Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Syarikat Islam yang Dilupakan – Fusilat News

waktu baca 4 menit
Rabu, 6 Mei 2026 18:30 4 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Oleh Barna Soemantri

Di dalam buku-buku sejarah Indonesia, nama-nama besar sering diulang: Budi Utomo, Indische Partij, hingga Partai Nasional Indonesia. Namun ada satu organisasi yang justru pernah menjadi gerakan rakyat terbesar di Hindia Belanda, tetapi perlahan tersisih dari ingatan publik: Syarikat Islam.

Padahal, jauh sebelum republik ini lahir, organisasi itu telah menanamkan kesadaran tentang ekonomi pribumi, solidaritas umat, pendidikan rakyat, hingga perlawanan terhadap kolonialisme. Ia bukan sekadar organisasi dagang. Ia adalah denyut awal kebangkitan massa bumiputra.

Sejarah mencatat, embrio gerakan ini lahir pada 16 Oktober 1905 di Laweyan, Solo, atas prakarsa Haji Samanhoedi, seorang saudagar batik. Ketika itu, pedagang pribumi berada dalam tekanan ekonomi kolonial. Pasar dikuasai jaringan perdagangan asing, sementara rakyat bumiputra hanya menjadi penonton di tanah sendiri.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Dari situ berdirilah Sarekat Dagang Islam (SDI). Tujuan awalnya sederhana tetapi penting: melindungi pedagang Muslim pribumi, memperkuat ekonomi rakyat, dan membangun solidaritas sesama saudagar. Namun gerakan itu berkembang cepat. Ia tidak lagi hanya berbicara soal perdagangan, tetapi juga harga diri bangsa yang lama diinjak kolonialisme.

Pada 1906, nama organisasi itu berubah menjadi Syarikat Islam (SI). Perubahan nama itu menandai perluasan gerakan. Bila sebelumnya terbatas pada pedagang, maka SI mulai membuka diri menjadi organisasi massa rakyat. Di tengah penduduk Nusantara yang mayoritas Muslim, SI tumbuh menjadi kekuatan sosial-politik yang luar biasa besar.

Dalam waktu singkat, cabang-cabang SI bermunculan di berbagai kota. Dari Solo, Surabaya, Semarang, hingga Batavia. Organisasi ini menjadi ruang berkumpul rakyat kecil: pedagang pasar, guru agama, buruh, santri, hingga petani.

Kolonial Belanda mulai gelisah.

Pemerintah Hindia Belanda melihat SI bukan lagi organisasi ekonomi biasa. Mereka mencurigainya sebagai ancaman politik yang dapat mengguncang kekuasaan kolonial. Aktivitas SI dimata-matai. Rapat-rapat dibubarkan. Tokoh-tokohnya diawasi. Bahkan dalam banyak kesempatan, gerakan SI dicap ilegal dan berbahaya.

Kecurigaan itu bukan tanpa alasan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Hindia Belanda, lahir organisasi rakyat dengan basis massa sangat besar dan memiliki kesadaran politik yang mulai tumbuh. SI berhasil menyatukan identitas agama dengan semangat kebangsaan.

Di tangan tokoh-tokoh seperti H.O.S. Tjokroaminoto, SI berubah menjadi sekolah politik bagi kaum bumiputra. Dari rumah Tjokroaminoto di Surabaya, banyak tokoh besar Indonesia lahir. Di sana pernah tinggal nama-nama yang kemudian menentukan arah republik: Soekarno, Musso, hingga Semaun.

Tjokroaminoto sendiri pernah berkata, “Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.” Kalimat itu bukan sekadar petuah, melainkan gambaran bagaimana SI membangun tradisi intelektual dan pergerakan.

Namun sejarah bangsa ini kemudian bergerak ke arah lain. Setelah kemerdekaan, narasi tentang SI perlahan meredup. Organisasi yang dahulu menjadi kekuatan massa terbesar justru tidak mendapatkan tempat dominan dalam historiografi nasional. Nama SI kalah populer dibanding organisasi-organisasi lain yang lahir belakangan.

Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, banyak fondasi nasionalisme Indonesia justru tumbuh dari rahim SI. Kesadaran tentang keadilan ekonomi, perlawanan terhadap kapitalisme kolonial, pendidikan rakyat, hingga konsep persatuan umat dan bangsa pernah menjadi inti perjuangannya.

Hari ini, ketika ketimpangan ekonomi kembali melebar dan rakyat kecil semakin terdesak oleh kekuatan modal besar, gagasan lama Syarikat Islam terasa menemukan relevansinya kembali.

Memasuki usia 121 tahun, Syarikat Islam masih tetap eksis. Organisasi ini terus bergerak bersama berbagai elemen masyarakat Islam untuk mengisi kemerdekaan, terutama dalam bidang ekonomi umat.

Pada Kongres Nasional ke-41 di Solo tahun 2021, SI kembali menegaskan orientasi perjuangannya: membangun kehidupan ekonomi rakyat yang berkeadilan. Sebuah gagasan yang sebenarnya telah menjadi napas organisasi itu sejak lahir lebih dari satu abad lalu.

Rencananya, pada November 2026 mendatang, SI akan menggelar Kongres ke-42. Agenda utamanya tetap sama: memperjuangkan ekonomi umat, kemandirian rakyat, dan keadilan sosial.

Di tengah hiruk-pikuk politik elektoral yang sering kehilangan arah ideologis, keberadaan SI seolah mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak cukup hanya diperingati dalam upacara. Kemerdekaan harus diisi dengan keberpihakan kepada rakyat kecil.

Mungkin itulah sebabnya Syarikat Islam layak dikenang kembali. Bukan semata karena usianya yang tua, melainkan karena organisasi ini pernah menjadi suara kaum bumiputra yang ingin berdiri sejajar di tanahnya sendiri.

Dan sejarah bangsa yang melupakan akar pergerakannya sendiri, pada akhirnya hanya akan menjadi bangsa yang mudah kehilangan arah.



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *






Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg