FusilatNews – Di tengah dunia yang bergolak oleh konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran, Indonesia justru mengajukan satu resep lama: pariwisata sebagai penopang ekonomi.
Sebuah narasi yang terdengar optimistis.
Tetapi jika ditelisik lebih dalam, ia lebih menyerupai ilusi yang dipoles menjadi strategi.
Dorongan pemerintah—melalui Airlangga Hartarto—untuk memperkuat pariwisata sebagai respons terhadap krisis global menunjukkan satu hal:
keyakinan bahwa sektor ini cukup tangguh untuk menahan guncangan dunia.
Masalahnya, keyakinan itu bertolak belakang dengan realitas.
Pariwisata bukan fondasi ekonomi. Ia adalah produk dari stabilitas.
Ia tumbuh ketika dunia damai, bukan ketika dunia retak.
Menjadikannya sebagai bantalan krisis adalah seperti berharap bunga tetap mekar di tengah badai.
Selama bertahun-tahun, Indonesia tampak nyaman dengan pola ekonomi yang bertumpu pada:
konsumsi
komoditas
dan pariwisata
Tiga sektor yang sama-sama rentan terhadap gejolak global.
Ketika harga komoditas jatuh, ekonomi goyah.
Ketika daya beli melemah, konsumsi turun.
Dan ketika perang pecah—pariwisata runtuh lebih dulu.
Namun alih-alih melakukan koreksi struktural, negara justru kembali pada sektor yang sama.
Seolah tidak ada pelajaran dari krisis sebelumnya.
Ada kesalahpahaman besar dalam melihat pariwisata sebagai sektor “aman”.
Padahal, ia adalah sektor yang paling politis—meski tidak terlihat.
Keputusan seseorang untuk berwisata sangat ditentukan oleh:
Dalam konteks perang AS–Israel vs Iran, ketiganya runtuh sekaligus.
Maka harapan bahwa wisatawan akan tetap datang adalah asumsi yang terlalu sederhana—bahkan naif.
Pernyataan pemerintah tentang penguatan pariwisata terdengar seperti upaya menenangkan pasar.
Tetapi di lapangan, indikatornya berbicara lain:
harga tiket pesawat meningkat akibat lonjakan energi
jalur penerbangan terganggu
wisatawan global menahan perjalanan
Dalam kondisi seperti ini, promosi wisata tidak akan cukup.
Diskon hotel tidak akan cukup.
Bahkan branding “Wonderful Indonesia” pun tidak akan cukup.
Karena masalahnya bukan pada destinasi—
tetapi pada dunia yang sedang kehilangan rasa aman.
Yang paling mengkhawatirkan bukanlah pilihan pada pariwisata,
melainkan ketiadaan strategi alternatif.
Di mana diversifikasi ekonomi?
Di mana penguatan industri berbasis teknologi?
Di mana kemandirian energi yang bisa meredam dampak konflik global?
Alih-alih menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, negara justru kembali pada sektor yang paling mudah dipromosikan—bukan yang paling kuat menopang.
Mengapa pariwisata terus diandalkan?
Karena ia nyaman secara politik.
Tetapi justru di situlah bahayanya.
Kenyamanan politik sering kali melahirkan kebijakan yang dangkal.
Mengandalkan pariwisata di tengah konflik global bukan sekadar optimisme.
Ia bisa menjadi bentuk penyangkalan terhadap realitas.
Dunia sedang memasuki fase baru—lebih keras, lebih tidak pasti, dan lebih terfragmentasi.
Dalam dunia seperti ini, ekonomi tidak bisa lagi bertumpu pada sektor yang rapuh.
Pariwisata tetap penting.
Tetapi menjadikannya sebagai tumpuan di tengah krisis global adalah pertaruhan yang terlalu besar.
Dan sejarah menunjukkan:
negara yang salah membaca krisis, biasanya membayar dengan harga yang jauh lebih mahal.
Tidak ada komentar