Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Kasus Nadiem dan Pelajaran untuk Para Profesional

waktu baca 3 menit
Kamis, 29 Jan 2026 23:20 12 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Anwar Husen
Pemerhati Sosial / Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara

Nadiem barangkali tak pernah membayangkan bahwa terminal sementara karier profesional yang selama ini ia rawat dengan reputasi cemerlang, justru berujung pada status tersangka kasus korupsi.

Nadiem Makarim, lahir tahun 1984, adalah pengusaha teknologi dan politikus Indonesia. Pendiri Gojek ini pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2019–2024). Lulusan Harvard Business School yang sukses mengubah ojek konvensional menjadi layanan decacorn pertama di Indonesia itu kemudian melangkah ke pemerintahan. Di kursi menteri, ia meluncurkan kebijakan “Merdeka Belajar”, “Kampus Merdeka”, serta menghapus ujian nasional—sebuah paket reformasi yang sejak awal memantik pro dan kontra.

Sejak penunjukannya sebagai menteri, banyak pihak sebenarnya menyayangkan keputusan tersebut. Kalangan perguruan tinggi dan praktisi pendidikan yang telah lama bergulat dengan kompleksitas persoalan dunia pendidikan hanya bisa mengernyitkan dahi. Dunia pendidikan, yang menyimpan begitu banyak problem struktural bahkan menjadi salah satu sumber problem kebangsaan, seolah dengan ringan dibebankan kepada sosok yang dipandang “belum cukup umur” secara pengalaman birokrasi dan politik.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Nadiem mungkin terlalu polos untuk menyadari bahwa memasuki wilayah politik dan kekuasaan pemerintahan ibarat menggantung di horizon: penuh harap sekaligus cemas. Kultur profesionalisme dan meritokrasi yang berlaku di dunia korporasi tidak selalu kompatibel dengan kultur politik kekuasaan. Terlebih, ia masuk dalam rezim yang dalam satu dekade terakhir meninggalkan segudang persoalan bangsa yang serius.

Mahfud MD pernah mengingatkan: berhati-hatilah bekerja dalam kekuasaan. Sebab ketika rezim berganti, berbagai masalah akan tersingkap, dan mereka yang terlibat bisa bernasib sial.

Alih-alih dikenang sebagai teknokrat yang mentransformasi pendidikan nasional melalui digitalisasi, Nadiem justru kini menghadapi pusaran perkara hukum. Sebuah mosaik “jebakan” yang kerap terjadi dalam sejarah politik kita: seorang profesional bersih dan bersinar di dunia praktik, tergoda masuk ke wilayah kekuasaan yang beraroma wangi, lalu berakhir di balik jeruji besi.

Pelajaran penting dari dunia politik kekuasaan—termasuk jabatan pemerintahan di level mana pun—adalah kesadaran akan batas diri. Jika merasa tidak memiliki latar pendidikan yang koheren dan pengalaman yang cukup pada bidang spesifik, sebaiknya jangan membangun kepercayaan diri secara membabi buta. Bagi yang masih “belia”, karier bisa layu bahkan sebelum berkembang. Apalagi bagi mereka yang hanya punya “satu nyawa”; irama jantung terlalu mahal untuk sekadar membayangkan hidup di balik jeruji besi.

Nadiem sejatinya adalah salah satu talenta langka Indonesia—seperti halnya Ilham Habibie. Ilham adalah teknokrat, pengusaha, sekaligus insinyur pesawat terkemuka, berpendidikan spesifik dan langka dari Technical University of Munich (TUM), Jerman. Pernah berkarier di Boeing, IPTN, memimpin PT Regio Aviasi Industri, serta aktif di Kadin dan ICMI. Kini ia pun mulai tertarik pada sisi “glamour” politik dan kekuasaan.

Ada pula sejumlah profesional berwajah “polos”, yang bisa dibilang serumpun dengan Nadiem dan Ilham, kini masuk ke kabinet Prabowo–Gibran. Rezim yang berbeda mungkin akan menuntun mereka pada jalan karier yang lebih lurus—atau justru mengulang kisah serupa.

Kita lihat nanti.

Wallāhu a‘lam.



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *






Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg