Sejarawan Lamongan, Cak Supriyanto memaparkan sejarah awal Kabupaten Lamongan pada abad ke-18 yang menyimpan catatan emas dan kelam tentang perjuangan melawan kolonialisme. Dalam pusaran Perang Tahta Jawa Kedua, muncul sosok Bupati Lamongan ke-6 Panji Surengrana yang dikenal sebagai pemimpin pemberani dengan garis keturunan besar dari Ki Ageng Brondong di kawasan pesisir utara Lamongan.
Menurut Cak Supriyanto, sejarah Panji Surengrana tidak lepas dari sosok Ki Ageng Brondong atau Pangeran Lanang Dangiran, seorang ulama dan bangsawan asal pesisir utara Brondong, Lamongan.
“Ki Ageng Brondong merupakan founding father dinasti penguasa di Jawa Timur yang berpusat di Botoputih, Surabaya. Dari garis keturunannya lahir pemimpin-pemimpin yang kuat, termasuk Panji Surengrana,” kata Cak Supriyanto kepada wartawan, Rabu (29/4/2026).
Panji Surengrana menjabat sebagai Bupati Lamongan pada tahun 1707 hingga 1723. Ia dikenal tidak hanya sebagai pemimpin pemerintahan, tetapi juga sebagai panglima perang yang tegas mempertahankan kedaulatan wilayahnya dari campur tangan VOC.
Puncak perjuangannya terjadi pada tahun 1721 ketika Panji Surengrana bersekutu dengan kakak laki-lakinya, Adipati Jayapuspita dari Surabaya, untuk menentang campur tangan VOC yang berusaha menguasai Keraton Mataram Kartasura.
Keberanian tersebut memicu serangan besar-besaran VOC bersama pasukan koalisi Mataram yang mengepung Lamongan dari tiga arah. Dalam pertempuran timpang tersebut, pusat kota Lamongan terbakar habis.
Peristiwa tragis tersebut kemudian dikenal dengan Peristiwa Karang Abang yang merupakan simbol pengorbanan besar masyarakat Lamongan demi menjaga kehormatan dan martabat daerahnya.
Karang Abang merupakan simbol bahwa Lamongan dulunya adalah lautan api. Kota ini berubah menjadi arang merah untuk menjaga harkat dan martabatnya, jelasnya.
Meski kota hancur total, Panji Surengrana tak putus asa. Ia memimpin sisa pasukannya mundur ke selatan dan melanjutkan perlawanan melalui strategi perang gerilya di kawasan semak belukar Lamongan.
Bahkan, dalam upaya memperkuat pertahanan, Panji Surengrana disebut menjalin kerja sama militer dengan prajurit Kerajaan Buleleng, Bali.
Namun perjuangan fisik ini akhirnya terhenti pada tahun 1723. Panji Surengrana ditangkap oleh VOC dan dijatuhi hukuman pengasingan di Kolombo, Sri Lanka.
Pengasingan ini menandai berakhirnya era kepemimpinan langsung dinasti pejuang di Lamongan ini, namun semangat perjuangannya masih tetap hidup hingga saat ini.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur agung tersebut, kini nama Ki Ageng Brondong diabadikan oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan sebagai nama jalan dan nama RSUD di kawasan Pantura.
Sementara itu, sosok Panji Surengrana juga dikenang melalui warisan budaya, salah satunya melalui Beksan Surengrana yang masih ditarikan di Keraton Yogyakarta.
Cak Supriyanto menegaskan, kisah Ki Ageng Brondong hingga diasingkannya Panji Surengrana menjadi pengingat penting bagi generasi sekarang dan mendatang.
Lamongan dibangun di atas landasan keberanian yang tidak luntur meski harus melewati api Karang Abang. Terjadi pertempuran sengit dari berbagai arah – utara, timur, dan barat – hingga Panji Surengrana terdesak ke selatan untuk menyusun kekuatan baru, ”ujarnya.
Menurutnya, semangat pantang menyerah yang harus terus diinformasikan dan ditanamkan kepada generasi muda sebagai bagian dari jati diri sejarah Lamongan.
“Hal ini perlu diwariskan agar generasi mendatang memahami bahwa Lamongan lahir dari kegigihan dan keberanian pantang menyerah,” pungkas pria yang akrab disapa Yak Pri ini. Wartawan: Hadi Hoy
Tidak ada komentar