Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

MONEY, POWER & BLIND FAITH ADALAH RESEP BENCANA

waktu baca 2 menit
Jumat, 12 Jun 2026 15:32 1 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Yus Dharman,SH.,MM ,M.Kn
Advokat/Ketua Dewan Pengawas FAPRI (Forum Advokat & Pengacara Republik Indonesia)

Judul diatas sengaja saya tulis dalam bahasa Inggris agar tidak terlalu panjang, inti nya, uang, kekuasaan tanpa batas yang tidak di kontrol dan fanatisme atau keyakinan buta” merupakan gabungan sempurna yang bisa bikin orang lupa daratan berpotensi bisa berbuat apa saja sekehendak hati nya, puncaknya nya ke sewenang-wenangan, tidak tau kalau dia tidak tau atau tidak mau tau.

Tak dapat dipungkiri, uang memang dibutuhkan oleh semua orang namun kalau tujuan hidup kita hanya terfokus pada uang tentu bisa bikin gelap mata, Orang rela ngelanggar norma, kaidah,etika dan aturan demi uang.

Begitu pun kekuasaan adalah seni mempengaruhi orang lain agar mengikuti keinginan sang penguasa. Namun, jika tanpa batas serta tidak dikontrol dengan ketat, akan cenderung dislewingkan.
Seperti Kata Lord Acton: “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely”. Merupaka Quotes yang tidak perlu di perdebatkan lagi.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Lebih-lebih ditambah fanatisme terhadap aliran kepercayaan tertentu, tokoh agama, tokoh politik, ideologi, doktrin dsb., tanpa analisis atau berpikir kritis, akan sangat berbahaya, karena nga pake logika, orang bisa ngebela sesuatu yang salah, ujungnya berakhir dengan kekacauan dan penyesalan.

Siapa yang tidak ingin memiliki banyak uang ditambah kekuasaan mutlak ?
Namun jika tanpa rasionalitas, iman, dan pengawasan yang ketat, merupakan kombinasi sempurna terhadap penindasan dan penjajahan.

Montesqiue menciptakan teori Demokrasi awalnya untuk memisahkan kekuasaan Executif, Yudikatif dan Legislatif, di anggap merupakan sistem ideal bagi masyarakat suatu bangsa dalam memilih pemimpin yang sesuai dengan hati nurani nya, namun begitu ketiga pilar tersebut terkontaminasi dengan masuk nya para pedagang yang bermain dua kaki yang dikenal dengan nama oligarki, justru kebalikan nya, ke tiga pilar bukan nya berpisah srta salung mengawasi, justru bersekutu membuat koalisi saling dukung satu sama lain,

Sampai di sini kita patut merenung bersama, apakah Demokrasi masih cocok diterapkan di masyarakat yang mayoritas masih hidup miskin dan kurang terdidik seperti Indonesia?



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg