Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Pengamat: Seruan Dasco untuk melepaskan dolar bukan hanya sekedar alasan ekonomi, ada pesan geopolitik yang besar

waktu baca 4 menit
Jumat, 12 Jun 2026 13:46 0 Catra

Pernyataan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang mengimbau masyarakat dan investor melepas tabungan dolar AS karena rupiah yang diprediksi menguat dalam waktu dekat memunculkan berbagai spekulasi di kalangan pelaku pasar. Di balik pernyataan tersebut, Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah melihat ada pesan strategis yang jauh lebih besar dari sekedar komentar ekonomi biasa.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Menurut Amir Hamzah, pernyataan Dasco tidak bisa diartikan sebagai optimisme belaka terhadap nilai tukar rupiah. Dari sisi intelijen ekonomi, pernyataan ini merupakan bagian dari upaya membangun ekspektasi pasar yang positif dan mengembalikan kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah.

“Dalam dunia intelijen ekonomi, persepsi seringkali sama pentingnya dengan kenyataan. Ketika pejabat tinggi negara memberikan sinyal kuat bahwa rupiah akan menguat, maka yang dikembangkan bukan hanya kebijakan ekonomi saja, tapi juga psikologi pasar,” kata Amir Hamzah dalam keterangannya kepada wartawan, Jumat (12/6/2026).

Ia menjelaskan, pasar keuangan modern bergerak berdasarkan ekspektasi. Ketika pelaku pasar yakin bahwa suatu mata uang akan menguat, mereka cenderung mengurangi kepemilikan mata uang asing dan kembali ke instrumen berbasis mata uang domestik.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Amir menilai dinamika nilai tukar rupiah dan dolar saat ini harus dilihat dalam konteks geopolitik global yang lebih luas. Menurutnya, dunia sedang memasuki fase transisi perekonomian internasional yang ditandai dengan melemahnya dominasi tunggal dolar AS dan meningkatnya upaya berbagai negara untuk memperkuat mata uang nasionalnya.

“Fenomena dedolarisasi terjadi di banyak kawasan. Negara-negara BRICS, Timur Tengah, dan Asia mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar dalam transaksi perdagangan internasional. Indonesia tentunya tidak kevakuman dengan perubahan geopolitik tersebut,” ujarnya.

Menurut Amir, penguatan rupiah tidak hanya terkait faktor domestik saja, namun juga dipengaruhi oleh perubahan konfigurasi kekuatan perekonomian global. Jika pemerintah mampu menjaga stabilitas fiskal, neraca perdagangan, dan cadangan devisa, maka posisi rupiah berpotensi menguat dalam jangka menengah.

Dalam analisis intelijen politik, Amir melihat pernyataan Dasco juga memiliki dimensi politik yang menarik. Sebagai sosok yang dikenal dekat dengan Presiden Prabowo Subianto, pernyataan Dasco dinilai mencerminkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap langkah yang disiapkan pemerintah.

Biasanya pejabat publik tidak akan mempertaruhkan reputasinya dengan memberikan pernyataan yang sangat spesifik tanpa informasi tertentu. Ketika Dasco berbicara dengan tingkat kepercayaan seperti itu, tentu publik akan mengaitkannya dengan informasi strategis yang sudah ada di meja pemerintah, ujarnya.

Meski demikian, Amir mengingatkan pasar tidak hanya bergerak berdasarkan pernyataan politik. Pasar akan menunggu realisasi kebijakan yang benar-benar mampu memperkuat fundamental perekonomian nasional.

Amir menilai Indonesia saat ini menghadapi tantangan global yang tidak mudah. Ketidakpastian suku bunga di Amerika Serikat, konflik geopolitik di berbagai kawasan, dan perlambatan ekonomi dunia menjadi faktor yang terus memberikan tekanan pada pasar negara berkembang.

Dalam kondisi seperti itu, menurutnya, pemerintah perlu melakukan apa yang dalam terminologi intelijen disebut “operasi kepercayaan”.

“Negara harus memastikan masyarakat, investor, dan pelaku usaha yakin bahwa pemerintah mampu mengendalikan situasi. Ketika kepercayaan tumbuh, maka tekanan spekulatif terhadap rupiah akan berkurang,” ujarnya.

Ia menambahkan, perang ekonomi modern tidak lagi hanya dilakukan melalui tarif atau sanksi ekonomi. Pertarungan juga terjadi di bidang persepsi, informasi, dan psikologi pasar.

Menurut Amir Hamzah, pekan depan menjadi momen penting untuk menguji efektivitas sinyal yang disampaikan Dasco. Jika strategi pemerintah yang dimaksud benar-benar mampu mendorong penguatan rupiah, maka kredibilitas pemerintah di mata pasar akan meningkat signifikan.

Sebaliknya, jika tidak terlihat langkah nyata, pasar bisa saja merespons berbeda dan meragukan optimisme yang dibangun.

“Pasar selalu menghormati data dan kebijakan yang riil. Pernyataan Dasco telah meningkatkan ekspektasi masyarakat. Sekarang yang kita tunggu adalah bagaimana pemerintah membuktikan ekspektasi tersebut melalui langkah nyata,” ujarnya.

Amir Hamzah menyimpulkan, pernyataan Dasco bukan sekadar imbauan menjual dolar. Pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai pesan strategis bahwa pemerintah dirasa memiliki instrumen dan kebijakan yang memadai untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional.

Dari perspektif intelijen geopolitik, sinyal ini menunjukkan upaya negara untuk memperkuat kepercayaan pasar, mengurangi tekanan spekulatif terhadap rupiah, serta mempertegas posisi Indonesia di tengah perubahan lanskap ekonomi global yang semakin kompetitif.

“Yang dipertaruhkan bukan hanya nilai tukar rupiah saja, tapi juga kepercayaan terhadap arah kebijakan perekonomian nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Karena dalam geopolitik modern, kepercayaan adalah mata uang yang nilainya bahkan bisa lebih besar dari dolar itu sendiri,” pungkas Amir Hamzah.

Simak berita dan artikel lainnya di Google Berita



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg