Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

PUI–Korea Muslim Federation Jajaki Kerja Sama Pendidikan dan Penguatan Umat Lintas Negara

waktu baca 3 menit
Jumat, 6 Feb 2026 21:01 10 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Seoul, Korea Selatan- Fusilatnews Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Ummat Islam (PUI) menjalin langkah awal kerja sama strategis dengan Korea Muslim Federation (KMF) dalam bidang pendidikan dan penguatan umat Islam lintas negara. Komitmen ini mengemuka dalam kunjungan silaturahim Bidang Hubungan Luar Negeri (HLN) DPP PUI ke Masjid Sentral Seoul, Kamis (5/2/2026).

Rombongan DPP PUI dipimpin langsung Ketua Bidang HLN, Dr. Adhe Nuansa Wibisono, didampingi perwakilan Ikatan Keluarga Muslim Indonesia (IKMI) Korea, Iqbal Muharram. Mereka diterima oleh Imam Besar Masjid Sentral Seoul, Imam Abdul Rahman Lee Ju-Hwa.

Dalam pertemuan tersebut, Imam Abdul Rahman memaparkan perkembangan komunitas Muslim di Korea Selatan yang diperkirakan berjumlah sekitar 250.000 orang dari total populasi 50 juta jiwa. Komposisinya terdiri atas sekitar 25.000 Muslim asli Korea, 50.000 Muslim Indonesia, 80.000 dari Asia Tengah (Uzbekistan dan Kazakhstan), 60.000 dari Asia Selatan, serta puluhan ribu dari negara lain.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Ia juga menjelaskan bahwa jejak awal Islam di Korea dapat ditelusuri hingga masa Dinasti Abbasiyah melalui jalur perdagangan. Namun, penyebaran Islam secara signifikan terjadi pada era 1950-an, seiring interaksi masyarakat Korea dengan pasukan Peacekeeping Operation (PKO) dari negara-negara Muslim, khususnya Turki, saat dan pasca Perang Korea.

“Dari interaksi itulah masyarakat Korea mulai mengenal Islam dan secara perlahan memeluknya,” ujar Imam Abdul Rahman. Kontribusi Brigade Turki kala itu tidak hanya dalam aspek militer, tetapi juga kemanusiaan dan pendidikan, yang kemudian melahirkan Korea Muslim Society pada 1955 dan berkembang menjadi Korea Muslim Federation pada 1967.

Imam Abdul Rahman, alumni Universitas Islam Madinah yang memeluk Islam pada 1984, menambahkan bahwa KMF saat ini mengelola sekitar 25 masjid dan 120 musholla di berbagai wilayah Korea Selatan. Meski Korea bukan negara religius dan tidak memiliki kementerian agama, kebebasan beragama tetap dijamin oleh undang-undang.

Sementara itu, Dr. Adhe Nuansa Wibisono mengapresiasi perkembangan fasilitas ramah Muslim di Korea, khususnya di kawasan Itaewon yang berada di sekitar Masjid Sentral Seoul. “Salah satunya terlihat dari hadirnya restoran-restoran halal yang telah disertifikasi oleh Korea Muslim Federation,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wibisono menegaskan kesiapan DPP PUI untuk membangun kolaborasi konkret dengan KMF. “DPP PUI melalui Bidang HLN siap berkolaborasi dengan Korea Muslim Federation, khususnya dalam membangun kerja sama strategis antara komunitas Muslim Korea dan Indonesia melalui seminar kebudayaan maupun konferensi internasional,” katanya.

Ia juga menawarkan sinergi di bidang pendidikan, mengingat PUI memiliki pengalaman panjang mengelola ribuan lembaga pendidikan Islam, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Tawaran ini sejalan dengan rencana KMF yang tengah merintis pendirian sekolah dasar Islam formal bagi anak-anak Muslim di Korea.

“Imam Abdul Rahman menyampaikan keinginan KMF untuk mendirikan sekolah dasar dengan kurikulum Islami. Kami menyambut dan mendukung penuh rencana tersebut,” ujar Wibisono.

Kunjungan ini menjadi penanda awal penguatan jembatan ukhuwah Islamiyah antara Indonesia dan Korea Selatan. Sinergi yang dijajaki, terutama di bidang pendidikan dan pertukaran budaya, diharapkan mampu berkontribusi pada peningkatan kualitas umat Islam di kedua negara serta memperkaya khazanah keislaman di tingkat global.



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *






Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg