By Paman BEDDunia ekonomi Indonesia kembali terusik oleh sebuah laporan dari luar negeri. Michael Buehler, Profesor Ekonomi Politik dari London School of Economics and Political Science, dalam kajiannya pada 2025, mengungkap dugaan kerugian Indonesia akibat manipulasi perdagangan internasional yang mencapai sekitar Rp186 triliun per tahun.
Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah representasi sumber daya nasional yang mengalir diam-diam ke luar negeri, tanpa pernah tercatat sebagai penerimaan negara. Uang yang seharusnya menjadi fondasi pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial, justru lenyap dalam celah-celah sistem global yang longgar dan permisif.
Kejahatan ini tidak dilakukan dengan kekerasan.
Tidak ada senjata.
Tidak ada ledakan.
Pelakunya mengenakan jas dan dasi.
Senjatanya adalah dokumen.
Modusnya adalah manipulasi administratif yang tampak sah di atas kertas.
Inilah wajah kejahatan ekonomi modern.
Praktik yang paling sering terjadi adalah trade misinvoicing—pemalsuan nilai transaksi ekspor-impor—yang kerap berjalan beriringan dengan transfer pricing melalui perusahaan afiliasi di luar negeri.
Skemanya relatif sederhana, namun dampaknya sistemik.
Barang diekspor dari Indonesia dengan harga yang dilaporkan jauh di bawah harga pasar. Di negara tujuan, barang yang sama dijual kembali oleh perusahaan afiliasi dengan harga jauh lebih tinggi. Selisih keuntungan kemudian disimpan di yurisdiksi berpajak rendah atau nyaris tanpa pajak.
Dengan cara ini, laba dipindahkan.
Pajak dihindari.
Negara dirugikan.
Global Financial Integrity mengategorikan praktik ini sebagai bagian dari illicit financial flows—aliran keuangan gelap yang bersifat sistematis, terstruktur, dan lintas batas.
Berbagai kajian internasional menunjukkan bahwa sektor komoditas primer menjadi titik rawan utama kebocoran penerimaan negara.
Pertambangan batu bara, minyak sawit, dan karet secara konsisten menempati peringkat teratas dalam praktik manipulasi perdagangan. Estimasi menunjukkan potensi pengalihan dana dari sektor batu bara saja mencapai puluhan miliar dolar AS dalam satu dekade terakhir.
Kerugian fiskal yang timbul tidak hanya berupa pajak penghasilan, tetapi juga:
Dalam sejumlah pernyataan publik, otoritas fiskal Indonesia bahkan mengakui bahwa praktik under-invoicing masih menjadi tantangan serius, terutama di sektor berbasis sumber daya alam—sektor yang seharusnya menjadi tulang punggung kedaulatan ekonomi.
Sebagai respons, Kementerian Keuangan mulai mengembangkan sistem analitik berbasis kecerdasan buatan untuk mendeteksi anomali transaksi perdagangan.
Secara teoritis, AI mampu:
Namun teknologi bukanlah solusi otomatis.
Tanpa integritas kelembagaan, sistem secanggih apa pun berisiko menjadi sekadar etalase modernisasi—indah dipresentasikan, minim dampak substantif. Pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa kebocoran kerap terjadi bukan karena ketiadaan sistem, melainkan lemahnya pengawasan dan konflik kepentingan yang dibiarkan tumbuh.
Instrumen kunci dalam praktik ini adalah penggunaan shell companies di yurisdiksi seperti British Virgin Islands, Cayman Islands, dan negara-negara dengan rezim pajak longgar.
Perusahaan-perusahaan ini berfungsi sebagai perantara semu untuk menyamarkan kepemilikan dan memindahkan laba. Tanpa beneficial ownership registry yang kuat, terbuka, dan dapat diakses oleh aparat penegak hukum, negara akan terus kesulitan menelusuri aktor sebenarnya di balik transaksi global yang kompleks.
Transparansi bukan sekadar jargon. Ia adalah prasyarat kedaulatan fiskal.
Peringatan dari akademisi internasional dan lembaga global seharusnya dibaca sebagai alarm keras bagi negara.
Masalah transfer pricing dan trade misinvoicing bukan sekadar persoalan teknis perpajakan. Ia adalah persoalan kedaulatan ekonomi. Negara yang gagal melindungi basis pajaknya akan selalu tertinggal dalam pembangunan sosial, pendidikan, dan kesehatan—tak peduli seberapa kaya sumber daya alamnya.
Kita tentu tidak ingin suatu hari dinasehati anak cucu kita dengan pepatah,
“Mengapa seekor anak ayam mati di lumbung padi?”
Sebuah ironi tentang kelimpahan yang gagal dikelola.
Anekdot semacam ini bukan warisan yang pantas bagi generasi mendatang.
Untuk mengatasi persoalan ini secara berkelanjutan, beberapa langkah kunci perlu diprioritaskan:
Kebocoran penerimaan negara akibat manipulasi perdagangan bukanlah nasib.
Ia adalah konsekuensi dari pilihan kebijakan dan kualitas institusi.
Indonesia memiliki sumber daya, teknologi, dan modal manusia untuk memperbaikinya. Yang masih diuji adalah keberanian politik dan konsistensi pelaksanaan.
Jika momentum ini dikelola dengan serius, transfer pricing tidak lagi menjadi kejahatan yang dibiarkan, melainkan masalah yang benar-benar dituntaskan.
Tidak ada komentar