Oleh: Aries Musnandar dan Indri Suryani
Artikel ini ditulis oleh Aries Musnandar sebagai dosen pembimbing tesis dalam format berita populer bernuansa ilmiah untuk menyampaikan kepada masyarakat luas hasil penelitian tesis mahasiswa Magister PAI Pascasarjana Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang, Indri Suryani. Penelitian tersebut membahas strategi pencegahan bullying verbal melalui pembiasaan Bahasa Jawa Krama Inggil di sekolah dasar. Kajian ini menarik karena menawarkan pendekatan budaya dan pendidikan karakter sebagai solusi preventif terhadap meningkatnya kasus perundungan di lingkungan pendidikan.
Kasus bullying atau perundungan di dunia pendidikan Indonesia tampaknya tidak lagi dapat dianggap sebagai persoalan biasa. Data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024 terjadi 573 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan. Angka tersebut meningkat lebih dari 100 persen dibanding tahun sebelumnya. Jawa Timur bahkan menjadi provinsi dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 81 kasus.
Yang lebih memprihatinkan, sebagian besar kasus tersebut justru terjadi di lingkungan yang seharusnya menjadi ruang aman bagi pertumbuhan karakter anak: sekolah. Banyak anak mungkin pulang tanpa luka fisik, tetapi membawa luka psikologis akibat ejekan yang terus-menerus mereka terima dari teman sebaya. Sayangnya, bentuk kekerasan seperti ini sering dianggap sekadar candaan biasa.
Selama ini publik sering memandang bullying hanya dalam bentuk kekerasan fisik. Padahal, dalam banyak kasus—terutama pada jenjang sekolah dasar—bullying verbal justru jauh lebih dominan. Bentuknya dapat berupa ejekan, penghinaan, pemberian julukan buruk, candaan yang merendahkan, hingga ucapan kasar yang terus diulang.
Dampaknya pun tidak sederhana. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa korban bullying memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan emosional, kecemasan, depresi, penurunan rasa percaya diri, bahkan trauma psikologis jangka panjang.
Di tengah meningkatnya kasus bullying di lingkungan sekolah, berbagai solusi terus dicoba oleh lembaga pendidikan. Ada sekolah yang memperketat tata tertib, memanggil orang tua, hingga menjatuhkan hukuman tegas kepada pelaku. Namun pertanyaannya, apakah semua langkah tersebut benar-benar menyentuh akar persoalan?
Sebagai dosen pembimbing tesis, Aries Musnandar mendampingi Indri Suryani yang mencoba melihat persoalan bullying dari sudut pandang berbeda. Mahasiswa pascasarjana tersebut tertarik meneliti apakah budaya tutur yang santun dapat menjadi strategi preventif untuk mengurangi bullying verbal di sekolah dasar. Pertanyaan itulah yang kemudian membawanya melakukan penelitian di SD Negeri 1 Tajinan, Kabupaten Malang. Hasilnya cukup menarik.
Dari 27 siswa yang diamati, ditemukan bahwa sebelum program pembiasaan Bahasa Jawa Krama Inggil diterapkan, terdapat 19 siswa yang cukup sering terlibat bullying verbal. Bentuknya beragam, mulai dari mengejek teman, memberi julukan yang menyakitkan, mengolok-olok, hingga berbicara kasar dalam interaksi sehari-hari. Namun setelah sekolah menerapkan pembiasaan penggunaan Bahasa Jawa Krama Inggil dalam komunikasi sehari-hari, jumlah siswa yang terlibat bullying verbal turun drastis menjadi hanya lima siswa.
Bagi sebagian orang, hasil ini mungkin terlihat sederhana. Namun secara akademik, temuan tersebut justru menarik karena menunjukkan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga instrumen pembentukan karakter sosial.
Dalam kajian budaya Jawa, Bahasa Krama Inggil tidak sekadar dipahami sebagai tingkatan bahasa, tetapi bagian dari sistem unggah-ungguh atau tata penghormatan sosial. Penggunaannya menuntut seseorang berbicara dengan lebih halus, penuh penghormatan, dan mampu mengendalikan emosi ketika berinteraksi.
Penelitian Indri Suryani menemukan bahwa ketika siswa dibiasakan menggunakan Bahasa Jawa Krama Inggil, mereka secara tidak langsung juga belajar mengontrol ucapan, memilih diksi yang lebih santun, dan mengurangi kecenderungan menggunakan kata-kata kasar.
Di sinilah teori behaviorisme dan konstruktivisme sosial menjadi relevan. Dalam perspektif behaviorisme ala B. F. Skinner, perubahan perilaku dapat dibentuk melalui stimulus dan pembiasaan. Dalam konteks penelitian ini, pembiasaan berbicara menggunakan Bahasa Jawa Krama Inggil menjadi stimulus yang perlahan membentuk perilaku komunikasi siswa menjadi lebih santun.
Sementara dalam perspektif konstruktivisme sosial Lev Vygotsky, bahasa dan budaya memiliki peran besar dalam membentuk perilaku sosial manusia. Artinya, ketika budaya komunikasi di sekolah dibangun dengan nilai penghormatan dan kesantunan, maka interaksi sosial siswa pun ikut berubah menjadi lebih positif.
Menariknya, pendekatan ini tidak dilakukan melalui pola hukuman keras. Sekolah justru membangun kultur komunikasi yang lebih sehat melalui pembiasaan harian, keteladanan guru, dialog kelas, serta penggunaan bahasa yang lebih santun dalam interaksi sehari-hari.
Di sinilah letak pesan penting dari penelitian mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang ini. Pendidikan karakter tidak selalu harus lahir dari ceramah moral yang panjang atau hukuman disiplin yang keras. Kadang, ia justru tumbuh dari budaya sederhana yang dilakukan secara terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari. Inilah salah satu bentuk kearifan lokal yang dapat berperan sebagai solusi pendidikan.
Hari ini kita hidup di era digital ketika anak-anak sangat mudah terpapar bahasa kasar, ujaran kebencian, bahkan budaya saling merendahkan di media sosial. Karena itu, sekolah perlu menghadirkan kembali ruang-ruang pendidikan adab dan kesantunan. Bahasa yang santun bukan sekadar warisan budaya, melainkan cara membangun empati sosial.
Dan mungkin, di tengah maraknya program anti-bullying hari ini, kita perlu kembali menyadari satu hal sederhana: perubahan besar sering kali dimulai dari cara manusia berbicara kepada manusia lainnya.
“Kami menemukan bahwa ketika anak dibiasakan berbicara santun, mereka juga mulai belajar mengendalikan emosi dan menghargai temannya,” jelas Dr. Aries Musnandar.
“Bahasa ternyata bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga alat pembentukan karakter,” ujar Indri Suryani dalam hasil penelitiannya.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kearifan lokal Jawa masih sangat relevan sebagai strategi pendidikan karakter di era digital. Model pembiasaan bahasa santun seperti ini sebenarnya dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia dengan pendekatan budaya lokal masing-masing. Sunda, Bugis, Minang, Banjar, maupun budaya lain memiliki tradisi tutur santun yang dapat menjadi bagian dari pendidikan anti-bullying berbasis karakter.
Di tengah dunia pendidikan yang semakin modern, mungkin kita terlalu sibuk mengajarkan anak cara berbicara di depan teknologi, tetapi mulai lupa mengajarkan cara berbicara dengan hormat kepada sesama manusia. Sebab pada akhirnya, masa depan pendidikan bukan hanya ditentukan oleh seberapa cerdas anak berbicara, tetapi juga seberapa santun mereka menggunakan kata-kata.
Tidak ada komentar