Walikota Sorong Kembalikan Biaya BPHTB 2025: bentuk Keadilan Kepada Rakyat
Ada ungkapan yang sangat dalam maknanya: “Teguran nyata jauh lebih baik daripada kasih manipulatif yang tersembunyi”. Setelah mendapat Arahan dari Menteri Perumahan dan Kawasan Pemukiman RI Maruarar Sirait saat melakukan kunjungan kerja di Kota sorong Ungkapan ini seolah menjadi gambaran nyata dari langkah yang diambil Walikota Sorong, dalam mengambil kebijakan strategis mengembalikan seluruh pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang telah dibayarkan masyarakat sepanjang tahun 2025. Kebijakan ini bukan sekadar keputusan administrasi biasa, melainkan sebuah tindakan berani yang sarat nilai luhur, sekaligus menyimpan nilai politis positif yang sangat menguntungkan bagi dirinya sendiri, karena dibangun di atas pondasi kepercayaan dan keadilan.
BPHTB sendiri merupakan kewajiban perpajakan yang selama ini menjadi tanggungan warga selaku pihak yang memperoleh hak atas tanah atau bangunan. Namun, keputusan cepat yang diambil Pak ARA—yang menanggapi setiap aspirasi dan pertanyaan masyarakat dengan tanggung jawab yang tinggi—menjadi bukti nyata bahwa pemerintah hadir bukan hanya untuk memungut kewajiban, tetapi juga memastikan setiap kebijakan tidak membebani rakyat kecil.
Ketua Umum Forum Pengawal Perjuangan Rakyat (FOPERA), Yanto Ijie, menilai langkah ini sangat bijaksana dan menyentuh nurani setiap warga. Ia bahkan menyamakan tindakan mulia ini dengan kisah Zakeus, pemungut cukai yang dikenal keras pada zamannya, namun memiliki keberanian luar biasa untuk berdiri di hadapan kebenaran, mengakui kesalahannya, dan berjanji mengembalikan segala sesuatu yang dipungut dari rakyat secara berlebihan hingga berkali-kali lipat.
“Di sini kita melihat sosok pemimpin yang tidak menutup mata, tidak bersembunyi di balik aturan, tetapi berani bertindak lurus. Sama seperti Zakeus, beliau sadar bahwa apa yang selama ini menjadi beban rakyat, saatnya dikembalikan sebagai bentuk pertanggungjawaban moral dan tanggung jawab kenegaraan. Ini bukan sekadar mengembalikan uang, tetapi mengembalikan rasa aman, rasa adil, dan martabat rakyat yang selama ini mungkin terabaikan,” ungkap Yanto dengan nada penuh kekaguman.
Keputusan ini semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat setelah kunjungan Menteri Perumahan Rakyat yang juga akrab disapa Bang ARA ke Kota Sorong dan Provinsi Papua Barat Daya. Kunjungan itu membawa kabar gembira sekaligus penegasan bahwa semangat keadilan yang dibangun di Kota Sorong adalah bagian dari semangat pembangunan nasional yang berpihak pada kesejahteraan rakyat. Di sanalah letak nilai politis positifnya: ketika seorang pemimpin memilih untuk berpihak pada kebenaran dan kesejahteraan warganya, maka dukungan, kepercayaan, dan rasa hormat akan datang dengan sendirinya—sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan harta atau dipaksakan dengan kekuasaan.
“Nilai politis yang didapatkan Pak Walikota dari langkah ini bukanlah keuntungan sesaat atau suara politik semata, melainkan warisan kebaikan yang akan selalu dikenang oleh generasi sekarang dan mendatang. Inilah kepemimpinan yang menyejukkan: tidak berpolitik dengan kepura-puraan, tidak memberi harapan kosong, tetapi membuktikan janji dengan tindakan nyata. Ini jauh lebih berharga daripada segala bentuk kepura-puraan yang menyelimuti kepentingan pribadi,” tegas Yanto.
Ia pun berharap semangat keadilan yang telah dicontohkan oleh Pemerintah Kota Sorong ini dapat menular ke daerah-daerah lain, khususnya di Kabupaten Sorong dan seluruh wilayah di Provinsi Papua Barat Daya. Kebijakan yang baik dan berpihak pada rakyat tidak boleh berhenti hanya di satu tempat, melainkan harus menjadi standar baru dalam pengelolaan keuangan daerah dan pelayanan publik.
“Kalau Kota Sorong sudah membuktikan bahwa keadilan itu bisa diwujudkan, maka tidak ada alasan bagi pemerintah daerah lain untuk tidak melakukan hal yang sama. Mari kita tinggalkan cara-cara lama yang hanya menguntungkan segelintir pihak, dan bersama-sama membangun daerah ini dengan pondasi keadilan. Karena hanya dengan keadilanlah kesejahteraan yang hakiki bisa kita raih bersama,” pungkas Yanto Ijie.
Langkah yang diambil Walikota Sorong ini menjadi bukti bahwa ketika pemimpin memilih kebenaran daripada kepentingan sesaat, maka yang didapatkan bukan hanya manfaat bagi rakyat, tetapi juga posisi kepemimpinan yang kokoh, dihormati, dan dicintai sepanjang masa. Sebuah keputusan yang baik, untuk kebaikan bersama.
Tidak ada komentar