Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) menggelar kegiatan buka puasa bersama di hari ke-15 Ramadhan, Kamis (5/3/2026), dengan mengusung tema “Peran Masjid.” Kegiatan ini menjadi ruang diskusi penting bagi para pemuka agama, pengurus masjid dan masyarakat untuk berdiskusi bagaimana masjid dapat berfungsi lebih luas di era digitalisasi dan globalisasi.
Acara hangat ini tidak hanya menjadi momentum silaturahmi di bulan suci Ramadhan, namun juga membuka wacana mengenai fungsi masjid yang tidak sebatas sebagai tempat salat lima waktu, namun juga sebagai pusat tholabul ilmi atau mencari ilmu bagi seluruh lapisan masyarakat.
Mulai dari laki-laki, perempuan, orang tua hingga anak-anak diharapkan dapat menjadikan masjid sebagai ruang bersama untuk memperkuat nilai-nilai spiritual, sosial, dan intelektual.
Penyelenggara acara sekaligus budayawan asal Lamongan, Cak Rochim membuka kegiatan dengan gaya bahasa sastra yang khas. Dalam pengantarnya, beliau menyoroti fenomena pembangunan masjid yang seringkali terlihat megah dari segi arsitektural, namun belum tentu dibarengi dengan kehidupan keagamaan yang kuat di dalamnya.
Menurutnya, kemegahan sebuah masjid tidak hanya terletak pada fisik bangunannya saja, namun pada aktivitas ibadah dan interaksi manusia di dalamnya.
“Masjid tidak hanya megah dari arsitektur bangunannya saja, tapi juga apa yang ada di dalamnya. Di sanalah manusia berinteraksi secara sakral dengan Tuhannya, Allah SWT, sekaligus menjalin kedekatan dengan sesama manusia,” kata Cak Rochim.
Ia menambahkan, masjid idealnya menjadi ruang spiritual sekaligus ruang sosial yang mempersatukan umat.
Dalam sesi materi, Wakil Ketua PCNU Kyai Nur Salim mencontohkan keberhasilan pengelolaan Masjid Jogokariyan Yogyakarta yang dikenal aktif dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, konsep yang dibangun Masjid Jogokariyan sebenarnya sederhana, yakni mengajak masyarakat untuk selalu datang dan berkumpul di masjid.
“Ketika masyarakat sering berkumpul di masjid, maka akan muncul ide, inovasi, dan konsep di sana. Masjid menjadi ruang berbagi ilmu tanpa memandang profesi atau golongan,” kata Kyai Nur Salim.
Ditegaskannya, masjid bisa menjadi pusat pemberdayaan masyarakat jika dikelola secara terbuka dan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Hal senada juga disampaikan Kyai Faqih, menekankan pentingnya sikap luwes Nahdlatul Ulama dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, NU harus tetap hadir di masyarakat tanpa melihat latar belakang organisasi atau kelompok agama di suatu daerah.
“NU tetap bisa berinteraksi di daerah mana pun, baik yang berbasis Muhammadiyah maupun NU. Kita saling berbagi dan memahami,” ujarnya.
Ia juga mengibaratkan perbedaan amalan ibadah dengan istilah “dua tiga atau tiga dua” dalam shalat. Menurutnya, perbedaan tersebut harus disikapi dengan musyawarah dan saling menghormati.
“Perbedaan merupakan anugerah indah dari Allah SWT bagi umat manusia,” jelasnya.
Sementara itu, Ustadz Dr Saunan Al Faruq menyoroti pentingnya transparansi dalam pengelolaan masjid, khususnya dalam program kerja dan pengelolaan keuangan.
Ia menyinggung pengembangan konsep Masjid Gus Dur yang mengedepankan nilai keterbukaan dan kepercayaan masyarakat.
Menurutnya, laporan kegiatan dan keuangan masjid perlu dipublikasikan secara berkala, termasuk melalui media digital.
“Kita harus hati-hati dalam pemberitaan dan pencatatan. Jika seluruh program dan keuangan transparan dan terus diupdate melalui media, maka kepercayaan masyarakat akan meningkat,” ujarnya.
Pembahasan juga menyinggung keberadaan anak-anak di lingkungan masjid yang sering bermain bersama teman-temannya. Menurut sumber, hal ini sebenarnya menjadi peluang bagi pengurus masjid untuk menciptakan ruang pendidikan ramah anak.
Masjid Ta’mir diharapkan mampu memfasilitasi kegiatan yang sesuai dengan karakter anak sehingga mereka merasa nyaman berada di masjid.
“Anak-anak ini adalah calon penerus. Masjid harus menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan bagi mereka, sekaligus menjadi ruang pendidikan,” ujar salah satu pembicara.
Namun cara pengelolaan aktivitas anak di masjid perlu dilakukan dengan pendekatan yang tepat agar suasana ibadah tetap terjaga.
Acara buka puasa bersama ditutup dengan doa oleh Ustadz Hanafi. Dalam doanya, beliau berharap diskusi dan kajian yang telah dilakukan dapat membawa keberkahan bagi umat.
Beliau juga memimpin pembacaan doa buka puasa bersama seluruh peserta yang hadir.
“Semoga kajian dan diskusi yang kita lakukan bersama ini mendapat keberkahan yang melimpah dari Allah SWT,” pungkas Ustadz Hanafi.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan peran masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan dan pemberdayaan umat di tengah tantangan zaman yang terus berkembang. Wartawan: Hadi Hoy
Tidak ada komentar