Iklan
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

PSI Dorong Jokowi Umumkan “Cerai Politik” dari PDIP, Konflik Lama Kian Terbuka di Depan Publik

waktu baca 2 menit
Senin, 1 Jun 2026 11:53 6 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

JAKARTA – FusilatNews.- Hubungan antara mantan Presiden Joko Widodo dan PDI Perjuangan tampaknya semakin sulit diselamatkan. Di tengah rencana Jokowi melakukan perjalanan keliling Indonesia, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) justru mendorong mantan kepala negara itu untuk menyampaikan secara terbuka kepada masyarakat bahwa dirinya sudah tidak lagi menjadi bagian dari PDIP.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa keretakan hubungan antara Jokowi dan partai yang pernah mengusungnya selama dua periode bukan lagi sekadar isu internal, melainkan telah berubah menjadi realitas politik yang dipertontonkan di ruang publik.

PSI menilai penyampaian sikap secara terbuka diperlukan agar tidak menimbulkan tafsir berbeda di tengah masyarakat. Terlebih, selama bertahun-tahun nama Jokowi dan PDIP nyaris tak dapat dipisahkan dalam sejarah politik nasional. Namun dinamika politik pasca Pilpres 2024 telah mengubah peta hubungan keduanya secara drastis.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Retaknya hubungan tersebut bermula ketika Jokowi dianggap mengambil posisi politik yang berbeda dengan garis perjuangan PDIP menjelang Pilpres 2024. Dukungan politik yang mengarah kepada pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka memunculkan ketegangan serius di tubuh partai berlambang banteng itu.

Situasi semakin memanas setelah PDIP secara terbuka menyatakan bahwa Jokowi dan Gibran tidak lagi menjadi bagian dari partai tersebut. Pernyataan itu menjadi penanda resmi berakhirnya hubungan politik yang selama lebih dari satu dekade menjadi fondasi utama kekuatan elektoral Jokowi.

Dorongan PSI agar Jokowi menyampaikan status politiknya saat berkeliling Indonesia juga dibaca banyak kalangan sebagai sinyal bahwa partai yang kini dipimpin Kaesang Pangarep ingin memperjelas posisi mantan presiden tersebut di tengah konfigurasi politik baru pasca-Pemilu 2024. PSI sendiri selama ini dikenal sebagai partai yang berada di lingkaran politik keluarga Jokowi dan menjadi bagian dari koalisi pendukung pemerintahan saat ini.

Pengamat menilai, jika Jokowi benar-benar menyampaikan secara terbuka bahwa dirinya tidak lagi bersama PDIP dalam setiap kunjungan ke daerah, maka hal itu akan menjadi babak baru dalam sejarah hubungan keduanya. Sebab untuk pertama kalinya, pemisahan politik antara Jokowi dan partai yang membesarkan namanya tidak lagi berlangsung melalui sinyal-sinyal politik, melainkan diumumkan langsung kepada rakyat.

Di sisi lain, langkah tersebut berpotensi memperdalam jarak psikologis antara basis pemilih Jokowi dan massa tradisional PDIP yang selama ini menjadi salah satu kekuatan utama partai. Konflik yang sebelumnya berada di level elite dapat berubah menjadi pertarungan pengaruh di akar rumput menjelang kontestasi politik berikutnya.

Dengan demikian, perjalanan keliling Indonesia yang direncanakan Jokowi tidak hanya akan menjadi agenda silaturahmi politik biasa. Di baliknya, tersimpan kemungkinan lahirnya deklarasi simbolik yang menegaskan bahwa hubungan Jokowi dan PDIP benar-benar telah berakhir, bukan sekadar mengalami keretakan sementara.



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg