Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Melawan “Yazidisme” Modern: Melampaui Mazhab, Menuju Esensi Kemanusiaan

waktu baca 3 menit
Senin, 6 Apr 2026 22:52 11 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Oleh: Nazaruddin

Pernyataan Ali Khamenei: perang antara “Kubu Husseini” dan “Kubu Yazidi” sedang berlangsung dan tidak akan berakhir, bukanlah sebuah seruan perang sektarian, melainkan sebuah dialektika moral yang abadi. Namun, di tangan mesin propaganda takfiri, pesan filosofis ini didegradasi dan dimanipulasi menjadi sentimen kebencian antara Sunni dan Syiah.

Dialektika Husseini vs Yazidi: Prinsip vs Ambisi

Pemisahan antara “Husseini” dan “Yazidi” bukanlah pemisahan mazhab, melainkan pemisahan karakteristik kemanusiaan.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Kubu Husseini: Mewakili prinsip Izzah (kemuliaan) dan Ishlah (perbaikan). Hussain bin Ali di Karbala tidak sedang memperebutkan kursi kekhalifahan untuk dirinya sendiri, melainkan sedang menyelamatkan esensi Islam dari degradasi moral. Kubu ini adalah mereka yang memilih binasa dalam prinsip daripada hidup dalam kehinaan di bawah kaki tirani.

Kubu Yazidi: Mewakili sistem yang menghamba pada power-politics. Karakteristik Yazidisme adalah pragmatisme buta, penggunaan kekerasan struktural untuk membungkam oposisi, dan manipulasi agama sebagai stempel legalitas kekuasaan.

Mengidentikkan Yazidi dengan identitas Sunni adalah kekeliruan fatal. Sejarah mencatat bahwa mayoritas umat Islam saat itu, termasuk tokoh-tokoh besar di Madinah, menolak bait (sumpah setia) kepada Yazid karena dianggap tidak memenuhi kualifikasi moral seorang pemimpin.

Anatomi Istilah Rafidhah: Dari Politik ke Teologi

Penggunaan label “Rafidhoh” (Para Penolak) sering digunakan hari ini untuk menstigma kelompok Syiah sebagai sesat. Namun, secara historis, istilah ini memiliki pergeseran makna yang kompleks:

Asal-Usul Politik: Awalnya, istilah ini muncul dalam konteks politik di masa Dinasti Umayyah untuk melabeli siapa pun yang “menolak” ( yarfudhu) otoritas kekhalifahan. Dalam konteks ini, Rafidhah adalah simbol pembangkangan sipil terhadap tirani.

Transformasi Teologis: Seiring waktu, istilah ini bergeser menjadi peyoratif teologis. Pihak-pihak yang kontra-Syi’ah menggunakan istilah ini untuk merujuk pada mereka yang dianggap “menolak” keabsahan kepemimpinan Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Stigmatisasi “Sesat”: Narasi “Rafidhah Sesat” dikonstruksi secara masif untuk menciptakan social distancing di tengah umat. Dengan melabeli pendukung Ahlul Bayt sebagai “Penolak”, penguasa zaman dahulu berhasil mengisolasi mereka dari arus utama umat, mempermudah eksekusi politik dengan dalih menjaga kemurnian akidah.

Yazidisme di Era Modern

Di tahun 2024, di tengah debu reruntuhan Gaza, “Yazidisme” mewujud dalam bentuk baru. Ia adalah mereka yang:
* ​Diam seribu bahasa melihat genosida demi menjaga stabilitas ekonomi dan takhta.
* ​Memutarbalikkan fakta, menyebut pejuang kemerdekaan sebagai teroris, persis seperti Yazid menyebut Hussain sebagai pembangkang.
* ​Memelihara perpecahan sektarian agar umat tidak pernah bersatu melawan musuh bersama.

​Menjadi “Husseini” berarti memiliki keberanian untuk berkata “Tidak” (Laa) kepada kezaliman, meskipun seluruh dunia berusaha membungkam Anda. Ini bukan tentang identitas atau mazhab, ini adalah tentang di mana posisi jantung Anda berdetak: bersama si penindas, atau bersama mereka yang tertindas.



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *






Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg