KERICUHAN DI STADION LUKAS ENEMBE: EVALUASI TOTAL TATA KELOLA SEPAKBOLA, APH WAJIB BONGKAR MAFIA BOLA YANG DIBACKUP PEJABAT NEGARA
SORONG – Peristiwa kelam yang berujung kericuhan, pengrusakan fasilitas umum, hingga pembakaran kendaraan di Stadion Lukas Enembe Jayapura pasca laga Play Off Liga II antara Persipura Jayapura melawan Adhiyaksa, harus menjadi titik balik perbaikan besar sepak bola Indonesia. Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Papua Barat Daya, Yanto Ijie, ST, menuntut agar kasus ini dijadikan evaluasi nasional sekaligus pintu masuk untuk membongkar habis praktik kotor mafia bola yang diduga kuat melibatkan kalangan pejabat negara.
Pernyataan tegas ini disampaikan Yanto Ijie usai memimpin kegiatan Nonton Bareng (Nobar) masyarakat di kawasan Pantai Reklamasi Tembok Berlin, Kota Sorong, Jumat (08/05/2026).
Menurut Yanto Ijie, apa yang terjadi di Jayapura bukan sekadar ledakan emosi suporter semata. Di balik kemarahan masyarakat, ada masalah mendasar yang telah lama membusuk: tata kelola yang buruk, ketidakadilan di lapangan, dan praktik permainan yang tidak wajar yang diduga diatur oleh jaringan mafia, bahkan didukung oleh mereka yang memegang jabatan publik.
“Aparat Penegak Hukum dan PSSI tidak boleh diam saja. Mereka harus turun tangan, menyelidiki, dan membongkar habis jaringan mafia bola yang merajalela. Kita dengar banyak klub dimiliki atau dikendalikan oleh pejabat negara. Ini konflik kepentingan yang jelas merusak kompetisi. Kalau pemiliknya penguasa, bagaimana mungkin ada keadilan? Ini yang harus dibongkar sekarang juga,” tegas Yanto Ijie dengan nada tinggi.
Ia menyoroti keputusan‑keputusan wasit yang dinilai janggal, strategi yang tidak masuk akal, hingga penempatan ofisial pertandingan yang dianggap memihak. Semua hal itu, kata dia, menjadi pemicu utama yang menguji kesabaran suporter hingga meledak menjadi kericuhan.
“Sepak bola Indonesia harus dibangun dengan profesionalisme, kualitas, dan di atas segalanya: FAIR PLAY. Bukan hanya pemain dan klub yang dievaluasi, tapi mulai dari penyelenggara, ofisial, wasit, pelatih, hingga mereka yang duduk di kursi kekuasaan. Semua harus diperiksa. Jangan sampai kompetisi kita jadi bahan tertawaan dunia internasional karena kotor dan dikuasai kepentingan pribadi,” tambahnya.
Yanto Ijie menegaskan, meskipun tindakan anarkis dan perusakan yang terjadi tidak dapat dibenarkan dan harus diproses hukum, namun akar masalah yang memicu kemarahan tersebut tidak boleh ditutup‑tutupi. Suporter marah bukan tanpa alasan, mereka marah karena merasa identitas, harga diri, dan rasa keadilan mereka diinjak‑injak di atas lapangan hijau.
“Peristiwa di Jayapura ini harus menjadi evaluasi besar nasional. Pemerintah Pusat dan PSSI harus berani membenahi total sistem kompetisi. Harus bersih, adil, dan transparan. Jangan biarkan sepak bola Indonesia hancur di tangan mafia dan pejabat yang hanya cari untung sendiri. Kita selamatkan olahraga kebanggaan rakyat ini demi masa depan anak bangsa,” pungkas Yanto Ijie.
Saatnya membongkar semua kepentingan gelap, saatnya mengusir mafia bola, dan saatnya mengembalikan kehormatan sepak bola Indonesia di mata dunia.
Tidak ada komentar