Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Perang di Timur Tengah semakin berkecamuk, perekonomian dunia semakin tidak stabil

waktu baca 4 menit
Rabu, 4 Mar 2026 11:14 16 Catra

Oleh : Syahirul Alem, SE

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Rudal Israel dan Amerika menghantam pusat pemerintahan dan pangkalan pertahanan Iran. Sebaliknya, Iran merespons dengan rudal jelajah yang menargetkan kota-kota di Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk. Eskalasi perang di Timur Tengah semakin memanas setelah perundingan di Jenewa menemui jalan buntu.

Pemerintahan Donald Trump disebut-sebut sedang berusaha menyingkirkan rezim Iran yang dianggap otoriter. Bagi Amerika Serikat yang kerap memposisikan dirinya sebagai penentu arah politik global, dengan Israel sebagai sekutu utamanya, pergantian rezim di Iran merupakan agenda strategis. Kematian ribuan demonstran dalam kekacauan politik dalam negeri Iran telah digunakan sebagai alasan moral untuk melancarkan tekanan militer.

Dibalik itu, perang ini dinilai sarat dengan kepentingan ekonomi dan energi. Timur Tengah merupakan kawasan dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Pengaruh Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak global menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Asumsi yang berkembang di kalangan kebijakan Washington terkesan sederhana, melemahnya tokoh-tokoh kunci diyakini mampu meruntuhkan fondasi kekuasaan. Namun realitas politik Iran tidak sesederhana itu.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Keterlibatan Israel juga menjadi perhatian penting. Setelah upaya sebelumnya tidak membuahkan hasil yang signifikan, kini serangan tersebut kembali dilancarkan melalui koordinasi yang lebih intens dengan Amerika Serikat. Dampaknya meluas secara regional. Serangan balasan Iran dilaporkan menghantam pangkalan militer Amerika Serikat di Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Arab Saudi.

Konflik ini menimbulkan pertanyaan apakah akan berkembang menjadi ketegangan ideologi antara Sunni dan Syiah. Negara-negara Teluk yang mayoritas penduduknya Sunni berada dalam posisi sulit, di satu sisi menjaga hubungan strategis dengan Amerika Serikat, namun di sisi lain menghadapi risiko instabilitas regional.

Banyak pihak khawatir perang ini akan mendorong tatanan dunia menuju fase multipolar yang lebih tegang. Aliansi saingan seperti BRICS semakin menguat sebagai kekuatan ekonomi alternatif. Bahkan negara-negara yang tergabung dalam NATO mulai menunjukkan sikap lebih berhati-hati dalam menyikapi kebijakan Washington. Pergeseran geopolitik ini dapat mengubah lanskap perekonomian global secara signifikan.

Isu nuklir Iran memang menjadi pemicu formal perundingan, namun dinamika yang berkembang jauh melampaui isu tersebut. Ambisi untuk memperluas pengaruh di kawasan, termasuk dinamika di Gaza, juga membentuk konfigurasi konflik. Kelompok yang berafiliasi dengan Iran seperti Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman adalah bagian dari spektrum konflik yang lebih luas. Sementara itu, Hamas yang berbasis di Gaza juga memiliki hubungan yang rumit dengan Teheran meskipun mereka berlatar belakang Sunni.

Kematian pemimpin spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tidak serta merta melemahkan negara. Dalam sejarah Iran, tekanan eksternal seringkali memperkuat solidaritas nasional. Serangan terhadap simbol-simbol kepemimpinan spiritual berisiko memperdalam sentimen perlawanan.

Dari segi ekonomi, dampak perang langsung terasa. Harga minyak mentah naik tajam akibat gangguan distribusi di Selat Hormuz. Jalur ini digunakan kapal tanker dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Ketika pasokan terganggu, harga energi global meningkat dan memberikan tekanan pada perekonomian negara-negara pengimpor minyak. Inflasi menguat, nilai tukar tertekan, dan defisit anggaran melebar.

Sejarah menunjukkan bahwa keruntuhan rezim tidak selalu membawa stabilitas. Penggulingan Saddam Hussein di Irak dan Muammar Gaddafi di Libya menyisakan ketidakstabilan berkepanjangan. Afghanistan juga menjadi pelajaran mahal bagi Amerika Serikat tentang sulitnya membangun tatanan politik baru melalui intervensi militer.

Di Iran, tekanan ekonomi akibat inflasi dan pengangguran memicu gelombang protes. Generasi muda menunjukkan aspirasi perubahan yang berbeda dengan elit konservatif. Namun perubahan politik yang dipaksakan dari luar berpotensi menciptakan kekacauan yang lebih dalam.

Sementara itu, Tiongkok nampaknya masih penuh perhitungan dalam menyikapi eskalasi ini. Kepentingannya terhadap stabilitas pasokan energi membuat Beijing cenderung mengambil sikap hati-hati. Dunia kini berada dalam ketidakpastian yang besar. Jika blokade Selat Hormuz berlangsung lama, maka krisis energi global akan sulit dihindari.

Negara seperti Indonesia tentu tidak kebal terhadap dampaknya. Ketergantungan pada impor energi menyebabkan tekanan terhadap harga minyak berdampak langsung terhadap APBN dan stabilitas perekonomian nasional. Nilai tukar rupiah rawan berfluktuasi di tengah sentimen negatif global.

Pada akhirnya, konflik yang berkepanjangan hanya akan menambah kerugian ekonomi dan kemanusiaan. Kehancuran Gaza menjadi luka yang mendalam bagi dunia. Memperluas perang ke wilayah lain akan memperburuk keadaan. Dialog dan diplomasi kembali harus menjadi pilihan utama.

Amerika Serikat dan Iran perlu kembali ke meja perundingan dengan menghormati hukum internasional dan peran lembaga-lembaga global. Dunia membutuhkan stabilitas, bukan eskalasi tanpa akhir. Timur Tengah sudah terlalu lama menjadi arena kepentingan global. Sudah saatnya perdamaian menjadi prioritas bagi kesejahteraan masyarakat kawasan dan stabilitas perekonomian dunia.

Simak berita dan artikel lainnya di Google Berita



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *






Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg