Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Indonesia Aneh: Menjual Liburan di Tengah Krisis – Negara Bertaruh pada Ilusi Pariwisata

waktu baca 3 menit
Selasa, 17 Mar 2026 12:19 11 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

FusilatNews – Di tengah dunia yang bergolak oleh konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran, Indonesia justru mengajukan satu resep lama: pariwisata sebagai penopang ekonomi.

Sebuah narasi yang terdengar optimistis.
Tetapi jika ditelisik lebih dalam, ia lebih menyerupai ilusi yang dipoles menjadi strategi.


Kebijakan yang Terlalu Cepat Percaya

Dorongan pemerintah—melalui Airlangga Hartarto—untuk memperkuat pariwisata sebagai respons terhadap krisis global menunjukkan satu hal:
keyakinan bahwa sektor ini cukup tangguh untuk menahan guncangan dunia.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Masalahnya, keyakinan itu bertolak belakang dengan realitas.

Pariwisata bukan fondasi ekonomi. Ia adalah produk dari stabilitas.
Ia tumbuh ketika dunia damai, bukan ketika dunia retak.

Menjadikannya sebagai bantalan krisis adalah seperti berharap bunga tetap mekar di tengah badai.


Ketergantungan yang Salah Arah

Selama bertahun-tahun, Indonesia tampak nyaman dengan pola ekonomi yang bertumpu pada:

  • konsumsi

  • komoditas

  • dan pariwisata

Tiga sektor yang sama-sama rentan terhadap gejolak global.

Ketika harga komoditas jatuh, ekonomi goyah.
Ketika daya beli melemah, konsumsi turun.
Dan ketika perang pecah—pariwisata runtuh lebih dulu.

Namun alih-alih melakukan koreksi struktural, negara justru kembali pada sektor yang sama.
Seolah tidak ada pelajaran dari krisis sebelumnya.


Pariwisata: Sektor yang Tidak Pernah Netral

Ada kesalahpahaman besar dalam melihat pariwisata sebagai sektor “aman”.

Padahal, ia adalah sektor yang paling politis—meski tidak terlihat.

Keputusan seseorang untuk berwisata sangat ditentukan oleh:

Dalam konteks perang AS–Israel vs Iran, ketiganya runtuh sekaligus.

Maka harapan bahwa wisatawan akan tetap datang adalah asumsi yang terlalu sederhana—bahkan naif.


Antara Retorika dan Realitas

Pernyataan pemerintah tentang penguatan pariwisata terdengar seperti upaya menenangkan pasar.
Tetapi di lapangan, indikatornya berbicara lain:

  • harga tiket pesawat meningkat akibat lonjakan energi

  • jalur penerbangan terganggu

  • wisatawan global menahan perjalanan

Dalam kondisi seperti ini, promosi wisata tidak akan cukup.
Diskon hotel tidak akan cukup.
Bahkan branding “Wonderful Indonesia” pun tidak akan cukup.

Karena masalahnya bukan pada destinasi—
tetapi pada dunia yang sedang kehilangan rasa aman.


Absennya Strategi Jangka Panjang

Yang paling mengkhawatirkan bukanlah pilihan pada pariwisata,
melainkan ketiadaan strategi alternatif.

Di mana diversifikasi ekonomi?
Di mana penguatan industri berbasis teknologi?
Di mana kemandirian energi yang bisa meredam dampak konflik global?

Alih-alih menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, negara justru kembali pada sektor yang paling mudah dipromosikan—bukan yang paling kuat menopang.


Pariwisata dan Politik Kenyamanan

Mengapa pariwisata terus diandalkan?

Karena ia nyaman secara politik.

Tetapi justru di situlah bahayanya.

Kenyamanan politik sering kali melahirkan kebijakan yang dangkal.


Penutup: Antara Harapan dan Penyangkalan

Mengandalkan pariwisata di tengah konflik global bukan sekadar optimisme.
Ia bisa menjadi bentuk penyangkalan terhadap realitas.

Dunia sedang memasuki fase baru—lebih keras, lebih tidak pasti, dan lebih terfragmentasi.
Dalam dunia seperti ini, ekonomi tidak bisa lagi bertumpu pada sektor yang rapuh.

Pariwisata tetap penting.
Tetapi menjadikannya sebagai tumpuan di tengah krisis global adalah pertaruhan yang terlalu besar.

Dan sejarah menunjukkan:
negara yang salah membaca krisis, biasanya membayar dengan harga yang jauh lebih mahal.



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *






Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg