Gerakan pemuda Indonesia memasuki fase baru yang lebih berani dan realistis. Bertempat di pusat koordinasi pemrakarsa, langkah taktis resmi dicanangkan pada rapat perdana Restorasi Pemuda Indonesia. Fokusnya jelas: Berhenti terjebak dalam politik organisasi yang rumit dan beralih membangun kemandirian ekonomi melalui konsep Youth Business Holding atau yang akrab disebut “Badan Usaha Milik Kaum Muda”.
*Sampai jumpa Ruwet! Fokus pada Keuntungan dan Kemandirian
Dalam pertemuan dinamis tersebut, tim penggagas sepakat bahwa fungsi karang taruna saat ini cenderung stagnan karena adanya perpecahan yang sudah berakhir. Menariknya, gerakan ini memilih mengambil jalan pintas yang cerdik. Ketimbang menghabiskan energi untuk menyatukan faksi-faksi yang sulit didamaikan bahkan oleh lima menteri saja, Restorasi Pemuda Indonesia memilih fokus pada pragmatisme ekonomi.
”Kita tidak lagi menyasar kongres-kongres yang sarat kepentingan politik. Orientasi penyelenggaraan usaha Badan Usaha Milik Anak Muda ini murni fokus pada bisnis untuk menyelesaikan permasalahan nyata ekonomi pemuda,” ujar Reza Fahrur Sam, penggagas utama dan koordinator gerakan ini.
Formasi Inisiator yang Solid
Langkah besar ini bukan main-main. Berdasarkan dokumen kehadiran, rapat perdana ini dihadiri sejumlah tokoh dari seluruh OKP yang memiliki visi serupa. Mereka yang hadir secara fisik dan virtual siap menyediakan badannya untuk mengawal usulan strategis ini kepada calon investor dan pemangku kepentingan skala besar, termasuk rencana komunikasi dengan kementerian terkait.
Berikut daftar tokoh yang hadir dalam formasi inisiator ini, yaitu:
1.Reza Fahrur Sam (PDK) – Koordinator & Konseptor Utama
2.Satria (Perti Pemoeda)
3.Muhamad Fahri (PHAI)
4.Johnson Silitonga (Fokusmaker)
5.Bambang Rony (P/MPI)
6.Edy Kewoy (Gema Hanura)
7.Medi Sumaedi (MAPANCAS) – Hadir melalui Zoom Meeting
Apa selanjutnya?
Tim pemrakarsa kini bergerak cepat menyiapkan proposal komprehensif untuk menarik investor. Konsep Business Holding ini diharapkan menjadi wadah bagi Gen Z, Milenial, bahkan senior untuk berkolaborasi tanpa harus khawatir dengan hiruk pikuk dualisme atau perpecahan organisasi.
Ini bukan soal siapa ketuanya, tapi bagaimana pemuda Indonesia mempunyai aset dan kekuatan ekonomi yang mandiri. Kereta Restorasi telah berangkat, dan hanya ada satu arah: Kemandirian Ekonomi Pemuda!
Tidak ada komentar