Oleh : Yunus Hanis Syam, Alumni FAI UMY
Ramadhan kembali hadir sebagai ruang refleksi, tidak hanya bagi individu, namun juga bagi bangsa. Di tengah suasana spiritual yang mengajarkan pengendalian diri, masyarakat justru disuguhi pertarungan elite yang semakin terbuka untuk memperebutkan jabatan, pengaruh, dan akses terhadap kekuasaan. Politik kehilangan keheningan batinnya. Menjadi ajang transaksi, kalkulasi, dan ambisi yang ditampilkan tanpa rasa malu.
Kekuasaan, dalam realitas saat ini, ibarat meminum air laut. Semakin banyak Anda minum, semakin Anda haus. Mereka yang telah mencapai jabatan tertentu merasa belum cukup. Mereka yang sudah mempunyai pengaruh ingin memperluas dominasinya. Mereka yang menguasai sumber daya negara terus mencari celah untuk memperluas cengkeramannya. Keinginan itu tidak pernah berakhir.
Faktanya, Ramadhan mengajarkan satu prinsip mendasar: menahan diri. Puasa bukan sekedar menahan rasa lapar dan haus, tapi juga menahan hawa nafsu, termasuk nafsu akan kekuasaan. Dalam tradisi Islam, kekuasaan adalah sebuah amanah, bukan hak milik. Bukan sebagai sarana pemuasan ego, melainkan tanggung jawab untuk menegakkan keadilan dan mendatangkan kemaslahatan.
Realitas politik Indonesia menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. Biaya politik yang tinggi mendorong munculnya praktik korupsi setelah seseorang terpilih. Besarnya modal yang dikeluarkan saat kontestasi dipandang sebagai investasi yang harus dikembalikan. Di sinilah terbentuk lingkaran setan kekuasaan: uang melahirkan kedudukan, kedudukan melahirkan akses, akses melahirkan sewa, dan sewa memperkuat ambisi untuk bertahan atau naik jabatan.
Dalam konteks ini, puasa menjadi relevan sebagai metafora dan praktik etis. Bayangkan jika para elite benar-benar berpuasa dari ambisi berlebihan. Jangan memaksakan keinginan Anda. Jangan memanfaatkan celah hukum untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Menahan diri dari memonopoli sumber daya negara.
Memuasakan ambisi kekuasaan berarti menyadari bahwa jabatan bukanlah tujuan akhir. Itu adalah sebuah alat. Dalam sejarah Islam, para khalifah dan pemimpin besar seringkali merasa takut ketika menerima suatu amanah, bukan rasa bangga yang berlebihan. Mereka memahami bahwa kekuasaan akan dimintai pertanggungjawabannya, tidak hanya di hadapan rakyat, namun juga di hadapan Tuhan.
Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki kesadaran spiritual seperti itu. Bukan pemimpin yang menganggap jabatan sebagai tangga sosial, dan bukan juga pemimpin yang menjadikan negara sebagai ladang bisnis. Krisis kepercayaan masyarakat terhadap institusi politik bermula dari kegagalan moral tersebut. Masyarakat sudah bosan melihat janji kampanye berubah menjadi kompromi kepentingan. Masyarakat sudah muak melihat bahwa hukum bisa fleksibel bagi yang berkuasa dan keras bagi yang lemah.
Puasa pada ambisi juga berarti membatasi keinginan untuk terus memperluas dinasti politik. Demokrasi menjadi rapuh ketika kekuasaan diwariskan melalui jaringan keluarga dan kroni. Meritokrasi digantikan oleh kesetiaan buta. Profesionalisme dikalahkan oleh kedekatan pribadi. Dalam jangka panjang, praktik ini melemahkan kualitas pemerintahan dan merusak etika publik.
Ramadhan harus menjadi momentum evaluasi nasional. Jika individu mampu menahan diri untuk tidak makan dan minum selama puluhan jam, mengapa elite tidak mampu menahan diri dari keserakahan kekuasaan? Jika masyarakat kecil bisa bersabar dalam keterbatasan, mengapa mereka yang hidup berkelimpahan sulit mengendalikan ambisinya?
Perlu kita tegaskan kembali bahwa kekuasaan tanpa kendali moral akan berubah menjadi tirani. Tirani tidak selalu berbentuk kekerasan terbuka. Hal ini bisa berupa peraturan yang bias, proyek yang sarat kepentingan, atau kebijakan yang menguntungkan segelintir orang. Tirani modern seringkali tersembunyi, terselubung dalam retorika pembangunan dan stabilitas.
Puasa ambisi kekuasaan memerlukan keberanian untuk berkata cukup. Cukup dengan aset yang tidak halal. Hanya posisi yang sudah Anda pegang. Cukuplah pengaruh yang sudah Anda miliki. Dalam psikologi kekuasaan, kemampuan berkata cukup merupakan tanda kedewasaan. Tanpanya, manusia akan terus terjebak dalam perlombaan tanpa garis finis.
Selain itu, negara ini memerlukan reformasi politik yang mengurangi biaya kontestasi. Selama politik masih mahal, godaan korupsi akan terus mengintai. Transparansi pendanaan, penegakan hukum yang ketat, dan pendidikan politik berbasis etika harus diperkuat. Namun semua instrumen tersebut tidak akan efektif tanpa adanya kesadaran batin dari para aktor yang berkuasa.
Ramadhan memberikan ruang untuk membersihkan hati. Ia mengajarkan bahwa kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan lawan politik, namun mengalahkan diri sendiri. Kalahkan keserakahan. Mengalahkan ego. Mengalahkan keserakahan.
Bangsa ini tidak kekurangan orang-orang cerdas. Tidak ada kekurangan sumber daya alam. Tidak ada kekurangan peraturan. Yang sering kurang adalah contoh. Keteladanan lahir dari pemimpin yang mampu menempatkan kekuasaan sebagai amanah suci, bukan komoditas.
Puasanya ambisi kekuasaan bukanlah gagasan utopis. Ini adalah kebutuhan yang mendesak. Tanpa hal ini, demokrasi akan terus menjadi platform mahal yang menghasilkan elit kaya dan masyarakat yang kecewa. Dengan begitu, politik bisa kembali menjadi sarana pelayanan, bukan mencari keuntungan.
Ramadhan adalah panggilan diam terhadap hati nurani para pemegang jabatan. Panggilan untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan bertanya: untuk apa kekuatan ini? Jika jawabannya bukan pada keadilan dan kesejahteraan rakyat, maka yang tersisa hanyalah rasa haus yang tak terpuaskan.
Dan seperti air laut, semakin banyak Anda minum, semakin membakar rasa haus Anda.
Tidak ada komentar