Refleksi Silaturahmi Ikatan Keluarga MUHI 84 Jabodetabek
Oleh: Asruri Muhammad
Pengamat Sosial Keagamaan
Minggu pagi, 8 Februari 2026, kediaman M. Bakrun Dahlan (Wakil Ketua DIKDASMEN PNF PP Muhammadiyah) di Cinere, Depok, menjadi tempat kumpul hangat sekitar 30 alumni MUHI 84 beserta anak-anaknya. Agenda rutin tiga bulanan ini berpindah-pindah tempat, namun semangat silaturahmi tetap sama: menjaga silaturahmi, mempererat ukhuwah, dan mempersiapkan hati menyambut Ramadhan.
Pembawa acara membuka pertemuan dengan pesan sederhana namun mendalam: persahabatan itu penting, terutama bagi mereka yang “tidak muda tetapi tidak muda lagi”. Usia yang sudah tidak muda lagi mengingatkan kita bahwa hidup tidak bisa dijalani sendirian, melainkan membutuhkan komunikasi, pertemuan dan saling menguatkan dalam ikatan kekeluargaan alumni.
Ida Pujiastuti, Ketua Ikamuhi Jabodetabek, menegaskan pertemuan ini bukan sekedar reuni kecil-kecilan. Ia menceritakan rencana Reuni Besar di Banyuwangi dan menyampaikan perlunya perubahan kepengurusan untuk penyegaran. “Jagalah semangat silaturahmi, karena itulah yang mempersatukan kita meski bertambah tua,” ujarnya.
Dalam suasana penuh keakraban dan kebebasan ini, saya berkesempatan menyampaikan tausiyah tentang persiapan menyambut Ramadhan. Bukan sekedar tips teknis, tapi refleksi kehidupan beramal ala Salafi yang saleh: ada tiga fase penting—sebelum, saat, dan setelah Ramadhan.
*Mempersiapkan Hati Menjelang Ramadhan*
Mempersiapkan Ramadhan dimulai dari hati. Tidak cukup hanya menunggu jadwal berbuka atau target khatam Al-Qur’an saja, namun harus mempersiapkan diri dengan bertaubat, bersuci, membersihkan dosa-dosa, memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama, serta melunasi hutang puasa sebelumnya. Allah memerintahkan manusia untuk bersegera dalam kebaikan dan taubat:
“Dan bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran : 133).
Seiring bertambahnya usia dan tubuh Anda semakin lemah, memperkuat latihan jantung Anda menjadi semakin penting. Kekuatan tubuh boleh saja menurun, namun hati yang bersih dan iman yang teguh tetap bisa melahirkan amalan yang bernilai. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat penampilan dan hartamu, tetapi Dia melihat hatimu dan amal perbuatanmu.” (HR.Muslim).
Renungan ini mengingatkan kita bahwa hidup bukan tentang siapa yang kuat atau sehat, tapi siapa yang mampu menjaga hatinya, ikhlas dalam amalnya, dan tetap dekat dengan Allah. Mempersiapkan Ramadhan bagi mereka yang sudah tak muda lagi bukan sekedar menahan lapar dan haus, namun bagaimana hati tetap terbuka terhadap cahaya hidayah, taubat dan amal yang berkualitas.
Bersikaplah serius selama Ramadhan
Saat Ramadhan tiba, keseriusan menjadi kuncinya. Bukan sekadar menahan lapar dan haus, namun memanfaatkan setiap hari untuk amal yang diridhai Allah. Rasulullah ﷺ mengingatkan:
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa masa lalunya diampuni.” (HR. Bukhari & Muslim).
Kisah para sahabat mengajarkan bahwa nilai hidup tidak selalu ditentukan oleh bagaimana seseorang meninggal, melainkan oleh kesempatan beramal yang penuh dengan keikhlasan. Salah satu cerita yang saya ceritakan adalah tentang dua orang sahabat yang masuk Islam bersama-sama. Salah satu dari mereka gugur syahid di medan jihad, sementara yang lain hidup lebih lama, melewati Ramadhan berikutnya. Dalam mimpi, Rasulullah ﷺ melihat seorang sahabat yang berumur lebih panjang dan mempunyai status lebih tinggi karena kesempatan amal yang diisinya di bulan Ramadhan. Kisah ini menjadi pelajaran penting: panjang umur seorang hamba yang diisi dengan Ramadhan dan amal shaleh dapat mendatangkan keutamaan yang luar biasa di sisi Allah.
Namun puasa bisa menjadi sia-sia jika hati dan lidah tidak dijaga: kebohongan, fitnah, adu mulut, atau sumpah palsu dapat merusak nilai ibadah. Saat pengajian, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Banyak pertanyaan mengalir masuk, baik seputar Ramadhan maupun kehidupan sehari-hari. Salah satunya Mei Sulistiyono yang meski secara fisik kesulitan berjalan, tetap rutin mengikuti setiap pertemuan alumni. Antusiasmenya merupakan cerminan bagaimana persahabatan dan niat baik dapat mempererat tali silaturahmi dan memotivasi seluruh peserta.
Menjaga Amal Setelah Ramadhan
Ramadhan tidak berakhir ketika hilal Syawal terlihat. Salaf memperbanyak istighfar dan menjaga kualitas amalnya agar tetap diterima di sisi Allah. Rasulullah ﷺ berkata:
“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umur dan paling baik amalnya.” (HR. Tirmidzi, Hasan).
Amalan hati tetap intinya: ikhlas, bertakwa kepada Allah, berharap pada rahmat-Nya, dan bertawakal. Segala perbuatan bukan semata-mata hasil usaha manusia, melainkan karena pertolongan dan berkah Tuhan. Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati.
Refleksi saya dari pertemuan ini sederhana saja: Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tapi momentum introspeksi dan penguatan diri. Silaturahmi yang hangat, perbincangan penuh makna, kisah-kisah inspiratif dari para sahabat, serta tanya jawab yang meriah, semuanya merupakan latihan praktis menghadapi Ramadhan. Hati yang bersih, keikhlasan dalam bersedekah, dan menjaga keberlangsungan amal setelah Ramadhan menjadi hikmah nyata yang bisa kita amalkan, bahkan sebelum bulan suci tiba.
Tausiyah berakhir pada adzan dhuhur. Usai salat Dzuhur, kami melanjutkan dengan ngobrol santai sambil menikmati santapan dari tuan rumah. Pertemuan ini meninggalkan kesan yang sangat mendalam bahwa Ramadhan dapat disambut dengan persiapan tidak hanya secara fisik atau ritual, namun juga spiritual, sosial dan emosional. Silaturahmi, bagi alumni MUHI 84, bukan sekedar reuni, melainkan cara untuk tetap hidup, belajar dan menguatkan satu sama lain, sekaligus memetik hikmah dari salafus shalih tentang kehidupan yang penuh makna.
Google Berita
Source link
Tidak ada komentar