Jakarta – Fusilatnews. Pada hari ini, Sabtu 28 Februari 2026, eskalasi terbesar dalam sejarah konflik Timur Tengah terjadi. Israel, dengan dukungan operasional penuh dari Amerika Serikat, melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah fasilitas strategis milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan infrastruktur nuklir sipil milik Tehran.
Berdasarkan laporan yang dihimpun dari Fox News, Reuters, serta konfirmasi dari sumber-sumber intelijen kawasan, operasi ini telah berlangsung sejak Jumat malam waktu setempat dan memasuki fase kedua pada Sabtu dini hari. Berikut analisis mendalam Fusilatnews mengenai dinamika, target, dan implikasi strategis dari serangan ini.
Serangan dimulai pada pukul 23.45 waktu Tehran (03.15 WIB) dengan gelombang pertama yang terdiri dari puluhan drone siluman Israel (IAI Harop) dan rudal jelajah yang diluncurkan dari pesawat tempur F-35I “Adir” milik Angkatan Udara Israel. Gelombang ini difokuskan untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara Iran, terutama radar jarak jauh dan baterai S-300PMU2 yang menjaga perimeter fasilitas nuklir.
Pada pukul 01.30 dini hari, gelombang kedua tiba. Sumber dari Kementerian Pertahanan Irak mengonfirmasi bahwa setidaknya 12 pesawat tempur F-35C dan F/A-18 Super Hornet yang lepas landas dari kapal induk USS Gerald R. Ford di Laut Arab ikut ambil bagian. Mereka menyerang sasaran-sasaran yang sebelumnya telah diidentifikasi oleh intelijen bersama Mossad-CIA.
Hingga berita ini diturunkan, terdengar setidaknya 15 ledakan besar di wilayah Tehran, Isfahan, dan Shiraz.
Berdasarkan citra satelit dan laporan dari sumber di dalam IRGC, berikut adalah daftar target yang berhasil dihimpun Fusilatnews:
A. Fasilitas Nuklir
1. Natanz: Fasilitas pengayaan bahan bakar utama. Dihantam oleh setidaknya empat bom penghancur bunker tipe GBU-43/B Massive Ordnance Penetrator yang dikirim oleh Angkatan Udara AS. Kerusakan diperkirakan mencapai 70% pada bangunan utama.
2. Fordow: Fasilitas bawah tanah di dekat Qom. Menjadi target serangan dengan bom pintar yang dirancang khusus untuk menembus kedalaman lebih dari 80 meter beton. Status operasional fasilitas ini dilaporkan lumpuh total.
3. Isfahan: Pabrik konversi uranium dan pusat penelitian. Mengalami kerusakan parah pada gedung reaktor riset.
B. Infrastruktur Militer
1. Pangkalan Udara Mehrabad: Pangkalan militer di barat Tehran yang menjadi basis pesawat tempur dan helikopter IRGC. Landasan pacu dan hanggar rusak berat.
2. Komando Pusat IRGC: Markas besar IRGC di Tehran Selatan dilaporkan terkena serangan rudal, menewaskan sejumlah perwira senior (identitas masih dikonfirmasi).
3. Sistem Pertahanan Udara: Radar jarak jauh di sekitar Buschehr dan instalasi S-400 (yang baru saja dikirim Rusia) dihancurkan pada menit-menit awal serangan untuk membuka jalur udara.
Sumber di Pentagon, yang berbicara dengan syarat anonim, mengonfirmasi bahwa dukungan AS tidak terbatas pada logistik dan intelijen. Berikut rincian keterlibatan AS:
Meskipun serangan ini bersifat menghancurkan, sistem pertahanan Iran tidak sepenuhnya diam. Pada pukul 02.15 waktu setempat, IRGC meluncurkan setidaknya 50 rudal balistik tipe Shahab-3 dan Ghadr-H sebagai aksi balasan. Targetnya adalah pangkalan militer AS di Irak (Ain al-Asad dan Erbil) serta target di dalam wilayah Israel.
Sejauh ini, sistem pertahanan Iron Dome Israel dan sistem THAAD AS yang ditempatkan di Israel dilaporkan berhasil mencegat sebagian besar rudal, namun beberapa rudal berhasil menerobos dan menyebabkan kerusakan di permukiman sipil di area Golan Heights.
Di dalam negeri Iran, pemimpin tertinggi Ayatullah Ali Khamenei telah memanggil Dewan Keamanan Nasional untuk mengadakan rapat darurat. Sumber-sumber di Tehran menyebutkan bahwa opsi untuk menutup Selat Hormuz dan menyerang secara terbuka pangkalan-pangkalan AS di Teluk telah masuk dalam meja diskusi.
Dari sudut pandang militer, serangan ini mencapai target taktisnya: melumpuhkan program nuklir Iran untuk sementara waktu. Namun, dari perspektif strategis, dunia kini berada di ambang perang terbuka.
Skenario 1: Perang Terbatas (Probabilitas 40%)
Iran membalas secara terukur melalui proksi (Hizbullah, milisi Irak, Houthi) untuk menghindari perang total. AS dan Israel puas dengan kerusakan yang ditimbulkan dan tidak melakukan serangan lanjutan. Konflik berubah menjadi perang attrition berkepanjangan.
Skenario 2: Eskalasi Regional Penuh (Probabilitas 50%)
Iran melancarkan serangan rudal besar-besaran ke Israel dan pangkalan AS di Teluk. AS membalas dengan menyerang fasilitas minyak dan militer Iran. Hizbullah menembakkan 100.000 roket ke Israel. Ini akan memicu krisis kemanusiaan dan ekonomi global yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Skenario 3: Keruntuhan Rezim (Probabilitas 10%)
Jika serangan ini berhasil membunuh tokoh-tokoh kunci IRGC dan memicu ketidakstabilan ekonomi parah, protes rakyat bisa muncul kembali. Namun, skenario ini kecil kemungkinannya karena soliditas internal IRGC masih tinggi.
Operasi militer gabungan Israel-AS pada 28 Februari 2026 adalah titik balik dalam geopolitik kawasan. Secara militer, Iran kehilangan sebagian besar kemampuan nuklir dan pertahanan udaranya. Namun, secara politis, serangan ini justru menyatukan rakyat Iran di belakang rezim dan memberikan justifikasi bagi Tehran untuk secara resmi keluar dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) serta mengejar senjata nuklir secara terbuka.
Perang ini belum berakhir; ia baru memasuki babak yang paling berdarah. Fusilatnews akan terus memantau perkembangan situasi dan menyajikan analisis berbasis data intelijen dan militer.
Tidak ada komentar