Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

El Nino Diperkirakan Kembali Menguat Pertengahan 2026: PBB Keluarkan Peringatan Dini

waktu baca 2 menit
Senin, 4 Mei 2026 04:25 4 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Oleh Robin Millard
Geneva

Fenomena cuaca global El Nino, yang sebelumnya mendorong suhu bumi mencapai rekor tertinggi, diperkirakan akan kembali muncul pada pertengahan 2026. Hal ini disampaikan oleh badan cuaca dan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa, World Meteorological Organization (WMO).

WMO menyebutkan bahwa kondisi El Nino berpotensi berkembang mulai periode Mei hingga Juli 2026. Bahkan, indikasi awal menunjukkan fenomena kali ini bisa tergolong kuat.

El Nino merupakan fenomena iklim alami yang menyebabkan pemanasan suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik ekuatorial. Dampaknya meluas secara global, memengaruhi pola angin, tekanan udara, dan curah hujan di berbagai wilayah dunia.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Fenomena ini terjadi dalam siklus yang bergantian dengan La Nina—kondisi kebalikannya—dengan fase netral di antaranya.

Peristiwa El Nino terakhir berkontribusi menjadikan tahun 2023 sebagai tahun terpanas kedua dalam sejarah, sementara 2024 mencatat rekor tertinggi sepanjang masa.

Kepala prediksi iklim WMO, Wilfran Moufouma-Okia, menyatakan bahwa setelah periode netral di awal tahun, terdapat tingkat keyakinan tinggi bahwa El Nino akan segera terbentuk dan terus menguat.

Secara historis, El Nino terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali dan berlangsung sekitar sembilan hingga dua belas bulan.

Dalam pembaruan iklim musiman global terbaru, WMO mencatat bahwa suhu permukaan laut di Pasifik ekuatorial meningkat dengan cepat—indikasi kuat kembalinya El Nino dalam waktu dekat.

Proyeksi tiga bulan ke depan menunjukkan dominasi suhu daratan di atas normal hampir di seluruh dunia.

Meski demikian, WMO menegaskan tidak ada bukti bahwa perubahan iklim meningkatkan frekuensi atau intensitas El Nino. Namun, perubahan iklim dapat memperparah dampak yang ditimbulkan.

Menurut WMO, tahun 2024 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat akibat kombinasi El Nino kuat 2023–2024 dan pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca.

Dampak El Nino biasanya mencakup peningkatan curah hujan di Amerika Selatan bagian selatan, Amerika Serikat bagian selatan, Tanduk Afrika, dan Asia Tengah. Sebaliknya, wilayah seperti Australia, Indonesia, dan sebagian Asia Selatan cenderung mengalami kekeringan.

Selain itu, suhu laut yang lebih hangat dapat memperkuat badai di Pasifik tengah dan timur, tetapi justru menghambat pembentukan badai di Atlantik.

WMO berharap peringatan dini ini dapat membantu berbagai sektor—terutama pertanian, pengelolaan air, energi, dan kesehatan—untuk melakukan langkah antisipatif.

Dalam laporan April-nya, WMO juga menyebutkan bahwa suhu daratan untuk periode Mei hingga Juli diperkirakan berada di atas normal hampir di semua wilayah, dengan sinyal terkuat di Amerika Utara bagian selatan, Amerika Tengah, Karibia, Eropa, dan Afrika Utara.

© 2026 AFP



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *






Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg