Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Ketika Sakit Menjadi Isyarat Tuhan

waktu baca 3 menit
Minggu, 1 Feb 2026 11:54 11 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Oleh: Willy Fujiwara

Hidup, bagi saya, bukan sekadar hitungan tahun. Ia adalah rangkaian pengalaman—dirasakan, dijalani, dan diamati—yang membentuk kesadaran pelan-pelan. Lebih dari 80 tahun saya hidup, dan dari perjalanan panjang itu, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: nikmat hidup tidak bisa diukur dengan apa pun, kecuali oleh tiga hal—sehat, sakit, dan materi.

Ketiganya saling menopang, sekaligus kerap saling berbenturan. Sehat memungkinkan manusia mengejar materi. Materi sering memberi rasa aman saat sakit. Namun jika salah mengelola, justru di situlah benturan terjadi. Sehat membuat lupa batas. Materi meninabobokan. Sakit datang sebagai pengingat yang tak bisa ditawar.

Yang paling sulit, dari semua itu, adalah melepaskan nikmat materi yang sudah dimiliki. Melepaskan bukan soal kehilangan harta, melainkan mengalahkan keterikatan. Tanpa ilmu dan iman, upaya ini nyaris mustahil. Nafsu selalu punya alasan untuk bertahan. Iman, sebaliknya, mengajak untuk melepaskan. Di sanalah pertarungan batin itu berlangsung—sunyi, tapi melelahkan.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Saya bersyukur, sejak kecil hingga menginjak dewasa, saya hidup mandiri. Saya merasakan nikmat materi dan fasilitas hidup, tanpa pernah merasakan nikmat sakit yang sesungguhnya. Rumah sakit kala itu hanyalah tempat orang lain. Sampai usia lanjut datang membawa ujian yang tak bisa dihindari: sakit, dan harus menginap di rumah sakit.

Di situlah saya belajar makna lain dari nikmat. Sakit bukan sekadar penderitaan. Ia adalah sinyal. Sebuah peringatan yang halus namun tegas, bahwa Allah masih memberi perhatian dan kasih sayang. Sakit adalah cara Tuhan mengetuk kesadaran manusia. Bila disyukuri, sakit datang bersama obatnya. Tinggal manusia mau berikhtiar atau tidak.

Saat sakit, manusia kehilangan banyak sandaran duniawi. Di titik itulah pencarian kepada Allah menjadi nyata. Zikir terasa lebih jujur. Doa lebih sungguh-sungguh. Kedekatan terasa bukan karena kata-kata, melainkan karena kebutuhan. Dan ketika hubungan itu tersambung, harapan pun tumbuh—bahwa Allah akan mengijabah permohonan hamba-Nya.

Secara aktual, sehat adalah surga dunia. Sakit adalah neraka dunia. Namun bila ditafsirkan lebih dalam, keduanya bukan sekadar kondisi fisik. Ia adalah miniatur kehidupan akhirat. Di dunia ini, manusia sudah diperlihatkan gambaran surga dan neraka—agar kelak tak mengaku tak tahu.

Pilihan selalu ada di tangan manusia.

Bagi saya, kunci keberhasilan hidup bukan semata panjang umur, tetapi bagaimana umur itu diisi: beramal jariah, bermanfaat bagi keluarga dan sesama, tidak menjadi beban bagi siapa pun, bebas dari himpitan hidup, dan memiliki kemandirian—termasuk tabungan untuk diri sendiri.

Dan pada akhirnya, ada satu hal yang terasa paling berat: meninggalkan rumah Allah. Karena di sanalah manusia kembali diingatkan, bahwa hidup ini bukan tentang apa yang dimiliki, melainkan tentang apa yang ditinggalkan dalam kebaikan.

Hidup memang perjalanan. Dan saya telah melakoninya—dengan sehat, sakit, dan materi—sebagai guru-guru yang mengajarkan makna syukur, iman, dan keikhlasan.



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *






Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg