Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Nusantara dan Persia: Jejak Adab dalam Arah Pendidikan

waktu baca 4 menit
Senin, 4 Mei 2026 00:11 4 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Oleh: Aries Musnandar (Dosen UNIRA Malang) & Mehdi Soltanzadeh (Dosen UM Malaysia)

Di tengah berbagai upaya memajukan pendidikan—dari pembaruan kurikulum hingga digitalisasi pembelajaran—kita jarang berhenti untuk bertanya: ke mana arah pendidikan ini sesungguhnya dibawa? Apakah ia sekadar mencerdaskan, atau juga membentuk manusia yang beradab?

Dari Nusantara hingga Persia, pendidikan dalam tradisi besar peradaban tidak pernah sekadar urusan pengetahuan. Ia tumbuh sebagai proses pembentukan manusia—yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab. Dalam khazanah Nusantara, nilai-nilai seperti budi, bahasa, dan hormat membentuk fondasi etika yang hidup dalam keseharian. Sementara dalam tradisi Persia, pendidikan berkembang sebagai jalan menuju kesempurnaan moral melalui perpaduan akal, jiwa, dan tindakan. Keduanya, meski lahir dari konteks yang berbeda, bertemu pada satu titik yang sama: bahwa adab adalah inti dari pendidikan itu sendiri.

Dalam tradisi Nusantara, adab tidak diajarkan sebagai konsep abstrak, melainkan dihidupkan melalui praktik sehari-hari. Ia hadir dalam cara berbicara, dalam sikap terhadap orang tua dan guru, serta dalam kesadaran akan posisi diri di tengah masyarakat. Nilai-nilai seperti budi pekerti dan hormat bukan sekadar norma sosial, tetapi menjadi kerangka etis yang menuntun perilaku individu. Bahasa pun memainkan peran penting—bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai cermin adab itu sendiri.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Praktik pendidikan di lingkungan keluarga, pesantren, dan madrasah menegaskan bahwa pembelajaran tidak berhenti pada penguasaan ilmu. Keteladanan guru, kedisiplinan, serta penghormatan terhadap ilmu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses pendidikan. Dalam konteks ini, pendidikan adalah proses menjadi, bukan sekadar mengetahui.

Sementara itu, dalam tradisi Persia, konsep adab berkembang dalam kerangka intelektual yang lebih sistematis. Para pemikir seperti Imam Ghazali dan Nasir al-Din Tusi memandang pendidikan (tarbiyah) sebagai proses bertahap menuju kesempurnaan moral. Tujuan akhirnya bukan hanya kecerdasan, tetapi harmoni antara akal, emosi, dan tindakan.

Melalui karya-karya sastra dan filsafat—dari Saadi Shirazi hingga Rumi—nilai-nilai adab ditransmisikan secara mendalam dan reflektif. Pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang belajar formal, tetapi juga melalui puisi, hikmah, dan perenungan. Bahasa Persia menjadi medium penting dalam menanamkan kesadaran etis yang halus namun kuat.

Meskipun memiliki pendekatan yang berbeda, Nusantara dan Persia menunjukkan kesamaan yang mendasar: pendidikan selalu terkait dengan pembentukan karakter. Ilmu pengetahuan tidak berdiri sendiri, melainkan harus disertai dengan kemampuan untuk menempatkannya secara bijak dalam kehidupan.

Di tengah perkembangan pendidikan modern yang semakin menekankan capaian akademik dan keterampilan teknis, refleksi terhadap dimensi etik ini menjadi semakin penting. Bukan karena pendidikan kita kekurangan kemajuan, tetapi karena setiap kemajuan membutuhkan arah. Tanpa fondasi adab, ilmu berisiko kehilangan orientasinya.

Menghidupkan kembali adab dalam pendidikan tidak harus dimaknai sebagai kembali ke masa lalu. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk memastikan bahwa kemajuan yang kita capai tetap berpijak pada nilai. Adab dapat dihadirkan dalam bentuk sederhana: melalui keteladanan, budaya saling menghormati, penggunaan bahasa yang santun, serta kesadaran bahwa ilmu membawa tanggung jawab sosial.

Tokoh-tokoh seperti Hamzah Fansuri, Raja Ali Haji, dan Saadi Shirazi memberikan teladan bahwa pendidikan sejati adalah pertemuan antara pengetahuan, etika, dan spiritualitas. Warisan mereka menunjukkan bahwa peradaban besar tidak hanya dibangun oleh kecerdasan, tetapi juga oleh kedalaman adab. Dalam konteks inilah, refleksi atas arah pendidikan menjadi semakin relevan untuk terus dihadirkan.

Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya perkara memperluas pengetahuan, melainkan membentuk jati diri manusia. Ia menentukan bukan sekadar apa yang kita pahami, tetapi bagaimana kita bersikap dan mengambil peran dalam kehidupan. Dalam kerangka ini, adab tidak dapat diposisikan sebagai pelengkap, melainkan sebagai fondasi utama yang memberi arah, makna, dan batas etis bagi setiap proses pendidikan—agar seluruh capaian yang diraih benar-benar bermuara pada kemaslahatan bersama.

Di tengah arus perubahan yang kian deras, pendidikan kerap dihadapkan pada pilihan antara mengejar kemajuan dan merawat nilai. Namun dari Nusantara hingga Persia, sejarah seakan berbisik bahwa keduanya tidak perlu dipertentangkan. Ilmu dapat tumbuh tinggi, selama akarnya tertanam dalam adab. Dan dari sanalah, pendidikan menemukan bukan hanya arah, tetapi juga maknanya.

Profil Penulis:

1. Dr. Aries Musnandar.
Dosen pascasarjana UNIRA Malang dan pemerhati pengembangan SDM. Email: [email protected] | WA/HP: +62811362625

2. Dr. Mehdi Soltanzadeh. Ilmuwan Sejarah Iran, Pensyarah Kanan (Senior Lecturer) di Universiti Malaya, Malaysia. Email: [email protected] | Tel: +60196500820



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *






Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg