Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Menjemput Sunyi di Ujung Ramadan: Itikaf sebagai Jalan Pulang Ruhani

waktu baca 3 menit
Selasa, 10 Mar 2026 14:06 12 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

FusilatNews – Ramadan selalu berjalan seperti aliran waktu yang lembut—datang membawa harapan, lalu perlahan menjauh meninggalkan jejak perenungan. Ketika bulan suci itu memasuki sepuluh hari terakhir, suasananya berubah. Ada kesan tergesa namun juga khidmat. Seolah umat Islam diingatkan bahwa kesempatan besar hampir berakhir, sementara pintu rahmat masih terbuka lebar.

Di fase inilah banyak kaum Muslim memilih mendekat lebih dalam kepada Allah melalui itikaf, sebuah ibadah yang diwariskan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Itikaf bukan sekadar berdiam di masjid. Ia adalah upaya menyingkir sejenak dari hiruk-pikuk dunia, memasuki ruang sunyi yang memungkinkan jiwa berbicara lebih jujur kepada Tuhannya.

Sepuluh hari terakhir Ramadan dikenal sebagai masa paling istimewa dalam kalender spiritual umat Islam. Di dalamnya tersembunyi Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Karena itu, para ulama sejak dahulu mengajarkan agar umat Islam memperbanyak ibadah pada fase ini—salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, dan tentu saja beritikaf.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Tradisi ini kini juga hidup di berbagai masjid besar di Indonesia. Salah satu yang secara konsisten membuka ruang bagi jamaah untuk beritikaf adalah Masjid Istiqlal, masjid terbesar di Asia Tenggara sekaligus simbol spiritual umat Islam di ibu kota.

Pada Ramadan 2026, Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI) kembali mengumumkan pelaksanaan itikaf melalui akun Instagram resminya. Informasi yang disampaikan mencakup jadwal kegiatan, imbauan bagi jamaah, hingga rangkaian aktivitas ibadah selama sepuluh hari terakhir Ramadan.

Berbeda dengan kegiatan yang bersifat terbatas, pelaksanaan itikaf di Masjid Istiqlal terbuka bagi masyarakat umum. Jamaah tidak perlu melakukan pendaftaran terlebih dahulu. Siapa pun dapat datang langsung ke masjid untuk mengikuti rangkaian ibadah tersebut.

Keterbukaan ini mencerminkan semangat masjid sebagai rumah bersama umat. Masjid bukan sekadar bangunan ibadah, tetapi juga ruang spiritual yang mempersatukan berbagai lapisan masyarakat—dari pekerja kantoran yang pulang larut malam, mahasiswa yang mencari ketenangan, hingga para musafir yang ingin merasakan keberkahan Ramadan di jantung ibu kota.

Selama itikaf, waktu terasa bergerak dengan cara yang berbeda. Malam tidak lagi dipenuhi oleh percakapan duniawi, tetapi oleh lantunan ayat suci, zikir yang berulang, dan doa yang dipanjatkan dengan penuh harap. Di antara saf-saf yang sunyi, manusia berdiri sama: tanpa jabatan, tanpa kekuasaan, tanpa perbedaan status sosial.

Di situlah makna terdalam itikaf terasa. Ia bukan sekadar ritual ibadah, melainkan proses membersihkan diri dari segala yang melekat pada dunia. Dalam keheningan masjid, manusia belajar kembali tentang kerendahan hati—bahwa hidup ini pada akhirnya hanyalah perjalanan menuju Sang Pencipta.

Sepuluh hari terakhir Ramadan dengan demikian bukan hanya penutup sebuah bulan ibadah. Ia adalah kesempatan terakhir untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, memperdalam kesadaran spiritual, dan menata ulang arah hidup.

Dan mungkin, di tengah malam yang sunyi di dalam masjid, seseorang akan menyadari bahwa yang paling dicari dalam hidup bukanlah kemewahan atau kekuasaan, melainkan ketenangan hati—ketenangan yang hanya bisa ditemukan ketika manusia kembali mendekat kepada Tuhannya.



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *






Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg