DI TENGAH DARAH DAN AIR MATA, ELIT PAPUA SIBUK PAMERKAN EGO
Perseteruan terbuka antara anggota DPD RI dan Majelis Rakyat Papua (MRP) menjadi bukti nyata bahwa nurani sebagian tokoh dan elit di tanah Papua telah hilang. Di saat bumi Cendrawasih menangis karena pertumpahan darah, ekploitasi Sumber Daya alam para pemimpin justru sibuk mempertontonkan kepalsuan, keangkuhan, dan kesombongan masing-masing.
Forum Pengawal Perjuangan Rakyat (Fopera) Provinsi Papua Barat Daya melontarkan kritik pedas terhadap dinamika ini. Menurut mereka, pertikaian yang terjadi bukan hanya membuang-buang waktu dan energi, tetapi juga menunjukkan bahwa para elit tersebut bukan negarawan sejati dan bukan pula orang Papua sejati.
“Mereka Tidak Paham Rasa Sakit Rakyat”
Fopera menilai, para elit politik DPD RI Perwakilan Papua dan MRP gagal membaca situasi. Di balik debat kusir mereka, realitas di lapangan sangat memilukan: terjadi pembunuhan, pembantaian terhadap warga sipil, penembakan yang mengorbankan TNI, Polri yang dilakukan kelompok kombatan beridieologi lain, hingga ribuan warga yang masih menjadi pengungsi. Belum lagi persoalan pelik kerusakan lingkungan dan investasi yang merugikan masyarakat adat.
“Di saat rakyat menjerit, menanti pertolongan dan sentuhan langsung, mereka justru sibuk mengadu argumen. Ini adalah pertunjukan kebodohan. Mereka memamerkan bahwa mereka sebenarnya tidak peduli pada nasib masyarakat,” tegas pernyataan Fopera, Jumat (10/04).
Organisasi ini menegaskan, pertikaian ini hanya akan memperpanjang penderitaan. Selama para elit sibuk dengan ego sendiri, masalah-masalah krusial seperti pelanggaran HAM, pengungsian, pembunuhan dan eksploitasi sumber daya alam tidak akan pernah terselesaikan.
Seruan Darurat: Stop Bertikai, Mulailah Bekerja!
Fopera menyerukan kepada semua pihak untuk segera menghentikan konflik. Tidak ada gunanya mencari siapa benar dan siapa salah saat rakyat sedang menderita.
“Sudahlah, STOP berkonflik! Tidak ada pemenang dalam pertikaian ini, yang ada hanya rakyat yang semakin menjadi korban.”
Mereka meminta para tokoh di pusat maupun daerah untuk segera merendahkan hati, duduk bersama, dan berkolaborasi. Fokus harus segera dialihkan untuk menyelesaikan persoalan yang mendesak:
1. Menuntaskan masalah pengungsian.
2. Menghentikan segala bentuk kekerasan dan pembunuhan.
3. Menangani investasi yang merusak lingkungan dan tidak berpihak pada masyarakat adat.
Bantu Kepala Daerah, Jangan Jadi Beban!
Sebagai penutup, Yanto Ijie ketua Umum Forum Pengawal Perjuangan Rakyat mengingatkan agar para elit DPD RI, MRP membantu Gubernur, Bupati, dan Walikota dalam menyelesaikan masalah, bukan justru menambah beban dengan pertikaian yang tidak berfaedah.
“Rakyat Papua butuh solusi nyata, pelayanan langsung, dan bantuan nyata. Bukan sandiwara politik dan kesombongan yang menyakitkan,” tandas Yanto
Tidak ada komentar