Aktivis 98 sekaligus pakar kelautan, Yulian Paonganan atau akrab disapa Ongen, melontarkan kritik keras terhadap aksi mahasiswa yang memprotes kenaikan harga BBM Pertamax nonsubsidi. Menurutnya, demonstrasi tersebut menunjukkan adanya pergeseran orientasi gerakan mahasiswa dari membela rakyat kecil menjadi membela kepentingan kelompok yang mampu secara ekonomi.
Ongen yang dikenal sebagai aktivis yang merasakan langsung dinamika perjuangan politik dan gerakan mahasiswa, menilai masyarakat perlu melihat isu kenaikan harga BBM secara objektif. Ditegaskannya, yang mengalami kenaikan adalah Pertamax yang merupakan bahan bakar non-subsidi, sedangkan bahan bakar bersubsidi yang digunakan mayoritas masyarakat kecil yakni Pertalite tidak mengalami kenaikan harga.
Menurut Ongen, fakta tersebut harus menjadi pertimbangan utama sebelum mahasiswa turun ke jalan. Ia mempertanyakan mengapa mahasiswa memilih memperjuangkan penurunan harga Pertamax, padahal masyarakat berpenghasilan rendah yang selama ini menggunakan Pertalite tetap mendapat perlindungan dari pemerintah.
“Yang naik adalah Pertamax, BBM non-subsidi. Yang dipakai rakyat kecil, Pertalite, tidak bertambah. Kalau mahasiswa berdemonstrasi karena Pertamax naik, lalu siapa sebenarnya yang dibela?” kata Ongen dalam keterangannya kepada wartawan, Jumat (12/6/2026).
Dalam pandangan Ongen, gerakan mahasiswa pada tahun 1990-an memiliki karakter yang berbeda dengan beberapa gerakan mahasiswa saat ini. Ia mengingatkan, ketika gelombang reformasi bergulir, mahasiswa turun ke jalan karena permasalahan yang secara langsung memberikan tekanan pada kehidupan masyarakat luas, seperti krisis ekonomi, melonjaknya harga kebutuhan pokok, pengangguran, dan ketidakadilan sosial.
Ongen yang kerap bercerita tentang sejarah gerakan reformasi menilai perjuangan mahasiswa saat itu berorientasi pada kepentingan rakyat banyak, bukan kelompok tertentu. Sebelumnya, ia juga mengingatkan bahwa Reformasi 1998 merupakan sebuah proses panjang yang lahir dari keresahan sosial yang meluas di masyarakat.
Oleh karena itu, dia mempertanyakan relevansi aksi demonstrasi yang fokus pada kenaikan harga BBM nonsubsidi.
“Dulu kita mahasiswa yang turun ke jalan membela rakyat. Sekarang kok ada mahasiswa yang mau berdemonstrasi membela BBM yang banyak digunakan oleh orang mampu? Ini yang perlu dijelaskan ke masyarakat,” tuturnya.
Pernyataan Ongen muncul di tengah polemik kenaikan harga Pertamax yang resmi menjalani penyesuaian harga menjadi Rp 16.250 per liter. Pemerintah menegaskan Pertamax merupakan bahan bakar non-subsidi sehingga penetapan harganya mengikuti mekanisme pasar, termasuk pengaruh harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.
Sementara itu, pemerintah memastikan harga Pertalite, Biosolar, dan LPG subsidi 3 kilogram tidak mengalami perubahan. Kebijakan ini disebut sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat berpenghasilan rendah di tengah fluktuasi harga energi global.
Menteri ESDM menyatakan kenaikan tersebut hanya berlaku untuk BBM nonsubsidi, sedangkan harga komoditas energi yang dibutuhkan masyarakat luas tidak berubah.
Bagi Ongen, mahasiswa mempunyai posisi strategis sebagai kelompok intelektual yang harus berpihak pada kelompok paling rentan di masyarakat. Karena itu, dia mengingatkan para tenaga gerakan mahasiswa untuk tidak terseret ke isu-isu yang menurutnya berdampak lebih besar pada kelompok pengguna BBM nonsubsidi.
Ia meyakini masih banyak permasalahan lain yang lebih mendesak untuk diperjuangkan, seperti pengangguran, akses terhadap pendidikan, kesejahteraan petani dan nelayan, serta perlindungan masyarakat miskin di tengah tantangan perekonomian global.
Menurut Ongen, mahasiswa perlu memastikan bahwa setiap gerakan yang mereka lakukan benar-benar mewakili kepentingan masyarakat luas. Jika tidak, maka akan muncul persepsi bahwa demonstrasi hanyalah alat untuk memperjuangkan kepentingan kelompok tertentu.
“Kalau yang diperjuangkan rakyat kecil tentu semua mendukung. Tapi kalau yang diperjuangkan adalah BBM nonsubsidi yang pengguna utamanya adalah kalangan menengah ke atas, maka masyarakat berhak bertanya, mahasiswa yang membela siapa?” dia menekankan.
Tidak ada komentar