Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Tolak kehadiran di Pasuruan, PNIB akan mengusir dan menyatakan perang terhadap Habib Rizieq

waktu baca 3 menit
Selasa, 5 Mei 2026 20:19 2 Catra

Ketua Umum Organisasi Masyarakat Kebangsaan dan Kebhinekaan Lintas Agama, Suku dan Budaya Pejuang Kepulauan Indonesia Bersatu (PNIB), AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal), menyatakan penolakannya dengan tegas dan tegas terhadap rencana Habib Rizieq Shihab menghadiri acara bertajuk Tabligh Akbar & Istighotsah untuk Palestina yang akan digelar di Lapangan Pegantenan, Pasuruan.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Menurut Gus Wal, kepedulian terhadap Palestina tidak boleh dijadikan kedok untuk menjalankan agenda yang berpotensi memecah belah bangsa. Ia menilai kehadiran Rizieq Shihab, sosok yang kerap menimbulkan kontroversi, berisiko menggeser substansi solidaritas menjadi panggung provokasi.

“Jangan bungkus agenda lama dengan kemasan baru. Palestina adalah isu kemanusiaan, bukan alat untuk menimbulkan polarisasi di dalam negeri,” tegas Gus Wal, Selasa (5/5/2026).

PNIB juga menyampaikan harapannya kepada seluruh panitia penyelenggara kegiatan di Lapangan Pegantenan agar lebih selektif dalam menentukan tokoh-tokoh yang diundang dalam kegiatan keagamaan berskala besar. Gus Wal menilai, masih banyak ulama dan sayyid di Pasuruan dan Jawa Timur yang memiliki rekam jejak keren, inklusif, dan mampu menjaga persatuan umat tanpa membawa konflik.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

“Kalau memang tujuannya untuk doa dan solidaritas merawat Palestina, banyak ulama yang lebih tenang, bukan mereka yang justru memicu keributan. Kehadiran Habib Rizieq Shihab yang merupakan residivis pidana dan beberapa kali dipenjara dikhawatirkan akan menjadi contoh buruk bagi mahasiswa dan masyarakat,” lanjutnya.

Lebih lanjut, PNIB yang didukung tokoh agama dan masyarakat Pasuruan mengimbau aparat penegak hukum, khususnya Polres Pasuruan dan Polda Jatim, tidak memberikan izin terhadap kegiatan yang menghadirkan Rizieq Shihab, tokoh dengan rekam jejak hukum dan sosial yang dinilai bermasalah.

“Negara tidak boleh kalah dengan narasi simbolik. Mengenakan sorban bukan berarti kebal kritik. Jika rekam jejak berulang kali memicu konflik, maka negara harus bertindak tegas,” kata Gus Wal.

PNIB juga mengingatkan bahwa organisasi Front Pembela Islam (FPI) telah resmi dibubarkan oleh pemerintah, sehingga segala upaya untuk mengembalikan panggung tokoh-tokohnya dipandang sebagai langkah mundur dalam menjaga stabilitas nasional. PNIB menegaskan, jangan pernah membiarkan kembali kebangkitan FPI atau HTI yang selama ini dianggap sebagai sumber intoleransi, radikalisme, dan ancaman persatuan bangsa.

“FPI sudah dibubarkan. Jangan diberi ruang, jangan diberi panggung, apalagi dibungkus dengan isu sakral seperti Palestina. Ini berbahaya,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Gus Wal menegaskan persatuan Indonesia harus menjadi prioritas utama di atas segala kepentingan kelompok.

“Kita memang peduli terhadap Palestina, tapi jangan sampai membawa api ke rumah kita sendiri. Solidaritas bisa diwujudkan melalui qunut nazilah atau menyalurkan donasi melalui lembaga yang kredibel dan terpercaya, sehingga tidak terulang kembali penyalahgunaan donasi kemanusiaan seperti kasus-kasus yang terjadi di masa lalu,” pungkas Gus Wal. Pewarta Hadi Hoy

Simak berita dan artikel lainnya di Google Berita



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *






Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg