✒️ Oleh Asruri Muhammad, Pemerhati Sosial dan Keagamaan
Adakah manusia yang benar-benar menampilkan seratus persen wajah aslinya—tanpa topeng, tanpa polesan, tanpa gambar?
Sejak dulu manusia suka menipu dirinya sendiri. Tidak mampu membelinya, tapi bertindak semampunya. Orang miskin ingin terlihat kaya. Ia sehat, namun saat dipanggil polisi atau pengadilan, tiba-tiba ia mengaku sakit. Kurang pengetahuan, tapi berpura-pura menjadi yang paling pintar. Dia terlihat lembut, tapi hatinya kejam—lebih kejam dari serigala hutan.
Kita semua, dengan derajat masing-masing, memoles wajah sosial kita agar terlihat lebih baik di mata orang lain. Apalagi bagi yang punya modal dan kekuasaan – cukup bayar influencer atau buzzer, maka “baking pan”-nya bisa disulap menjadi emas dan berlian.
Jika wajah fisik dapat diubah, maka wajah sosial juga dapat dihias dan direkayasa. Maka muncullah berbagai topeng sosial: topeng kesalehan, kemurahan hati, kebijaksanaan, dan kesucian. Ada yang tampak bertakwa namun hatinya gelap; ada yang berpenampilan bersih padahal penjahat; ada pula yang tampil rendah hati meski memendam ambisi besar.
Al-Qur’an telah menggambarkan orang-orang yang mencoba menipu Allah dan manusia:
“Mereka ingin menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri.”
(QS. Al-Baqarah : 9)
Terutama di tahun politik dimana pabrik masker beroperasi lebih sibuk dari biasanya.
Orang-orang yang tidak pernah berhijab dalam kesehariannya tiba-tiba muncul di spanduk kampanye berhijab syariah. Yang biasanya jarang ke masjid, tiba-tiba rajin ke pesantren. Mereka yang tak pernah menyapa warga tiba-tiba menjadi sangat ramah. Yang selama ini tak peduli pada fakir miskin, tiba-tiba rajin membagikan sembako sambil tersenyum lebar.
Banyak orang yang tiba-tiba menjadi baik.
Bagus dalam gambar, bagus dalam slogan, bagus dalam pencitraan – meski belum tentu bagus dalam kenyataan.
Rasulullah ﷺ telah memperingatkan:
“Orang yang paling buruk di hari kiamat adalah orang yang mempunyai dua wajah: datang ke kelompok yang satu dengan satu wajah, dan ke kelompok lain dengan wajah yang lain.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Masker sosial ini tidak hanya menipu orang lain—tetapi juga bisa menipu pemakainya sendiri. Jika masker dipakai terlalu lama, kita bisa melupakan wajah asli kita.
Tapi ingat, akan tiba saatnya semua wajah terungkap. Tak ada lagi pencitraan, tak ada polesan, tak ada lagi topeng yang bisa diselamatkan.
Allah telah mengingatkan:
“(Itulah) hari dimana semua rahasia diuji.”
(QS. Ath-Thariq : 9)
Dan pada hari itu, anggota badan itu sendiri menjadi saksi:
“Pada hari itu, lidah, tangan, dan kaki mereka akan menjadi saksi atas apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. An-Nur : 24)
Saat ini lidah bisa berbohong dan menipu. Namun nanti mulutnya akan tertutup. Sebagaimana firman Allah:
“Pada hari ini Kami telah membungkam mulut mereka. Tangan merekalah yang berbicara kepada Kami, dan kaki merekalah yang menjadi saksi atas apa yang dahulu mereka kerjakan.”
(QS. Yasin : 65)
Jadi sebelum hari itu tiba, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri:
Masker apa yang saya pakai?
Dan apakah saya berani melepasnya sebelum Tuhan sendiri yang melepasnya?[
Google Berita
Source link
Tidak ada komentar