Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Kementerian Sosial Sarang Penyamun – Fusilat News

waktu baca 2 menit
Selasa, 5 Mei 2026 09:13 3 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024

Jakarta – Saat menjabat Presiden, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur membubarkan Departemen Sosial. Mengapa? Karena menjadi sarang penyamun.

Saat Megawati Soekarnoputri naik takhta menjadi Presiden menggantikan Gus Dur, Depsos dihidupkan kembali menjadi Kementerian Sosial.

Lantas apa yang terjadi? Ternyata Gus Dur benar: Depsos atau Kemensos merupakan sarang penyamun. Tercatat sudah tiga Menteri Sosial yang dipenjara karena terlibat korupsi. Hattrick atau “menang” tiga kali berturut-turut. Mereka adalah Bachtiar Chamsyah (Partai Persatuan Pembangunan), Idrus Marham (Partai Golkar) dan Juliari Batubara (PDI Perjuangan).

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Di bawah menteri, banyak pula pejabat Kemensos yang sudah dipenjara, dan ada pula yang sedang menjalani proses hukum. Artinya, kementerian ini benar-benar telah menjadi sarang penyamun.

Lalu, bagaimana kini ketika Kemensos dipimpin Saifullah Yusuf, kemenakan Gus Dur yang pernah membubarkan Depsos? Sepertinya setali tiga uang.

Lihat saja. Kemensos kini menganggarkan belanja sepatu untuk program Sekolah Rakyat sebesar Rp27 miliar. Yang menjadi sorotan adalah harga asli sepatu Stradanine Rp179.000 dianggarkan Rp700.000 per pasang.

Gus Ipul, sapaan Saifullah Yusuf berdalih, itu baru penganggaran. Dalam pelaksanaan lelang nanti, katanya, harganya akan jauh lebih murah dari Rp700.000.

Pertanyaannya, siapa yang bisa menjamin harga lelang sepatu nanti akan lebih murah dari Rp700.000 atau bahkan Rp179.000 sesuai harga aslinya?

Tidak ada yang bisa menjamin. Kalaupun lebih murah, tak akan jauh dari Rp700.000 atau menyesuaikan plafon.

Hal ini mengingatkan kita pada anggaran belanja kaus kaki Badan Gizi Nasional (BGN) yang mencapai Rp100.000 per pasang.

Pun impor ratusan ribu mobil pick up dari India serta pengadaan 25.000 sepeda motor oleh BGN yang dilakukan secara ugal-ugalan. Sudah begitu, banyak anak sekolah keracunan gegara Makan Bergizi Gratis (MBG).

Di sisi lain, rakyat sedang berjibaku menghadapi kesulitan hidup. Harga sembako melambung tinggi. Nilai tukar rupiah terus melorot.

Ironisnya, kok tega-teganya para pejabat pesta pora dengan bancakan anggaran?

Di depan puluhan ribu buruh saat memperingati May Day atau Hari Buruh Internasional di Lapangan Monas, Jakarta, Jumat (1/5/2026), Presiden Prabowo bertanya, “MBG bermanfaat atau tidak?”

Spontan para buruh kompak menjawab: “Tidak!”

Meski demikian, tak ada evaluasi dari Presiden. Program MBG tetap jalan.

“Asu kabeh (semua)”, memang. A = tidak. Su = baik. Asu berarti tidak baik. Begitulah para pemimpin dan pejabat kita.



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *






Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg