Memasuki hari ke-11 Ramadhan, Minggu (1/3/2026), Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Lamongan menyelenggarakan forum diskusi bertajuk “Revitalisasi Abad Kedua NU” di Jl. Kyai Amin No. 9, Desa Sidokumpul, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan.
Forum ini dihadiri sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama antara lain Kyai Nursalim selaku Wakil Ketua PCNU Lamongan, Kyai Syarif Hidayat, Ustadz Adi Farid, Kyai Bi’in Abdus Salam (Mustasyar NU Cabang Lamongan), Sekretaris Dinas Sosial Dr.
Diskusi diawali dengan doa bersama untuk pemimpin Iran, Ali Khamenei yang dikabarkan meninggal dunia.
Dalam pemaparannya, Kyai Syarif Hidayat menegaskan, membahas NU abad kedua tidak lepas dari sejarah panjang organisasi yang didirikan sang musiss.
“Betul. Bicara NU abad kedua tidak bisa dimulai dari nol. Harus dimulai dari kilas balik, dari landasan yang sudah dibangun oleh muassis. Kyai ‘desa’ itu punya ide berlian dan melampaui batas wilayah. Itu jawaban kebingunan koordinasi kita saat ini,” tuturnya.
Ia kemudian menguraikan garis sejarah perjalanan Nahdlatul Ulama sejak berdirinya pada tahun 1926, mulai dari kepedulian global terhadap muassis pada tahun 1920-an, peran pentingnya dalam Resolusi Jihad tahun 1945, hingga tantangan peradaban di era disrupsi digital saat ini.
Menurutnya, lemahnya koordinasi di tingkat cabang patut dibaca sebagai cerminan besarnya tantangan yang dihadapi NU memasuki abad kedua.
Sementara itu, Kyai Nursalim mencetuskan ide-ide segar dengan analogi yang menarik.
Tantangannya sekarang bagaimana kita punya ikon. Lamongan dulu satu-satunya organisasi NU yang mencetuskan gerakan 30 organ. Itu bukti kita bisa jadi trigger. Sekarang tinggal bagaimana kita mereplikasi dan menghadirkan ikon baru,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya inovasi, penguatan database warga, dan transformasi digital agar NU tidak tertinggal dalam arus perubahan zaman.
Kyai Bi’in Abdus Salam dalam penyampaiannya mengingatkan pentingnya meneladani para pendahulunya, khususnya Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Dikatakannya, sebelum menjadi Presiden, Gus Dur meminta kepada para kyai sepuh untuk meminta restu dan bimbingan, termasuk kepada para ulama. Sikap tersebut menunjukkan pentingnya adab, tawadhu, dan mengedepankan nilai-nilai kemaslahatan dalam kepemimpinan berbangsa dan bernegara.
“Beliau dikenal sebagai Bapak Toleransi Nasional, dengan segala perbedaan yang ada. Ini patut ditiru khususnya oleh Nahdliyin dan generasi muda,” tutupnya.
Dalam forum tersebut, para peserta menyepakati tiga poin penting sebagai langkah revitalisasi:
Kesadaran berskala besarbahwa pengumpulan data warga dan pengelolaan anggaran merupakan bagian dari pembangunan database kemanusiaan.
Belajar dari sejarahmembangun kemandirian data, program dan koordinasi sebagaimana kyai sebelumnya membangun kemandirian ilmu pengetahuan, ekonomi dan basis massa.
Menjadikan krisis sebagai gurudengan memperhatikan situasi geopolitik global serta memikirkan advokasi bagi calon jemaah haji yang tertunda dan mempersiapkan literasi digital Wasathiyah Islam.
Forum ini menegaskan bahwa persoalan koordinasi internal PCNU Lamongan merupakan miniatur dari tantangan besar NU di abad kedua. Jika koordinasi masih perlu diperkuat di tingkat kabupaten, maka pembenahan harus dimulai dari dapur organisasi itu sendiri.
Diskusi ditutup dengan penegasan bahwa NU Lamongan harus berperan aktif, bukan menjadi penonton dalam dinamika global.
“Dapur Lakpesdam harus terus bertenaga, tidak hanya untuk urusan dalam negeri, tapi menjadi penyuplai energi gerak NU di kancah global,” tegas salah satu peserta. Wartawan: Hadi Hoy
Tidak ada komentar