Rencana Presiden RI Prabowo Subianto berkunjung ke Inggris (UK) untuk berdiskusi dengan kampus-kampus elit dunia dipandang sebagai sinyal kuat keseriusan pemerintah dalam mengejar ketertinggalan pendidikan nasional, khususnya di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, dan Mathematics).
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai langkah ini bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan bagian dari strategi besar pemerintahan Prabowo dalam membangun kekuatan sumber daya manusia (SDM) sebagai landasan utama kemandirian bangsa di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Ini bukan sekadar safari akademik. Ini pesan strategis bahwa Prabowo memandang pendidikan—khususnya ilmu STEM—sebagai instrumen kekuasaan negara, bukan sekadar urusan sosial,” kata Amir Hamzah dalam keterangannya, Sabtu (17/1/2026).
Menurut Amir Hamzah, dalam perspektif intelijen modern dan geopolitik, pendidikan telah bergeser menjadi alat kekuatan nasional. Negara-negara maju tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan militer dan ekonomi, namun juga kapasitas riset, inovasi, dan penguasaan ilmu pengetahuan.
Inggris dipilih bukan tanpa alasan. Negara ini memiliki ekosistem pendidikan dan penelitian kelas dunia, dengan universitas seperti University of Oxford, University of Cambridge, Imperial College London, dan berbagai lembaga penelitian terkemuka yang menjadi rujukan global.
“Oxford bukan sekedar simbol akademis, tapi pusat produksi ilmu pengetahuan dunia. Riset selalu menjadi yang terdepan, dan hasilnya tidak berhenti di jurnal, tapi masuk ke industri, pasar global, dan perkembangan peradaban,” kata Amir.
Ia meyakini bahwa Prabowo benar dalam membaca bahwa keterbelakangan Indonesia dalam bidang ilmu STEM berdampak langsung pada ketergantungan teknologi, lemahnya daya saing industri, dan posisi tawar Indonesia di kancah global.
Amir Hamzah menegaskan, fokus Prabowo pada STEM menunjukkan orientasi jangka panjang. Di era kecerdasan buatan, energi terbarukan, bioteknologi, dan pertahanan modern, negara-negara yang tidak menguasai ilmu pengetahuan akan tertinggal secara struktural.
“Kalau Indonesia hanya menjadi pasar, bukan produsen iptek, maka kita akan terus bergantung. Prabowo sepertinya ingin memutus mata rantai ketergantungan,” ujarnya.
Diskusi dengan kampus elite Inggris, lanjut Amir, membuka peluang:
-Transfer pengetahuan dan penelitian
-Kerja sama pengembangan teknologi yang strategis
-Meningkatkan kualitas dosen dan peneliti Indonesia
-Akses jaringan akademik dan industri global
Dalam jangka panjang, hasil penelitian ini dapat menyerap pangsa pasar global dan berkontribusi langsung terhadap pembangunan nasional, mulai dari sektor industri, energi, pertahanan, dan kesehatan.
Lebih lanjut, Amir Hamzah menilai kunjungan Prabowo ke Inggris juga mengandung misi diplomatik yang strategis di tengah situasi global yang tidak menentu. Ketegangan geopolitik, fragmentasi ekonomi dunia, konflik regional, dan perang teknologi antar blok besar menuntut Indonesia untuk berhati-hati.
“Diplomasi pendidikan merupakan soft power yang paling efektif. Tidak menimbulkan perlawanan, namun membangun kepercayaan dan posisi tawar,” jelas Amir.
Inggris, meski bukan lagi anggota Uni Eropa, namun tetap mempunyai pengaruh besar dalam:
-Jaringan akademis global
-Penelitian pertahanan dan teknologi
-Keuangan internasional
-Kebijakan global berbasis pengetahuan
Dengan menjalin hubungan erat di bidang pendidikan dan penelitian, Indonesia dinilai mampu menjaga keseimbangan geopolitik, tanpa harus terseret konflik kepentingan blok-blok besar dunia.
Menurut Amir Hamzah, langkah tersebut juga mencerminkan gaya kepemimpinan Prabowo yang pragmatis dan strategis. Berlatar belakang militer dan geopolitik, Prabowo memandang pendidikan bukan sekedar urusan kementerian, tapi instrumen ketahanan nasional.
“Ini adalah pendekatan intelijen yang strategis. Membangun kekuatan dari hulu – dari sains dan manusia,” tegasnya.
Ia menilai, jika diterapkan secara konsisten, kebijakan tersebut bisa menjadi warisan besar pemerintahan Prabowo, yakni meletakkan dasar bagi Indonesia sebagai negara yang tidak hanya besar secara demografis, tetapi juga kuat secara intelektual dan teknologi.
Namun, Amir Hamzah mengingatkan keberhasilan misi ini sangat bergantung pada tindak lanjut di dalam negeri. Reformasi kurikulum, budaya penelitian, pendanaan pendidikan, dan tata kelola universitas harus berjalan beriringan.
“Jika hasil pembahasan hanya berhenti pada MoU saja maka akan sia-sia. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengubah sistem pendidikan kita agar sesuai dengan standar global,” tutupnya.
Tidak ada komentar