Fusilatnews – Di tengah gemerlapnya peradaban modern Tiongkok, denyut kehidupan spiritual umat Muslim tetap berdetak dengan khusyuk, terutama saat bulan suci Ramadan tiba. Meskipun menjadi kelompok minoritas di negara dengan populasi terbesar dunia, dengan estimasi sekitar 25 juta jiwa , umat Islam di Tiongkok—yang sebagian besar berasal dari etnis Hui dan Uighur—menjalani ibadah puasa dengan penuh makna. Ramadan bagi mereka bukan sekadar kewajiban menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah perpaduan unik antara disiplin diri, rasa syukur, dan perayaan komunitas yang telah mengakar selama berabad-abad . Kehidupan mereka selama bulan penuh berkah ini mencerminkan keteguhan iman di tengah masyarakat multikultur, diwarnai tradisi lokal yang khas, serta mendapatkan apresiasi dan toleransi dari lingkungan sekitar.
Bagi umat Muslim Tiongkok, Ramadan dimulai dengan persiapan spiritual dan fisik. Menjelang bulan suci, rumah-rumah dibersihkan dan masjid-masjid dihias, mengganti karpet lama dengan yang baru, serta memasang lampu dan bendera berwarna-warni untuk menyambut tamu istimewa . Para ulama pun gencar mengadakan pertemuan keagamaan untuk membahas tuntunan puasa, hukum-hukumnya, serta mendorong jamaah untuk memperbanyak amal dan sedekah .
Irama harian selama Ramadan berubah drastis. Ma Jianzhong, seorang muslim etnis Hui di Lanzhou, bangun pagi untuk menyiapkan hidangan sahur sederhana sebelum berangkat ke Masjid Xiuheyan yang bersejarah untuk menunaikan Salat Subuh berjamaah . Di berbagai wilayah, tradisi bangun sahur juga diiringi dengan suara genderang. Meski frekuensinya berkurang, tradisi memukul drum sebelum waktu sahur masih berlangsung di beberapa komunitas, seperti di Yunnan, sebagai penanda bagi warga untuk bersiap makan .
Salah satu keunikan pelaksanaan ibadah di Tiongkok adalah tidak dikumandangkannya azan secara terbuka. Umat Muslim mengandalkan jam atau ponsel pintar mereka untuk menentukan waktu berbuka dan salat . Di masjid-masjid, jamaah akan berkumpul menjelang waktu Maghrib. Mereka tidak langsung berbuka besar, melainkan mendahuluinya dengan seteguk air atau kurma, berdzikir, dan membaca surah-surah pendek, kemudian melaksanakan Salat Maghrib berjamaah. Setelah itu, barulah mereka menuju ruang makan untuk menikmati hidangan berbuka bersama dalam suasana kebersamaan yang hangat .
Salat Tarawih juga memiliki corak tersendiri. Umat Muslim di Tiongkok umumnya mengikuti mazhab Hanafi. Di beberapa tempat, pelaksanaan Tarawih bisa berlangsung hingga larut malam karena adanya doa-doa tambahan . Tata caranya pun unik, seperti yang dialami mahasiswi Indonesia di Wuhan. Di masjid setempat, imam hanya memimpin jamaah laki-laki, sementara jamaah perempuan salat sendiri-sendiri namun dimulai dan diakhiri secara bersamaan, dengan seorang bilal sebagai penanda . Sepuluh malam terakhir Ramadan menjadi puncak spiritual dengan diadakannya qiyamulail, doa bersama, dan pembacaan Al-Qur’an untuk menyambut malam Lailatul Qadar .
Salah satu aspek paling menarik dari Ramadan di Tiongkok adalah tingginya toleransi dan rasa hormat dari masyarakat non-Muslim. Fenomena ini terlihat jelas di berbagai wilayah. Di Lanzhou, masyarakat non-Muslim bahkan turut mengunjungi masjid-masjid untuk menyampaikan salam hangat kepada umat Islam yang sedang beribadah . Hal senada juga diungkapkan oleh mahasiswa Indonesia di Wuhan, di mana toleransi kuat terasa dari kehadiran teman-teman non-Muslim dan mancanegara yang ikut berpartisipasi menyemarakkan acara berbuka puasa bersama .
Di lingkungan profesional, semangat toleransi ini juga terpupuk. Gandhi Priyambodho, seorang pengusaha Indonesia yang telah 15 kali menjalani puasa di Tiongkok, mengaku takjub dengan apresiasi rekan-rekan kerjanya yang non-Muslim. Mereka kerap mengamati dan mengagumi ketahanan fisik Muslim yang tetap bekerja produktif tanpa makan dan minum seharian. Rasa ingin tahu dan penghargaan mereka tumbuh, bahkan istilah “iftar” pun menjadi familiar digunakan untuk merujuk pada ibadah puasa .
Puncak dari harmoni ini terlihat dalam interaksi sosial sehari-hari, terutama di pusat-pusat kuliner. Kawasan Niu Jie (Jalan Sapi) di Beijing, yang merupakan pusat komunitas Muslim, menjadi bukti nyata. Saat bulan Ramadan, restoran-restoran halal atau qing zhen justru ramai dikunjungi oleh warga non-Muslim yang ingin menikmati hidangan khas setempat. Mereka antre membeli kudapan dan makan siang di restoran-restoran tersebut, menunjukkan bahwa kuliner halal telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan gastronomi lokal yang dinikmati semua kalangan .
Ramadan di Tiongkok juga identik dengan semaraknya pasar dan kelezatan kuliner khas. Pasar Ramadan (Ramadan bazaar) menjadi pusat keramaian yang dinanti, seperti yang digelar di kota Nagu, Yunnan. Pasar ini buka beberapa hari sebelum Ramadan dan tetap ramai hingga seminggu setelahnya. Aroma daging panggang, mi, aneka kue kering, dan susu teh manis memenuhi udara, menarik pengunjung dari berbagai kota, termasuk non-Muslim. Suasana riuh rendah ini benar-benar terasa seperti sebuah festival .
Kuliner berbuka dan sahur pun kaya ragam, mencerminkan luasnya geografi Tiongkok. Di Yunnan, mi beras menjadi favorit karena mudah dicerna . Di Lanzhou, etnis Hui menyiapkan gorengan khas seperti Youxiang dan Sazi, serta kurma manis dan aneka kue untuk berbuka . Sementara di Qinghai, hidangan seperti kue minyak (oil cakes), sup gandum, dan daging kambing genggam (hand-held lamb) menjadi santapan yang membawa kenangan mendalam . Hidangan pembuka berbuka hampir seragam di berbagai tempat, yaitu kurma merah yang direbus dengan gula, kemudian dilanjutkan dengan teh, dan hidangan utama seperti nasi dengan sayuran atau mi dengan daging .
Kemudahan mencari makanan halal juga menjadi nilai plus. Restoran halal atau qing zhen mudah dikenali dari papan reklame berhuruf Mandarin warna kuning dan hijau. Sertifikat halal dari Dewan Agama Islam biasanya terpampang di pintu masuk. Pengunjung cukup bertanya “Qing zhen cai ma?” (apakah ini makanan halal?) untuk memastikan kehalalan sebuah hidangan .
Hidup sebagai minoritas Muslim di era modern Tiongkok menuntut adaptasi. Durasi puasa yang panjang, yang bisa mencapai 13 hingga 17 jam tergantung wilayah dan musim, menjadi tantangan tersendiri . Umat Muslim, termasuk para perantau seperti mahasiswa atau pekerja dari Indonesia, harus pandai mengatur waktu antara kuliah, bekerja, memasak untuk sahur dan berbuka, serta beribadah . Namun, tantangan ini dihadapi dengan semangat. Teknologi modern seperti aplikasi pengingat waktu salat di ponsel menjadi penolong yang vital di tengah ketiadaan suara azan .
Pemerintah Tiongkok sendiri menunjukkan pengakuan terhadap keberadaan Muslim dengan mengeluarkan jadwal imsakiyah dan iftar resmi yang disesuaikan dengan waktu Beijing . Hal ini memudahkan umat Islam dalam menjalankan ibadahnya. Selain itu, hak-hak khusus diberikan kepada etnis minoritas Muslim, seperti tidak adanya pembatasan jumlah anak, yang menunjukkan adanya perlindungan konstitusional bagi suku-suku minoritas seperti Hui dan Uighur .
Di tengah hiruk-pikuk kota-kota besar, nilai-nilai Ramadan justru menguat. Perayaan Idul Fitri, misalnya, menjadi momentum kebersamaan yang sangat kuat. Keluarga berkumpul mengunjungi para sesepuh, anak-anak menerima “uang salam”, dan rumah-rumah dipenuhi tamu dalam suasana penuh suka cita . Bagi mereka yang merantau, seperti putra sulung Ma Jianzhong yang mengelola restoran halal di Shanghai, komunikasi dengan keluarga melalui panggilan video menjadi jembatan perekat silaturahmi di hari yang fitri .
Pada akhirnya, kehidupan umat Muslim di Tiongkok selama bulan Ramadan adalah sebuah narasi tentang keteguhan dan keindahan. Ia adalah kisah tentang bagaimana iman dapat terpelihara dengan kokoh dalam bingkai budaya lokal yang kaya. Ia juga merupakan potret harmoni sosial, di mana perbedaan dirayakan melalui rasa hormat dan partisipasi, baik dalam secangkir teh di pasar malam yang ramai maupun dalam sepiring kurma di masjid yang sunyi. Ramadan di Tiongkok, dengan segala keunikannya, membuktikan bahwa spiritualitas, tradisi, dan toleransi dapat berjalan beriringan, menciptakan simfoni kehidupan yang merdu di bulan yang suci.
Tidak ada komentar