Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, tetapi Menyalakan Kehidupan Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Project-Based Learning dan Filosofi Urip Iku Urup di Sekolah Dasar

waktu baca 5 menit
Kamis, 14 Mei 2026 02:19 2 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Oleh Aries Musnandar & Ramadhan Al-Ayubi

Pagi itu, beberapa siswa SD Negeri 1 Pakisaji tampak sibuk menyusun botol bekas menjadi taman vertikal di sudut sekolah. Sebagian lainnya mengaduk kompos organik, sementara kelompok lain berdiskusi menentukan desain pot tanaman dari barang bekas. Tidak ada suasana kelas yang pasif. Anak-anak justru terlihat antusias bekerja sama.

Dari aktivitas sederhana itulah filosofi Jawa urip iku urup diajarkan: hidup harus memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

Di tengah dunia pendidikan yang semakin sibuk mengejar nilai akademik, ranking, dan prestasi kompetitif, muncul satu pertanyaan mendasar yang mulai jarang diajukan: apakah sekolah hari ini masih berhasil mendidik anak untuk peduli kepada sesama?

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Pertanyaan itulah yang melatarbelakangi penelitian mahasiswa MPAI Pascasarjana Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang, Ramadhan Al-Ayubi, di SD Negeri 1 Pakisaji. Dalam bimbingan akademik penulis, penelitian ini menemukan bahwa pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning/PjBL) tidak hanya mampu meningkatkan kreativitas siswa, tetapi juga berhasil menghidupkan kembali filosofi luhur Jawa: urip iku urup — hidup harus memberi cahaya dan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Penelitian ini menjadi menarik karena memadukan model pembelajaran modern dengan filosofi budaya Jawa sebagai fondasi pendidikan karakter.

Sebagai dosen pembimbing, saya melihat penelitian ini memiliki nilai penting karena menawarkan pendekatan pendidikan karakter yang tidak berhenti pada teori moral di ruang kelas, melainkan diwujudkan melalui aksi nyata siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Penelitian tersebut menemukan bahwa penerapan model Project-Based Learning mampu mengubah ruang kelas menjadi ekosistem pembelajaran yang aktif, kolaboratif, dan penuh kepedulian sosial.

“Anak-anak ternyata lebih mudah memahami nilai kepedulian ketika mereka mengalami dan mempraktikkannya secara langsung, bukan hanya mendengarkan ceramah,” ujar Ramadhan Al-Ayubi dalam hasil penelitiannya.

Yang menarik, siswa tidak hanya diminta mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga dilibatkan langsung dalam proyek-proyek nyata terkait lingkungan sekolah.

Mulai dari membuat taman vertikal, mendaur ulang barang bekas menjadi produk bernilai guna, mengolah limbah organik menjadi kompos, hingga melakukan gerakan kolektif menjaga kebersihan sekolah.

Melalui proyek-proyek tersebut, siswa belajar bukan hanya menggunakan pikiran, tetapi juga menumbuhkan empati sosial.

“Pendidikan karakter tidak cukup hanya diajarkan, tetapi harus dihidupkan dalam pengalaman belajar sehari-hari,” jelas Dr. Aries Musnandar.

Dampak Project-Based Learning di SDN 1 Pakisaji

Model PjBL berbasis filosofi urip iku urup menghasilkan peningkatan kreativitas sekaligus kepedulian sosial siswa.

Indikator Dampak
Kreativitas 90
Kepercayaan Diri 85
Kolaborasi 92
Kepedulian Sosial 95
Inisiatif Lingkungan 93

Hasil sintesis penelitian mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang.

Dalam penelitian ini ditemukan bahwa pembelajaran berbasis proyek mendorong munculnya berbagai indikator kreativitas siswa. Anak-anak mulai berani menyampaikan ide di depan kelas, mampu memecahkan masalah saat proyek berlangsung, serta menunjukkan orisinalitas dalam memanfaatkan barang bekas menjadi produk kreatif.

Suasana kelas juga berubah menjadi lebih aktif dan dinamis. Jika sebelumnya pembelajaran cenderung satu arah, melalui model PjBL siswa menjadi subjek utama dalam proses pembelajaran.

Di sinilah terjadi perubahan paradigma guru. Dalam pendekatan konvensional, guru sering menjadi pusat informasi tunggal. Namun dalam model Project-Based Learning, guru berubah menjadi fasilitator yang mendampingi proses eksplorasi siswa.

Guru hadir bukan untuk mendominasi, tetapi membantu siswa menemukan solusi ketika menghadapi kebuntuan dalam proyek mereka.

Secara teoritis, hasil penelitian ini diperkuat oleh teori Project-Based Learning yang menekankan pembelajaran kontekstual berbasis pengalaman nyata. Pendekatan ini sejalan dengan teori konstruktivisme yang menyatakan bahwa pengetahuan akan lebih bermakna ketika dibangun melalui pengalaman langsung dan interaksi sosial.

Pendekatan tersebut juga memperlihatkan pentingnya experiential learning, yakni proses belajar melalui pengalaman langsung yang membuat nilai-nilai sosial lebih mudah terinternalisasi pada siswa.

Selain itu, penelitian ini menggunakan teori kreativitas yang menekankan aspek kelancaran berpikir, keluwesan, orisinalitas, dan elaborasi. Menariknya, seluruh teori tersebut bertemu dalam filosofi urip iku urup.

Mahasiswa pascasarjana tersebut menemukan bahwa ketika siswa diberi ruang untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan sekolah, kesadaran sosial tumbuh secara alami.

Anak-anak mulai memiliki inisiatif merawat taman tanpa disuruh guru. Mereka saling mengingatkan untuk menjaga kebersihan sekolah. Bahkan muncul semangat gotong royong dan solidaritas yang lebih kuat dibanding sebelumnya. Di titik inilah pendidikan karakter tidak lagi menjadi slogan, tetapi menjadi perilaku nyata.

Di tengah meningkatnya individualisme dan budaya instan di era digital, sekolah menghadapi tantangan besar untuk membangun kembali budaya gotong royong dan kepedulian sosial pada anak-anak.

Menurut saya, hasil penelitian ini memberi pesan penting bagi dunia pendidikan Indonesia: sekolah seharusnya tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang untuk membentuk manusia yang mampu memberi manfaat bagi lingkungannya.

Penelitian mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang ini menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya lokal sebenarnya masih sangat relevan untuk menjawab tantangan pendidikan modern.

Karena itu, pendekatan serupa dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia dengan memanfaatkan kearifan lokal masing-masing sebagai fondasi pendidikan karakter. Pendidikan berbasis budaya lokal dapat menjadi alternatif penting di tengah tantangan degradasi karakter generasi digital.

Mungkin inilah makna terdalam pendidikan: bukan sekadar membuat anak menjadi pintar, tetapi membuat hidupnya mampu menjadi cahaya bagi orang lain.

Referensi Pilihan

  • Bell, S. (2010). Project-Based Learning for the 21st Century: Skills for the Future. The Clearing House.
  • Thomas, J. W. (2000). A Review of Research on Project-Based Learning. Autodesk Foundation.
  • Vygotsky, L. S. (2003). Educational Theory in Cultural Context. Cambridge University Press.
  • Torrance, E. P. (1995). Why Fly? A Philosophy of Creativity. Ablex Publishing.
  • Mulyasa, E. (2013). Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Kajian filosofi budaya Jawa tentang urip iku urup dan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.

Profil Penulis dan Peneliti

Dr. Aries Musnandar, M.Pd
Dosen Pascasarjana Universitas Islam Raden Rahmat Malang yang aktif meneliti bidang pendidikan Islam, kepemimpinan pendidikan, pendidikan karakter, dan integrasi nilai budaya dalam pembelajaran modern.

Ramadhan Al-Ayubi, S.Pd.I., M.Pd., Gr.
Guru PAI di SD Negeri 1 Pakisaji, ASN dengan NIP 199403082019031012, golongan III/b, sekaligus alumni mahasiswa MPAI Pascasarjana UNIRA Malang yang menaruh perhatian pada pengembangan pembelajaran berbasis proyek, pendidikan karakter, dan internalisasi kearifan lokal dalam ekosistem sekolah dasar.



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *






Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg