘sangu’. Isunya sampai miliaran,” pungkas Andrianto Andri.
Tidak ada komentar