Pernyataan terbuka Zendhy Kusuma ke publik usai polemik dirinya dengan restoran Bibi Kelinci mendapat sorotan luas, termasuk dibicarakan dalam rapat dengar pendapat di DPR.
Ads Catra_inline artikel.jpg
Dalam keterangan yang disampaikan melalui siaran langsung di media sosial, Zendhy mengaku kejadian yang terjadi pada September tahun lalu itu bermula dari situasi tidak nyaman di sebuah restoran, dimana ia dan keluarga datang sebagai pelanggan dan menunggu pesanannya cukup lama.
“Saya sadar dalam situasi ini kita tentu belum sempurna. Dalam kondisi lapar dan emosi, mungkin ada beberapa sikap kita yang bisa disampaikan dengan cara yang lebih baik. Untuk itu sekali lagi saya mohon maaf,” kata Zendhy, Rabu (11/3/2026).
Dijelaskannya, kejadian yang awalnya menjadi persoalan antara konsumen dan restoran ini kemudian semakin membesar setelah masuk ke ranah hukum dan ramai diperbincangkan di media sosial.
Ads Catra_inline artikel.jpg
Zendhy mengungkapkan dirinya sempat dilaporkan dengan tuduhan pencurian berat sehingga harus menjalani proses penyidikan oleh polisi. Dalam perjalanan kasusnya, ia pun mengambil langkah hukum agar permasalahan yang awalnya terjadi di restoran tersebut berkembang menjadi kasus ke polisi.
Situasi ini tentu membuat kita semua sedih. Hal yang awalnya sederhana menjadi sangat menyulitkan semua pihak, ujarnya.
Ia pun mengingatkan, selama beberapa bulan terakhir ia dan keluarga mengalami tekanan yang besar di media sosial.
“Beberapa bulan terakhir ini kami dan keluarga mengalami cyberbullying yang sangat besar. Banyak komentar, tudingan, bahkan penyebaran informasi pribadi. Saya tidak ingin menyalahkan siapapun, tapi pengalaman ini membuat kami paham betapa dahsyatnya dampak media sosial terhadap kehidupan seseorang,” kata Zendhy.
Menurutnya, satu peristiwa kecil bisa berkembang menjadi gelombang opini yang sangat besar ketika memasuki ruang digital.
Zendhy mengaku bersyukur karena pada akhirnya kasus tersebut diselesaikan melalui proses mediasi yang difasilitasi polisi.
“Saya berterima kasih kepada pihak kepolisian yang telah memfasilitasi proses mediasi sehingga permasalahan ini dapat dinyatakan selesai,” ujarnya.
Zendhy pun menyampaikan rasa hormatnya atas perhatian DPR terhadap kasus tersebut.
“Kami menghargai perhatian DPR yang menjadikan kasus ini sebagai pembelajaran penegakan hukum di era media sosial. Kami memahami DPR ingin memastikan penegakan hukum berjalan adil dan proporsional bagi semua pihak,” ujarnya.
Meski demikian, Zendhy berharap masyarakat tidak melupakan dampak sosial yang ditimbulkan dari kejadian tersebut, termasuk cyberbullying yang dialami individu dan keluarga.
Ia menilai pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting bagi semua pihak.
“Saya belajar menjadi konsumen yang lebih baik. Teman-teman saya yang menjalankan bisnis juga belajar menjadi pebisnis yang lebih baik. Dan kita semua belajar menjadi warga negara yang lebih dewasa dalam kehidupan yang banyak dipengaruhi oleh media sosial,” ujarnya.
Zendhy menegaskan, kasus tersebut kini telah diselesaikan melalui mediasi dan berharap semua pihak dapat menghormati penyelesaian tersebut.
“Yang terpenting bagi saya saat ini masalah ini sudah diselesaikan melalui mediasi. Mari kita sama-sama menghormati proses itu dan terus hidup lebih tenang dan bijaksana,” ujarnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google Berita
Tidak ada komentar