Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Menjadi Ular atau Ulat: Ketika Integritas Ditukar dengan Tiket Kekuasaan

waktu baca 6 menit
Rabu, 11 Mar 2026 14:02 10 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

By Paman BED

Kadang godaan terbesar tidak datang dalam bentuk ancaman.
Ia datang dalam bentuk dukungan.

Bukan dalam amplop yang diselipkan diam-diam, tetapi dalam tawaran yang terdengar elegan—dibungkus bahasa yang halus, disampaikan dengan senyum ramah, bahkan terasa seperti bantuan.

Dan sering kali, di situlah awal dari sebuah keterikatan yang tak terlihat.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg


Ketika Nama Sedang Naik

Beberapa bulan sebelum Ramadhan tiba, namanya sedang berada di puncak.

Kepiawaiannya berbicara tentang dunia energi menjadikannya figur yang diperhitungkan. Media sosialnya hidup. Podcast, Instagram, hingga Twitter menempatkan namanya dalam algoritma yang bersahabat. Undangan diskusi berdatangan tanpa henti.

Ia menjadi salah satu suara yang sering diminta menjelaskan isu energi nasional.

Popularitas itu perlahan membuka pintu yang lebih besar.

Parlemen.

Beberapa pihak mulai melihatnya sebagai figur publik yang layak duduk di sana. Bukan sekadar analis yang mengomentari kebijakan, tetapi orang yang ikut menentukan arah kebijakan itu sendiri.

Di titik itulah panggung hidupnya berubah.

Dan seperti dalam banyak kisah manusia, justru ketika peluang terbuka lebar, ujian sering datang dengan cara yang paling halus.


Tawaran yang Terlalu Mudah

Awal Ramadhan mempertemukannya dengan seorang pengusaha tambang besar.

Pengusaha itu dikenal legal. Reputasinya di mata publik cukup baik. Ia bukan bagian dari wajah-wajah tambang liar yang sering menjadi keluhan masyarakat.

Pertemuan berlangsung santai.

Namun isi percakapannya tidak sederhana.

Pengusaha itu menawarkan sesuatu yang terdengar sangat menggiurkan: seluruh biaya pencalonannya sebagai anggota parlemen akan ditanggung.

Gratis.

Jika kalah—tidak perlu mengembalikan.
Jika menang—tetap tidak perlu mengembalikan.

Hanya ada satu catatan kecil.

Jika nanti ia duduk di parlemen, ia diminta “mendukung” kepentingan sang pengusaha.

Tidak ada kontrak tertulis.
Tidak ada dokumen resmi.

Hanya sebuah kesepahaman.

Namun justru di situlah persoalannya.

Karena sejak percakapan itu selesai, sebuah ikatan sebenarnya telah terbentuk. Sebuah janji yang tak tertulis—tetapi sangat mengikat.

Tanpa terasa, independensinya mulai tergadaikan.


Bisnis yang Dibungkus Rapi

Belakangan ia mulai memahami sesuatu yang lebih rumit.

Tambang liar yang selama ini banyak dikeluhkan masyarakat ternyata tidak sepenuhnya berdiri sendiri.

Sebagian justru menjadi pemasok tidak resmi bagi perusahaan tambang yang legal.

Mereka bekerja di wilayah abu-abu. Produksi mereka tidak tercatat. Biaya mereka jauh lebih rendah.

Hasil bumi itu kemudian dibeli oleh perusahaan resmi sebagai offtaker.

Alasannya sederhana:

Lebih murah.
Lebih efisien.

Sementara produksi resmi harus menanggung pajak, perizinan, biaya operasional, serta berbagai ongkos lain—termasuk pungutan tidak resmi yang sering membuat biaya produksi melonjak tinggi.

Ekonomi biaya tinggi.

Dalam situasi seperti itu, tambang liar tidak lagi sekadar pelanggaran hukum.

Ia berubah menjadi bagian dari rantai bisnis.

Bisnis yang tampak legal di permukaan ternyata berdiri di atas fondasi yang tidak sepenuhnya bersih.

Sebuah pengkhianatan yang dibungkus rapi.


Ramadhan sebagai Cermin

Di sinilah Ramadhan hadir.

Bukan sekadar bulan puasa.

Ramadhan sering menjadi cermin yang paling jujur bagi manusia. Ia memaksa seseorang berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia—lalu bertanya kepada dirinya sendiri:

Apakah jalan yang ditempuh benar?
Ataukah sekadar terlihat benar?

Kini ia berdiri di sebuah persimpangan.

Jika menerima tawaran itu, karier politiknya mungkin akan melesat.

Jika menolak, jalannya akan jauh lebih berat.

Namun hidup memang sering hanya memberi dua pilihan:
mudah tetapi mengikat, atau sulit tetapi merdeka.


Pergulatan di Sepuluh Malam Terakhir

Di titik itulah kegelisahan mulai tumbuh.

Dirinya mulai bimbang. Gelisah.

Sepuluh hari terakhir Ramadhan menjadi momentum yang terasa begitu tepat untuk melakukan kontemplasi diri—bertahajud, bertafakur, dan beri’tikaf dalam sunyi malam yang panjang.

Di saat itulah nuraninya menggeliat kuat.

