Kunjungan Menteri Sosial Saefullah Yusuf atau Gus Ipul selaku Ketua Kongres NU ke Pondok Pesantren Bina Insan Mulia dan pertemuannya dengan pengasuh KH Imam Jazuli (Kiai Imjaz) sama sekali bukan silaturahmi biasa.
Pertemuan ini menyiratkan gaung sambutan setelah PCNU Cirebon Raya resmi mengajukan diri menjadi tuan rumah Kongres Nahdlatul Ulama ke-35.
Dari pembacaan politik-organisasi, kehadiran Gus Ipul di Cirebon merupakan sinyal yang sangat jelas.
Sebagai pemegang kendali strategis acara kongres tersebut, langkah Gus Ipul menemui tokoh sentral di Cirebon menunjukkan bahwa PBNU telah melakukan perhitungan matang terkait wilayah tersebut.
Di sisi lain, komitmen Kiai Imjaz yang menyatakan siap “membantu total” bukan sekedar retorika tuan rumah yang bersahabat.
Kabarnya, mereka bahkan siap membantu Pantia menempatkan peserta Kongres di hotel bintang 3-5, plus makanan.
Pernyataan ini merupakan jaminan kultural dan material bahwa Cirebon tidak sekedar menawarkan usulan administratif, namun telah menyiapkan kekuatan penggerak dan modal sosial yang nyata di akar rumput.
Pertemuan kedua tokoh ini mempertemukan dua kutub penting: kewenangan struktural PBNU dan kesiapan kultural pesantren Cirebon.
Sinyal positif yang muncul dari pertemuan tersebut membawa kita pada pertanyaan reflektif: Mengapa harus Cirebon?
*Cirebon adalah Jantungnya, Bukan Pinggiran Sejarah*
Jika ditilik lebih dalam, penunjukan Cirebon sebagai tuan rumah Muktamar bukan sekedar memilih letak geografis, namun merupakan langkah menangkap takdir sejarah.
Cirebon bukan sekadar kawasan lintasan di Pantura. Beliaulah detak jantung sejarah Islam di nusantara.
Di negeri inilah dakwah tumbuh dan mengakar selama berabad-abad sehingga menjadikannya kota pelajar Islam yang denyut sosio-religiusnya erat dengan semangat Nahdlatul Ulama.
Di negeri ini berdiri kokoh pesantren-pesantren tua yang menjadi benteng-benteng pengawal ilmu keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah, seperti pesantren Babakan, Buntet, Gedongan, dan Balarante.
Mereka bukanlah lembaga pendidikan kemarin sore, melainkan rahim sejarah yang telah melahirkan ribuan ulama, kiai, pejuang, dan kader penggerak NU lintas zaman.
Lebih dari itu, Cirebon menyimpan jejak spiritual yang sangat mendalam.
Berdirinya maqbarah dan jejak dakwah Sunan Gunung Jati merupakan tanda abadi bahwa Cirebon sejak dahulu merupakan pusat penyebaran agama Islam yang mengedepankan kearifan, budaya dan persatuan.
Menyelenggarakan Kongres NU di Cirebon berarti mengembalikan ingatan kolektif masyarakat tentang akar dakwah Islam yang teduh, moderat, dan membumi.
Di tengah tantangan zaman yang semakin keras, nafas dakwah Sunan Gunung Jati menjadi oase yang sangat relevan bagi jam’iyah untuk terus bangkit.
*Sumber Perjuangan Nahdlatul Ulama*
Secara historis, Cirebon memiliki ikatan darah dengan sejarah perjuangan Nahdlatul Ulama. Banyak tokoh besar NU yang lahir, besar dan berkiprah di wilayah Cirebon Raya.
Kita tentu ingat sosok KH Abbas Abdul Jamil dari Pesantren Buntet, ulama kharismatik yang menjadi panglima laskar jihadis NU pada masa Resolusi Jihad yang diundangkan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
Peran heroiknya dalam menggerakkan santri-santri pesantren menjadi bagian tak terpisahkan dalam berdirinya republik ini.
Selain itu, ada juga KH Abdul Chalim, tokoh penting dan salah satu pendiri NU yang menjabat sebagai sekretaris Tanfidziyah pertama. Secara historis dan sosiologis, karyanya masih berada dalam orbit budaya Cirebon Raya.
Fakta-fakta tersebut menegaskan satu hal: dalam peta sejarah NU, Cirebon merupakan salah satu sumber mata air utama yang turut menghidupkan dan menjaga api organisasi tersebut dari masa embrio hingga saat ini.
Kesiapan Pragmatis: Episentrum Rasional
Romansa sejarah tentu saja tidak cukup untuk menggelar acara raksasa seperti Muktamar. Di sinilah letak keunggulan rasional Cirebon yang diyakini menjadi pertimbangan utama Gus Ipul.
Terletak tepat di tengah Pulau Jawa, Cirebon sangat mudah dijangkau dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Titik ini dikelilingi oleh infrastruktur kelas satu: Bandara Internasional Kertajati, jaringan Tol Trans Jawa, serta persimpangan kereta api nasional yang sangat aktif.
Kesiapan fasilitas akomodasi juga sangat baik. Selain ratusan ponpes yang siap disulap menjadi pusat kegiatan dan akomodasi khas ponpes dengan kapasitas masif, Cirebon juga didukung infrastruktur komersial yang matang.
Terdapat sekitar 1.960 kamar hotel bintang tiga dan empat yang siap digunakan, belum termasuk jaringan penginapan kelas menengah dan homestay yang tersebar merata di seluruh kota dan kabupaten.
Pada akhirnya, kami meyakini Muktamar NU bukan sekedar forum administratif untuk revisi aturan atau suksesi kepemimpinan.
Kongres merupakan ruang perjumpaan batin, pameran kebudayaan, arena pembentukan kader, dan kompas penegasan arah peradaban.
Keinginan Cirebon untuk mengikuti pengabdian besar ini bermula dari kesadaran paripurna.
Cirebon tidak hanya siap secara teknis dan logistik, tetapi juga matang secara historis, budaya, dan internal.
Kedekatan Gus Ipul dengan Kiai Imjaz bagaikan pendulum yang mulai bergerak – menjadi harapan besar bagi Kongres Nahdlatul Ulama ke-35 agar benar-benar kembali ke tanah santri, tanah para pejuang, dan tanah yang memupuk nafas Islam nusantara selama berabad-abad.
Kongres merupakan ruang perjumpaan batin, pameran kebudayaan, arena pembentukan kader, dan kompas penegasan arah peradaban.
Keinginan Cirebon untuk mengikuti pengabdian besar ini bermula dari kesadaran paripurna.
Cirebon tidak hanya siap secara teknis dan logistik, tetapi juga matang secara historis, budaya, dan internal.
Kedekatan Gus Ipul dengan Kiai Imjaz bagaikan pendulum yang mulai bergerak – menjadi harapan besar bagi Kongres Nahdlatul Ulama ke-35 agar benar-benar kembali ke tanah santri, tanah para pejuang, dan tanah yang memupuk nafas Islam nusantara selama berabad-abad. Reporter Tim/Hadi Hoy
Tidak ada komentar