Pergulatan batin itu tidak mudah. Di satu sisi terbentang jalan dunia yang hampir pasti—tinggal menunggu waktu untuk mewujudkannya menjadi anggota parlemen yang terhormat.

Namun di sisi lain, suara hati yang selama ini ia kenal tidak berhenti memanggilnya untuk kembali: tetap menjadi narasumber yang bebas, yang pada dasarnya lebih banyak membela dan berpihak kepada rakyat.

Pilihan itu kini terasa semakin jelas.

Pada akhir Ramadhan ini, ia sadar bahwa hidupnya sedang dihadapkan pada dua jalan: menjadi ular atau menjadi ulat.

Sebuah pilihan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan langkah krusial menuju masa depan yang hakiki—bukan masa depan dunia, melainkan masa depan di akhirat.

Sebab dunia ini, pada akhirnya, hanyalah panggung ujian.

Di penghujung malam-malam sepuluh hari terakhir itu, ia tak lagi mampu menahan gejolak hatinya.

Ia menangis tersedu-sedu.

Tidak malu.

Dalam doa yang panjang di sepertiga malam, ia beristighfar berkali-kali. Menyesali kekeliruan selama ini—ketika pujian masyarakat dan harum aroma dunia sempat membuainya.

Malam itu ia sadar, sesadar-sadarnya.

Ia bertaubat, setaubat-taubatnya.

Dan dalam keheningan itulah ia berjanji pada dirinya sendiri: tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Di hatinya kini hanya tersisa satu pilihan—mencari kebenaran yang hakiki dan tetap berjalan di jalan amar ma’ruf nahi munkar.


Ular atau Ulat

Ramadhan kali ini seperti menyodorkan dua metafora sederhana.

Ia bisa memilih menjadi ular.

Ular juga berpuasa. Ia juga mengganti kulitnya. Dari luar tampak baru.

Namun setelah kulit lama ditinggalkan, sifatnya tetap sama.

Tetap melata.
Tetap berbisa.

Atau ia bisa memilih menjadi ulat.

Ulat juga berpuasa. Ia berdiam dalam kepompong.

Namun proses itu bukan sekadar mengganti kulit.

Ia bermetamorfosis.

Dari makhluk yang merayap di daun, ia berubah menjadi kupu-kupu yang membantu penyerbukan bunga, membantu kehidupan tanaman, dan membantu keberlangsungan ekosistem.

Perubahan yang bukan sekadar tampilan.

Tetapi perubahan hakikat.


Kesalahan dan Jalan Kembali

Dalam Islam, manusia memang tidak dituntut menjadi makhluk tanpa salah.

Kesalahan adalah bagian dari sifat manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam pasti sering berbuat salah. Dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang banyak bertaubat.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Maknanya sederhana namun dalam.

Manusia boleh saja tergelincir.
Namun kemuliaannya ditentukan oleh bagaimana ia bangkit.

Al-Qur’an juga menggambarkan karakter orang beriman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 135:

“Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka… dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu.”

Ayat ini bukan hanya tentang dosa besar.

Ia berbicara tentang kesadaran—tentang kemampuan seseorang berhenti sebelum melangkah terlalu jauh ke jalan yang salah.


Persimpangan yang Sama

Kisah ini sebenarnya bukan hanya tentang seorang calon politisi.

Ia tentang kita semua.

Tentang tawaran-tawaran kecil dalam hidup yang tampak menguntungkan—tetapi diam-diam menukar kebebasan nurani.

Tentang keputusan-keputusan yang terlihat sepele, namun perlahan membentuk masa depan.

Ramadhan tidak selalu datang dalam bentuk ujian lapar dan haus.

Kadang ia datang dalam bentuk kesempatan.

Kesempatan untuk berkuasa.
Kesempatan untuk dipermudah.
Kesempatan untuk mengambil jalan pintas.


Integritas atau Kekuasaan

Pada akhirnya hidup selalu membawa manusia ke persimpangan antara kepentingan sesaat dan integritas jangka panjang.

Islam tidak menuntut manusia menjadi makhluk tanpa dosa.
Namun Islam menuntut keberanian untuk kembali ketika menyadari kesalahan.

Pilihan antara ular dan ulat pada hakikatnya adalah pilihan antara perubahan kosmetik dan perubahan hakiki.

Yang satu hanya mengganti kulit.
Yang lain benar-benar berubah.

Dan mungkin itulah hakikat Ramadhan: memberi kesempatan kepada manusia untuk menentukan, ia ingin menjadi apa setelah Ramadhan berlalu.

Karena pada akhirnya jabatan akan berakhir.
Karier akan selesai.
Popularitas akan memudar.

Namun pertanggungjawaban di hadapan Allah tidak pernah kedaluwarsa.

Sejarah tidak akan mencatat berapa besar biaya kampanye seseorang.

Sejarah hanya mencatat satu hal:

apakah ia menjual integritasnya—
atau menjaganya.


Referensi

  • Hadits Nabi ﷺ: “Kullu bani Adam khaththa’ wa khairul khaththa’in at-tawwabun”, riwayat Imam At-Tirmidzi dan Ibnu Majah.

  • Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 135.



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *






Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg